Harga Minyak Dunia Kian Merosot, Ini Pemicunya

Kompas.com - 11/04/2022, 10:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan pelemahan dipicu kenaikan kasus Covid-19 yang semakin memburuk di China. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran turunnya permintaan minyak mentah dari negara tersebut.

Mengutip Bloomberg Senin (11/4/2022), pada pukul 8.30 WIB harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak Juni 2022 turun 1,76 persen menjadi di level 100,97 dollar AS per barrel.

Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Mei 2022 turun 1,83 persen ke level 96,46 dollar AS per barrel.

Baca juga: BLT Minyak Goreng Cair Pekan Ini, Simak Cara Cek Penerimanya

Penyebaran Covid-19 terus meningkat di China, sehingga pihak otoritas negara tersebut melakukan lockdown di sejumlah kota, termasuk Shanghai. Peningkatan kasus di Shanghai mencapai 26.000 kasus baru pada Minggu kemarin, membuat belum adanya kejelasan kapan pembatasan akan dicabut.

Shanghai merupakan kota pusat bisnis dengan sekitar 26 juta penduduk dan menyumbang sekitar 4 persen dari konsumsi minyak China. Adapun China merupakan negara importir minyak mentah terbesar di dunia.

“Sepertinya tidak ada akhir yang terlihat untuk penguncian saat ini, dan jelas semakin lama ini berlangsung, semakin memukul permintaan minyak (dari China),” ujar Warren Patterson, Kepala Strategi Komoditas ING Groep NV di Singapura.

Pasar minyak mentah dunia mengalami volatilitas selama berminggu-minggu. Harga sempat meambung setelah invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina pada Februari lalu, membuat kekhawatiran akan pasokan minyak dunia yang semakin mengetat.

Sejumlah sanksi yang diberikan negara-negara Barat terhadap Rusia pun telah membuat perdagangan minyak negara yang dipimpin Vladimir Putin itu terganggu.

Rusia merupakan pengekspor minyak mentah terbesar ke-2 di dunia dengan kontribusi 7 persen dari total minyak global. Sanksi energi menggangu perdagangan minyak Rusia sekitar 4-5 juta barrel per hari di pasar global.

Namun kini, kondisi penyebaran Omicron di China, dan rencana negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) yang akan melepaskan minyak dari cadangan strategis, membuat harga komoditas ini kian tergerus.

Negara-negara anggota IEA akan melepaskan 120 juta barrel minyak dari cadangan strategis, termasuk 60 juta barrel dari Amerika Serikat. Komitmen AS itu merupakan bagian dari rencana untuk melepaskan satu juta barel per hari selama 6 bulan ke depan dengan total kasar 180 juta barel.

Jika ini terealisasi, maka menjadi kedua kalinya IEA melepas cadangan di tahun ini, sekaligus secara efektif meningkatkan pasokan di seluruh dunia sekitar 2 juta barel per hari setidaknya selama dua bulan ke depan.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Semakin Tergerus

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Bloomberg
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.