Mahendra K Datu
Pekerja corporate research

Pekerja corporate research. Aktivitas penelitiannya mencakup Asia Tenggara. Sejak kembali ke tanah air pada 2003 setelah 10 tahun meninggalkan Indonesia, Mahendra mulai menekuni training korporat untuk bidang Sales, Marketing, Communication, Strategic Management, Competititve Inteligent, dan Negotiation, serta Personal Development.

Futurism # 8: Lifestyle – Karena Tak Ada Yang Ingin Disalahpahami.

Kompas.com - 11/03/2019, 12:25 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Bukankah spirit seni memang tak mengenal zaman? Timeless.

Mungkinkah yang dimaksud Wertheimer adalah ‘trend’, atau sesuatu yang ‘sedang IN’ dalam satu waktu tertentu?  Dan, apakah itu berarti mengonfirmasi kembali bahwa industri berbasis seni dan kreativitas berimajinasi takkan pernah lekang dimakan jaman?

Lifestyle 4.0, atau...

Begini maksud saya. Saya bisa menerima adanya istilah Industry 4.0. Istilah ini memang ada sejarahnya dari sejak Revolusi Industri terjadi dengan diketemukannya mesin uap di Eropa.

Kementerian BMBF di Jerman (Kementerian Federal untuk Pendidikan dan Riset) menginisiasi istilah Industry 4.0 ini untuk fokus pada digitalisasi industri manufaktur di negeri panzer itu.

Tetapi mengapa harus ada Education 4.0, Healthcare 4.0, ada juga Military 4.0 meski tak terlalu populer? Lalu ada Art 4.0, Fashion 4.0, mengapa harus latah?

Bila Lagerfeld adalah seorang insinyur, fisikawan, atau programmer, akan sangat lazim untuk memujinya dengan sebutan “ia selalu mendahului zamannya”.

Tapi untuk seorang seniman? Oh no, no… Lagerfeld adalah seorang yang selalu berada tepat di perjalanan jamannya. Ia tahu apa yang diinginkan orang-orang tentang trend fashion. Oleh karenanya, orang-orang itu sangat mengagumi Lagerfeld.

Apa yang orang-orang itu tak ketahui adalah adanya lubang-lubang kekosongan trend di mana seorang Lagerfeld paham betul, di situlah tersedia ruang-ruang untuknya memberi tahu khalayak apa yang pantas mereka kenakan di tubuhnya.

Seolah mendikte, tetapi sebenarnya ia sedang membantu kita menyadari bahwa ada alternatif gaya, dan juga gaya hidup, yang tak kalah indahnya selain yang biasa kita pakai atau jalani.

Cara pikir Lagerfeld juga ada di industri lain.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.