NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia membukukan kenaikan mingguan terbesar sejak April 2023 pada perdagangan pekan ini. Penguatan dipicu harapan pelaku pasar adanya jeda kenaikan suku bunga.
Mengutip CNBC, harga emas di pasar spot pada penutupan perdagangan Jumat (14/7/2023) waktu setempat atau Sabtu pagi WIB, memang cenderung datar dengan berada di level 1.964,4 dollar AS per ons
Meski begitu, secara mingguan, harga emas dunia menguat 1,65 persen sepanjang pekan ini, sekaligus menjadi kenaikan terbesar dalam tiga bulan. Tren penguatan harga emas ini didorong data inflasi Amerika Serikat (AS) yang melandai.
Baca juga: BUMN RI Akan Bangun Prasarana Kereta Api di Filipina
Inflasi AS pada Juni 2023 turun ke level 3 persen secara tahunan (year on year/yoy), melandai jika dibandingkan Mei 2023 yang mencapai 4 persen (yoy). Data inflasi Juni itu menjadi yang terendah bagi AS sejak Maret 2021.
Laju inflasi yang lebih terkendali itu mendorong ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dapat segera mengakhiri siklus kenaikan suku bunga.
"Dengan inflasi yang mundur, antisipasi kenaikan suku bunga lebih lanjut sedikit menurun, membantu kenaikan harga emas minggu ini," kata Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior, RJO Futures.
Seperti diketahui, emas memang dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan gejolak ekonomi, namun emas juga sangat sensitif terhadap kebijakan suku bunga.
Baca juga: Pemerintah Pangkas Target Penyaluran KUR 2023 Jadi Rp 297 Triliun
Lantaran, ketika suku bunga naik, maka emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi tak menarik bagi investor, berbeda dari obligasi dan saham yang memang memberikan imbal hasil.
Namun sebaliknya, ketika suku bunga melemah maka imbal hasil pada instrumen investasi lainnya ikut menurun, sehingga emas akan menjadi lebih menarik.
“Harga emas akan bergerak di kisaran harga saat ini dalam waktu dekat. Tapi jika The Fed mulai mengatakan bahwa tidak perlu menaikkan suku bunga lebih jauh, kami dapat melihat harga emas akan naik lebih jauh lagi," imbuh Daniel.
Baca juga: Kasus Penumpang Berulah di Pesawat Terjadi Lagi, Sosialisasi Aturan Penerbangan Diminta Diperkuat
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.