Wamenlu Mahendra Siregar: Konflik Rusia-Ukraina Berpotensi Picu Deglobalisasi

Kompas.com - 07/04/2022, 21:30 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengatakan, konflik Rusia dan Ukraina dalam jangka menengah-panjang berpotensi memicu deglobalisasi dimana negara-negara dunia tidak lagi mengandalkan rantai pasok dunia yang sebelumnya dianggap efisien.

Menurutnya hal itu didorong karena sanksi yang dikenakan pada Rusia saat ini membuat negara-negara di dunia berfikir tentang potensi mereka terkena sanksi yang serupa di masa depan yang berdampak pada ketersediaan pangan dan energi.

Baca juga: Profil Mahendra Siregar, Wamenlu yang Ditetapkan Jadi Ketua OJK 2022-2027

"Konflik Rusia dan Ukraina dalam jangka menengah-panjang berpotensi memicu deglobalisasi dimana negara-negara dunia tidak lagi mengandalkan rantai pasok dunia. Dalam konteks itu tentu masing-masing negara akan melihat kepada kemampuan secara nasional untuk melakukan proses produksi pangan itu sendiri, baik di dalam negeri maupun di kawasan," ujar Mahendra dalam diskusi virtual Konflik-Rusia Ukraina, Kamis (7/4/2022).

Tak hanya itu, Mahendra mengatakan, konflik ini turut berpengaruh terhadap aktivitas ekspor dan impor Indonesia dengan kedua negara tersebut.

Baca juga: Perebutkan Kursi Ketua Dewan Komisioner OJK, Ini Program Kerja yang Disiapkan Mahendra Siregar dan Darwin Cyril

Memang diakuinya, nilai perdagangan Indonesia dengan kedua negara tersebut hanya 2 persen dari total perdagangan Indonesia.

"Impor terbesar dari kedua negara tersebut adalah gandum yang mencapai nilai hampir 1 miliar dollar AS terutama Ukraina dan bahan baku pupuk khususnya Rusia dan Belarus yang terkena sanksi. Ini yang akan mempengaruhi secara langsung," katanya.

Baca juga: Mahendra Siregar Ditetapkan Jadi Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara Jadi Wakil Ketua

Kesulitan impor gandum dan bahan baku pupuk serta kesulitan transaksi keuangan dengan Rusia, diperkirakan akan berdampak cukup signifikan terhadap ketersediaan beberapa komoditas di Indonesia.

"Sehingga pemerintah saat ini bekerja sama dengan kalangan pelaku usaha mencoba memitigasi kemungkinan sasaran pasar baru di luar yang terdampak ini secara langsung," ungkapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.