KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Batu Sandungan Pengembangan Pribadi

Kompas.com - 21/05/2022, 08:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BANYAK pandangan yang berfokus pada kekuatan seseorang sebagai resep jitu kesuksesan seorang pemimpin. Namun, sebagaimana kita sadar, manusia memiliki kekuatan dan kelemahan.

Adakah kita bertanya kepada mereka yang sukses, bagaimana mereka mengatasi kelemahannya? Apakah mereka sadar akan kelemahannya atau malah memandang kelemahannya sebagai sesuatu yang ringan, bahkan juga sesekali menguntungkan?

Pernah seorang pemimpin berkelakar, “Saya memang kasar. Sebab, kadang anak buah perlu dikasari, baru jalan.” Ia pun membawa kekasarannya sepanjang kariernya. Bahkan, hal itu mungkin menjadi bentuk kekuatannya untuk mencapai kesuksesan dan termasuk dalam komponen resep suksesnya.

Sejauh apa kekasaran itu dapat terus ia manfaatkan bagi kesuksesannya? Apakah hal ini akan bermanfaat?

Sayangnya, banyak pemimpin mengalami kesulitan dalam menemukan kelemahannya, apalagi ketika ia sedang merasakan kesuksesan. Semakin tinggi posisi seseorang dan luas rentang pengaruh yang dimilikinya, maka semakin sulit ia mendapat masukan obyektif mengenai kelemahannya. Akan lebih banyak individu yang sibuk memuji-mujinya dan feeding their ego, ketimbang yang mau memberi masukan apa adanya.

Hogan Assessment Team yang dikepalai oleh Robert dan Joyce Hogan pernah menyusun daftar karakter yang mereka sebut sebagai sisi gelap dari kepribadian individu. Karakter-karakter ini menghambat efektivitas kinerja dan hubungan dengan orang lain.

Dengan menggunakan pengukuran Hogan Development Survey (HDS), kita dimudahkan untuk menemukan kebutuhan pengembangan seseorang. Dalam penelitiannya, Hogan menemukan bahwa individu umumnya memiliki kecenderungan untuk menampilkan sisi gelap kepribadiannya ketika mereka menghadapi kesulitan dan tekanan.

Sebaliknya, ketika individu berada dalam situasi yang aman, misalnya saat merasa sangat diterima oleh keluarga atau sahabat, ia justru tidak lagi perlu untuk memasang topeng. Dalam situasi ini, perbedaan antara kekuatan dan kelemahan menjadi tidak jelas, drive yang kuat menjadi ambisi yang tidak terpuaskan, serta perhatian terhadap detail menjadi micromanaging.

Bisa dibilang, sebagian besar dari kita memiliki sisi gelap kepribadian serta menggunakannya sebagai mekanisme pertahanan diri ketika dalam keadaan sulit. Namun, jarang dari kita menyadarinya, apalagi memahami dampaknya terhadap kinerja dan relasi kita sehari-hari. Bisa saja, sisi gelap kepribadian kita membahayakan reputasi diri atau perusahaan yang kita wakili.

Sisi gelap kepribadian

Menurut Hogan, kepribadian berisiko tersebut dapat digolongkan dalam tiga kelompok mekanisme.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Pertama, kelompok menjaga jarak. Kelompok ini memiliki kecenderungan menghindari orang atau situasi yang tidak menyenangkan baginya.

Ada yang menjadi moody sehingga orang lain perlu mencari momen saat mood-nya sedang baik sebelum berinteraksi dengannya. Ada yang bersikap “curigaan” terhadap intensi orang lain. Ada juga yang menghindari tanggung jawab untuk mengambil keputusan dengan alasan data yang dimiliki belum cukup kuat.

Ada yang menghindar dari orang yang tidak disenangi. Ada pula yang bersikap pasif agresif dengan memperlihatkan sikap kooperatif, tetapi sebenarnya menolak kerja sama.

Kedua, kelompok yang justru semakin mendekati situasi atau orang yang menyulitkan baginya, baik dengan cara mendominasi, memanipulasi, maupun menarik perhatian orang lain. Semakin menyulitkan situasinya, maka mereka makin tertantang untuk memegang kontrol dan membuat orang lain mengikuti keinginannya.

Ketiga, kelompok yang bersikap manis. Individu dengan karakter tinggi di kelompok ini sering dianggap anggota tim yang baik. Ada yang berusaha menyenangkan atasan dan menuruti semua kehendak mereka. Ada pula yang memberi kesan baik dengan ketekunan dan kerajinannya memastikan semua tugas berjalan tanpa cela.

Dalam periode singkat, karakter-karakter tersebut mungkin menyelamatkan mereka dari orang atau situasi yang tidak menyenangkan itu. Namun, bila intensitas kemunculan karakter ini semakin kuat dalam jangka waktu yang lama, bisa jadi membuat mereka dijauhi rekan kerja atau menghambat diskusi yang sebenarnya berpotensi memunculkan ide-ide inovatif.

Meredakan tingkah laku disfungsional

Manusia tidak lepas dari kelemahan dan mengubah kepribadian bukanlah perkara yang mudah, apalagi bagi mereka yang sudah beranjak dewasa. Namun, melalui mawas diri, penentuan sasaran yang jelas, dan ketekunan, kita dapat mengontrol ketika sisi gelap kepribadian hendak muncul dan menggantinya dengan reaksi-reaksi yang lebih kondusif bagi kinerja.

Kita harus ingat bahwa walaupun disebut sisi gelap kepribadian, hal ini juga merupakan mekanisme pertahanan diri individu. Itu berarti, kepribadian itu dapat membantu kita dalam situasi-situasi tertentu. Individu yang skeptical akan terhindar dari kemungkinan ditipu orang lain dengan sikapnya yang langsung pasang kuda-kuda ketika ada yang too good to be true.

Karakter colorful dan bold dibutuhkan oleh seorang pemimpin agar dapat “terlihat” dan membuat impact. Meski demikian, hal ini juga bisa membuatnya menjadi pemimpin yang kesepian ketika orang lain memilih menghindarinya karena tidak nyaman dengan tingkah lakunya yang terlalu dominan dan berusaha menyedot perhatian dari lingkungannya.

Kontrol diri

Keadaan yang menekan atau terlalu ringan sering membuat kita lupa dan lepas kontrol. Itulah sebabnya, kita perlu selalu mawas diri dan berlatih membuka-tutup keran reaksi sesuai kebutuhan dan situasi.

Umpan balik adalah hal yang paling penting dalam mengembangkan mawas diri. Kita dapat bertanya pada mereka yang kita percaya untuk berani berkata apa adanya kepada kita. Keluarga dan sahabat bisa menjadi pemberi umpan balik terbaik. Selain itu, juga para coach profesional yang memang dapat menuntun kita untuk melihat diri secara obyektif.

Tujuannya bukanlah mengubah kepribadian, melainkan mengontrol reaksi yang tidak disadari dan selalu memperingatkan diri agar jangan terpeleset.

Pada dasarnya, manusia tidak ingin mengeluarkan tenaga untuk berubah, tetapi ingin diakui bahwa mereka telah berubah. Namun, bila kita membuka mata terhadap reputasi yang didapat sehubungan dengan tingkah laku ini, upaya memperkuat komitmen untuk berubah akan lebih mudah dilakukan.

To be sure, taming your dark side is hard work.


Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.