Haruskah Harga Tiket Pesawat Diturunkan?

Kompas.com - 04/05/2019, 16:53 WIB
Ilustrasi: Sejumlah maskapai nasional terparkir di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan Kalimantan TimurKOMPAS.com/ Bambang P. Jatmiko Ilustrasi: Sejumlah maskapai nasional terparkir di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan Kalimantan Timur

Dengan demikian maskapai juga tidak akan bisa sewenang-wenang menentukan tarif yang tinggi karena bisa saja penumpang beralih ke moda transportasi lain.

Namun maskapai juga tidak perlu cemas karena rute-rute di dalam Jawa termasuk rute terpadat. Provider penyedia analisa digital penerbangan internasional dari London, OAG, mencatat bahwa rute Jakarta-Surabaya PP sebagai rute domestik terpadat no 8 di dunia dengan 103 penerbangan per hari.

Sedangkan rute Jakarta – Denpasar PP nomor 14 dengan 87 penerbangan per hari.
Sedangkan untuk rute luar Jawa, Kemenhub bisa menurunkan tarif batas bawah dan batas atas sehingga terjangkau oleh masyarakat yang tingkat perekonomiannya belum seperti di Jawa.

Di luar Jawa juga belum ada transportasi pengganti yang setara sehingga transportasi udara sangat dibutuhkan.

Agar maskapai bersedia menjalani penerbangan di luar Jawa, bisa dilakukan subsidi silang. Maskapai yang membuka penerbangan di luar Jawa akan mendapatkan slot penerbangan tertentu di dalam Jawa. Kemenhub bisa melakukan perhitungan yang adil terkait hal ini.

Menhub bisa menggunakan instrumen yang ada di Permenhub No PM 20 tahun 2019 atau Keputusan Menhub No KM 72 tahun 2019. Jika perlu, kedua aturan itu disesuaikan lagi.

Musim libur puasa dan lebaran tahun ini bisa dijadikan momentum bagi Kemenhub untuk melakukan evaluasi. Karena saat itu harga tiket biasanya sangat tinggi dan masyarakat tidak banyak melakukan protes karena kebutuhan mudik dan balik lebaran.

Sektor Pariwisata

Sektor pariwisata sebenarnya juga tidak perlu terlalu bingung karena hubungannya lebih banyak dengan penerbangan internasional. Dengan modal yang kuat dan jaringannya yang luas di luar negeri yang menggunakan nilai tukar finansial berbeda-beda, mereka bisa memberikan harga tiket yang terjangkau ke Indonesia.

Juga karena tidak ada batasan soal layanan dan tarif, mereka dan maskapai nasional bisa bersaing dengan adil.

Di sisi lain, dengan turunnya harga tiket di luar Jawa juga bisa meningkatkan dan memperbanyak penerbangan di wilayah ini. Banyak spot-spot wisata yang bisa dibuka dan dikembangkan seperti misalnya di Sulawesi dan Indonesia bagian Timur.

Kemenhub bisa membantu dengan membangun infrastruktur penerbangan dan mendorong maskapai membuat hub penerbangan di luar Jawa. Seperti misalnya yang baru-baru ini dilakukan grup AirAsia di Lombok. Selain di Lombok, hub penerbangan bisa dibuka di Makassar atau kota lain.

Sedangkan untuk pariwisata di Pulau Jawa juga akan bisa lebih berkembang karena moda transportasi darat dan kereta turut berkembang. Kota-kota yang saat ini tidak mempunyai bandara, akan bisa turut berkembangn karena dilewat jalan tol atau jalur kereta api.

Pengelola sektor pariwisata bisa mengembangkan tempat-tempat wisata di kota-kota tersebut dengan kolaborasi antara transportasi udara dari luar negeri dan disambung tol atau kereta. Hal ini sudah diterapkan dan berhasil di Eropa, Amerika, Australia dan daerah-daerah lain. Jadi kecemasan sektor pariwisata juga bisa diminimalisir.

Masih banyak hal lain yang sebenarnya bisa dilakukan dan dikembangkan daripada kita sibuk menekan maskapai untuk menurunkan tiket. Yang diperlukan hanyalah berfikir kreatif, koordinasi antar instansi yang baik dan kemauan untuk melakukannya dengan didasari kepentingan yang sama, untuk Indonesia. 

Halaman:



Close Ads X