Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Sisi Kelam Ukraina: Bisnis Surogasi Rahim atau Pabrik Bayi

KOMPAS.com - Nama Ukraina mulai banyak dikenal luas publik Tanah Air setelah negara itu diinvasi Rusia selama sebulan terakhir.

Sebelum diserbu Rusia, Ukraina sejatinya sudah menderita banyak korban dalam konflik dengan pemberontak yang didukung Rusia di timur. Alih-alih mendekat ke masa damai, negara ini semakin dekat ke ambang kehancuran setelah terus menerus dibombardir tentara Rusia.

Negara itu juga dikenal sebagai salah satu negara paling miskin di Benua Biru. Pendapatan domestik bruto (PDB) per kapitanya, bahkan masih kalah ketimbang Indonesia. Dikutip dari data Bank Dunia, PDB per kapita Ukraina adalah sebesar 3.724 dollar AS atau setara dengan Rp 53.380.000 (kurs Rp14.300).

Sementara PDB per kita Indonesia terbaru adalah 3.868 dollar AS atau Rp 55.459.000. Jika menggunakan patokan PDB per kapita, Ukraina memang berada di urutan pertama sebagai negara Eropa paling miskin.

Sementara di urutan kedua negara Eropa paling miskin adalah Georgia dengan PDB per kapita sebesar 4.290. Meski PDB per kapita rendah, biaya hidup di Ukraina relatif lebih murah dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.

Bisnis surogasi Ukraina

Lantaran desakan ekonomi, banyak masyarakat di Ukraina bergantung pada bisnis surogasi. Bisnis surogasi adalah meminjamkan rahim untuk membesarkan janin milik orang lain.

Setiap tahunnya, ada ribuan perempuan Ukraina menjadi ibu pengganti. Mereka memperbolehkan rahimnya dipakai untuk membesarkan janin milik pasangan lain, dengan imbalan tentunya.

Suroasi semakin populer dari tahun ke tahun. Di negara-negara maju seperti Eropa Barat, banyak pasangan yang ingin memiliki anak kandung namun enggan direpotkan dengan masa kehamilan.

Dikutip dari Aljazeera, Ukraina sudah sejak beberapa dekade dikenal sebagai pusat pabrik bayi, istilah lain untuk bisnis surogasi. Bahkan, ada sejumlah perusahaan Ukraina yang secara resmi menjadi perantara maupun tindakan medis untuk layanan surogasi.

Salah satu perusahaan penyedia jasa perantara surogasi paling terkenal di Ukraina adalah BioTexCom. Perusahaan ini menawarkan layanan surogasi dengan paket paling rendah senilai 11.000 dollar AS atau sekitar Rp 158 juta untuk satu kali kehamilan.

Selain biaya di atas, pengguna jasa juga harus membayarkan biaya atau juga disebut upah sebesar 250 dollar AS atau Rp 3,6 juta per bulan selama masa kehamilan, di mana uang tersebut bisa dibayarkan langsung ke perempuan Ukraina yang merelakan rahimnya digunakan untuk mengandung bayi.

“Perusahaan berjanji mereka akan merawat saya dengan sangat baik. Itu keputusan yang mudah dan suami saya langsung setuju,” kata Alina, salah satu wanita ukraina yang menyetujui rahimnya dipakai.

Alina sendiri memutuskan untuk menjadi ibu pengganti sejak tahun 2016 karena tuntutan ekonomi. Wanita asal Kharkiv ini mengaku, pendapatannya sebagai penata rambut tidak mencukupi.

"Menjadi ibu pengganti adalah pilihan terakhir. Sulit untuk menemukan pekerjaan dengan gaji tinggi di Ukraina," ujar Alina.

"Sementara saya ingin merenovasi rumah dan menyisihkan uang untuk persiapan membiayai kuliah putra saya. Ini (biaya kuliah) sangat mahal. Orang tua saya dulu tidak memiliki cukup uang, dan inilah cara saya agar putra saya mendapatkan pendidikan yang lebih baik," sambungnya.

Bisnis legal

Ukraina telah menjadi tujuan yang semakin populer bagi pasangan asing yang mencari layanan surogasi dengan harga yang terjangkau, terutama sejak negara itu menjadikannya bisnis yang legal pada tahun 2002.

Biaya paket rata-rata surogasi sekitar 30.000 dollar AS, dibandingkan dengan harga layanan surogasi di Amerika Serikat yang mencapai 120.000 dollar AS.

Permintaan penggunaan rahim ibu pengganti di Ukraina juga telah melonjak sejak 2015 ketika Thailand, India, dan Nepal melarang bisnis ini dengan alasan eksploitasi perempuan.

Sementara itu, sejauh ini, Kementerian Kesehatan Ukraina juga tidak dapat memberikan data pasti tentang jumlah ibu pengganti di negaranya.

Menurut Sergii Antonov, seorang pengacara berbasis di Kiev yang mengkhususkan diri dalam bidang medis dan reproduksi, menyebutkan antara 2.000 dan 2.500 anak-anak lahir melalui surogasi di Ukraina setiap tahun, dengan hampir setengahnya melalui BioTexCom.

Kondisi buruk

Alina mengatakan, kondisi ibu pengganti sangat buruk. Dia mengatakan BioTexCom menempatkan dia di sebuah apartemen kecil selama 32 minggu kehamilannya dengan empat wanita lain, di mana dia dipaksa untuk berbagi tempat tidur dengan ibu pengganti lainnya.

“Kami semua sangat stres. Sebagian besar perempuan berasal dari desa kecil dan berada dalam situasi putus asa,” katanya.

“Kami menghabiskan minggu pertama hanya berbaring, menangis. Kami tidak bisa makan. Ini adalah situasi yang umum untuk pengganti," ujarnya lagi.

Alina mengatakan supervisor BioTexCom akan mengunjungi apartemen hampir setiap hari untuk memeriksa sang ibu maupun janinnya. Alina dan para ibu pengganti diizinkan keluar apartemen, namun harus pulang pada sore harinya.

“Jika kami tidak pulang setelah jam 4 sore, kami bisa didenda 100 euro. Kami juga diancam dengan denda jika ada di antara kami yang secara terbuka mengkritik perusahaan, atau berkomunikasi langsung dengan orang tua kandung," ucap Alina.

https://money.kompas.com/read/2022/03/24/113232826/sisi-kelam-ukraina-bisnis-surogasi-rahim-atau-pabrik-bayi

Terkini Lainnya

Mengenal Mata Uang India dan Nilai Tukarnya ke Rupiah

Mengenal Mata Uang India dan Nilai Tukarnya ke Rupiah

Whats New
Arus Balik Lebaran, Tol Fungsional Cibitung-Cimanggis akan Dibuka sampai 17.00 WIB

Arus Balik Lebaran, Tol Fungsional Cibitung-Cimanggis akan Dibuka sampai 17.00 WIB

Whats New
Harga Emas Antam Hari Sabtu Ini, Anjlok Rp 14.000 Per Gram

Harga Emas Antam Hari Sabtu Ini, Anjlok Rp 14.000 Per Gram

Whats New
Inggris Keluar dari Resesi, Ini yang Harus Dihadapi ke Depannya

Inggris Keluar dari Resesi, Ini yang Harus Dihadapi ke Depannya

Whats New
Kementan Bersama Dinas Pertanian Provinsi Banten Kembangkan Padi Biosalin untuk Wilayah Pesisir

Kementan Bersama Dinas Pertanian Provinsi Banten Kembangkan Padi Biosalin untuk Wilayah Pesisir

Whats New
Program Pompanisasi dari Mentan Amran di Subang Tuai Respons Positif

Program Pompanisasi dari Mentan Amran di Subang Tuai Respons Positif

Whats New
Khusus H+2 Lebaran, Kereta Api Jadi Moda Angkutan Umum 'Terlaris'

Khusus H+2 Lebaran, Kereta Api Jadi Moda Angkutan Umum "Terlaris"

Whats New
Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 13 April 2024

Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 13 April 2024

Spend Smart
Ada Promo Tiket Bioskop XXI, CGV, Cinepolis, Simak Cara Mendapatkannya

Ada Promo Tiket Bioskop XXI, CGV, Cinepolis, Simak Cara Mendapatkannya

Whats New
[POPULER MONEY] 5 Keuntungan Investasi Emas buat Pemula Baru | Miliarder Vietnam Dijatuhi Hukuman Mati dalam Kasus Penipuan

[POPULER MONEY] 5 Keuntungan Investasi Emas buat Pemula Baru | Miliarder Vietnam Dijatuhi Hukuman Mati dalam Kasus Penipuan

Whats New
Lowongan Kerja Yamaha Indonesia untuk SMA hingga S1, Ini Persyaratannya

Lowongan Kerja Yamaha Indonesia untuk SMA hingga S1, Ini Persyaratannya

Whats New
Jelang Arus Balik, Jasa Marga Imbau Pemudik Optimalkan Tempat Istirahat

Jelang Arus Balik, Jasa Marga Imbau Pemudik Optimalkan Tempat Istirahat

Whats New
Pelintasan Kereta Api Tanggung Jawab Siapa? Simak Aturannya

Pelintasan Kereta Api Tanggung Jawab Siapa? Simak Aturannya

Whats New
6 Cara Mudah Cek Saldo e-mOney Mandiri lewat HP

6 Cara Mudah Cek Saldo e-mOney Mandiri lewat HP

Spend Smart
Arus Balik, Pelni Layani Angkutan Gratis Sepeda Motor Semarang-Jakarta

Arus Balik, Pelni Layani Angkutan Gratis Sepeda Motor Semarang-Jakarta

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke