Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Acuan Penjualan Gula Naik Jadi Rp 17.500 Per Kilogram

Kompas.com - 18/04/2024, 15:26 WIB
Elsa Catriana,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menaikkan harga acuan pembelian gula di tingkat konsumsi semula Rp 15.500 per kilogram menjadi Rp 17.500 per kilogram.

Sementara khusus untuk wilayah Maluku, Papua dan wilayah Tertinggal, Terluar, dan Perbatasan ditetapkan sebesar Rp 18.500 per kilogram.

Kenaikan ini menyusul adanya permintaan dari Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) untuk merelaksasi gula karena pihaknya sulit menjual gula sesuai HAP yang ditentukan sementara harga belinya sendiri dari pengusaha produsen gula tinggi. Aprindo menilai jika relaksasi tak diberikan kelangkaan gula akan terjadi di ritel.

Baca juga: H-1 Lebaran, Harga Beras, Telur, Daging Ayam, Gula Naik

Ilustrasi gula, gula pasir.FREEPIK/JCOMP Ilustrasi gula, gula pasir.
Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menyebutkan, penetapan HAP gula yang baru ini akan berlaku hingga tanggal 31 Mei 2024. Sehingga dengan demikian dia memastikan gula tidak akan langka di ritel.

“Sudah kita berikan relaksasi gula jadi Rp 17.500 per kilogram sampai 31 Mei dengan begitu kita pastikan gula tersedia dan enggak akan hilang karena ada relaksasi,” ujarnya di Jakarta, Kamis (18/4/2024).

Lebih lanjut Arief mengatakan, kenaikan HAP gula ini ditetapkan lantaran biaya produksi gula di Tanah Air sudah tinggi. Sementara di sisi lain harga gula konsumsi yang diambil sebagian dari impor juga sudah tinggi.

“Jadi waktu sebelum Lebaran relaksasi gula ini sudah kita tetapkan agar pemenuhan kebutuhan gula selama Lebaran kemarin tercukupi. Terbukti juga kan kemarin Lebaran, gula aman-aman saja,” ungkapnya.

Baca juga: Info Pangan 5 April 2024, Harga Beras, Telur, Daging Ayam, Gula Naik

Sebelumnya, Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) mengungkapkan adanya kemungkinan kelangkaan gula terjadi di ritel modern imbas dari kenaikan harga gula yang tinggi.

 

Ilustrasi gula.Shutterstock/qoppi Ilustrasi gula.
Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengungkapkan, saat ini para produsen gula sudah menjual gula ke ritel di atas harga acuan gula atau HET yang ditetapkan pemerintah.

Adapun HET gula yakni Rp 12.500 per kilogram di tingkat produsen dan Rp 15.500 harga acuan di tingkat konsumen.

Harga yang tinggi tersebut menurut Roy, pengusaha ritel enggan untuk membeli gula dari dari produsen lantaran takut merugi.

Baca juga: Aprindo “Wanti-wanti” Kelangkaan Gula di Ritel Modern, Ini Sebabnya

“Para produsen gula jualnya di atas harga acuan Rp 14.500, pasokannya otomatis berkurang. Kita kan cuma dua langkah yah, kita beli di atas harga acuan dan jual di atas harga acuan atau kita enggak mau beli karena harganya di atas harga acuan. Berarti gula kan kosong,” ujarnya usai menghadiri Apel Siaga Pengamanan Pasokan dan Harga Pangan Jelang Idul Fitri di Jakarta, Senin (1/4/2024).

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Diperintah Jokowi Akusisi Perusahaan Kamboja, Dirut Bulog: Pembicaraan Sudah Dilakukan

Diperintah Jokowi Akusisi Perusahaan Kamboja, Dirut Bulog: Pembicaraan Sudah Dilakukan

Whats New
OJK: Kredit Macet 15 'Fintech Lending' di Atas 5 Persen

OJK: Kredit Macet 15 "Fintech Lending" di Atas 5 Persen

Whats New
Semakin Banyak Negara Adopsi ETF, Minat Aset Kripto Bakal Kembali Meningkat

Semakin Banyak Negara Adopsi ETF, Minat Aset Kripto Bakal Kembali Meningkat

Whats New
Penyeludupan Benih Lobster, Menteri KKP: Triliunan Rupiah Harta Bangsa Ini Melayang...

Penyeludupan Benih Lobster, Menteri KKP: Triliunan Rupiah Harta Bangsa Ini Melayang...

Whats New
Izin Usaha Dicabut, TaniFund Belum Punya Tim Likuidasi

Izin Usaha Dicabut, TaniFund Belum Punya Tim Likuidasi

Whats New
Perkuat Ekosistem Perhajian, BPKH Akan Bentuk 'Subholding Company' Anak Usaha

Perkuat Ekosistem Perhajian, BPKH Akan Bentuk "Subholding Company" Anak Usaha

Whats New
Jadi Salah Satu Pengawas BP Tapera, Ini yang Bakal Dilakukan OJK

Jadi Salah Satu Pengawas BP Tapera, Ini yang Bakal Dilakukan OJK

Whats New
Bidik Pendanaan Rp 1 Triliun, CIMB Niaga Finance Tawarkan Sukuk Wakalah Bi Al-Istitsmar

Bidik Pendanaan Rp 1 Triliun, CIMB Niaga Finance Tawarkan Sukuk Wakalah Bi Al-Istitsmar

Whats New
Integrasi Infrastruktur Pipa Perlancar Penyaluran Gas ke Industri dan Komersial di Jateng

Integrasi Infrastruktur Pipa Perlancar Penyaluran Gas ke Industri dan Komersial di Jateng

Whats New
Soal Komisaris Pertamina, Stafsus Erick: Jangan Curiga-curiga Dulu Lah...

Soal Komisaris Pertamina, Stafsus Erick: Jangan Curiga-curiga Dulu Lah...

Whats New
80 Juta Pekerjaan Akan Hilang Imbas AI, Kemenko Perekonomian: Pekerjaan di Sektor Administrasi Rentan

80 Juta Pekerjaan Akan Hilang Imbas AI, Kemenko Perekonomian: Pekerjaan di Sektor Administrasi Rentan

Whats New
Kecepatan Internet RI Peringkat Bawah di ASEAN, Bisa Hambat Pengembangan Ekonomi Digital

Kecepatan Internet RI Peringkat Bawah di ASEAN, Bisa Hambat Pengembangan Ekonomi Digital

Whats New
Politisi Gerindra Siti Nurizka Jadi Komut Pusri, Stafsus Erick Thohir: Sudah Mundur dari Anggota DPR

Politisi Gerindra Siti Nurizka Jadi Komut Pusri, Stafsus Erick Thohir: Sudah Mundur dari Anggota DPR

Whats New
Lesu, Boeing Cuma Dapat Pesanan 4 Pesawat Baru pada Mei 2024

Lesu, Boeing Cuma Dapat Pesanan 4 Pesawat Baru pada Mei 2024

Whats New
Mulai Juli, Ini Perubahan Tanggal Tagihan dan Jatuh Tempo Paylater BCA

Mulai Juli, Ini Perubahan Tanggal Tagihan dan Jatuh Tempo Paylater BCA

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com