Imbas Perang Dagang, Indonesia Paling Bontot Terima Limpahan Investasi

Kompas.com - 24/04/2019, 15:37 WIB
Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Rosan Perkasa Roeslani ketika memberikan penjelasan kepada awak media di Jakarta, Selasa (23/10/2018). Kompas.com/Mutia FauziaKetua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Rosan Perkasa Roeslani ketika memberikan penjelasan kepada awak media di Jakarta, Selasa (23/10/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi perekonomian global yang tak menentu lantaran perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan China membuat banyak perusahaan memindahkan lini produksi mereka dari kedua negara tersebut ke kawasan Asia Tenggara.

Beberapa negara yang menjadi negara tujuan utama penanaman modal asing (PMA) atau foreign direct investment (FDI) perusahaan-perusahaan tersebut di antaranya adalah Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

Ketua Umum Kamar Dagang Dagang dan Industri ( Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani mengatakan, jumlah pabrik yang dipindahkan dari China ke Indonesia tak seberapa jika dibandingkan dengan ketiga negara tersebut.

"Terus terang kita paling bontot yang mendapatkan pelimpahan investasi masuk ke Indonesia, lebih banyak ke Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Mereka menikmati perpindahan relokasi pabrik yang ada di China," ujar Rosan di Jakarta, Rabu (24/4/2019).

Baca juga: Perang Dagang AS-China Bikin Kinerja Ekspor RI Sulit Diterka

Rosan mengatakan, industri manufaktur Indonesia yang mengalami stagnasi menjadi salah satu faktor sepinya PMA di dalam negeri. Sebab, pada 2014 lalu, pertumbuhan industri manufaktur Indonesia mencapai 30 persen. Sementara pada 2019 ini pertumbuhan industri manufaktur diperkirakan hanya 19 persen hingga 20 persen dan akan terus menurun.

"Kita perlu membangun industri manufaktur karena selama ini yang terjadi dereindustralisasi bukan tidak tumbuh tapi di bawah pertumbuhan kita," ujar Rosan.

Dengan memerbaiki industri manufaktur harapannya Indonesia juga bisa memerbaiki struktur impor yang 90 persennya berupa barang baku.

Sehingga, masalah defisit neraca perdagangan yang selama ini membayangi keteahanan perekonomian dalam negeri bisa di atasi. Selain itu, industri pariwisata yang juga terus dikembangkan turut menjadi penyumbang utama dalam perekonomian Indonesia.

"(Pembangunan industri yang sehat), ditunjang industri pariwisata yang akan diperkirakan ke depan ujung tombak perekonomian kita dan menyumbang nomor satu pendapatan negara kita," ujar Rosan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X