Jangan (lagi) Terjepit di SARAF-P2

Kompas.com - 02/06/2019, 11:00 WIB
Ilustrasi KOMPAS/DIDIE SWIlustrasi

A untuk Adat, A yang kedua dalam SARAF-P2 ini memiliki kepekaan yang cukup tinggi, karena menyangkut kebangaan dan kearifan lokal masing-masing daerah. Ingat Indonesia memiliki 17 ribu lebih pulau dan 300 lebih etnik dengan 1500 bahasa lokal atau Bahasa daerah, dan ribuan lagi adat istiadat yang merupakan kekayaan terbesar bangsa ini.

Maka wajar, sebaiknya jangan gunakan Adat sebagai guyonan dalam presentasi atau acara Talkshow di TV atau di Radio, ini akan sangat berisiko menyinggung perasaan dan kebanggan peserta atau pendengar dari etnik tertentu yang memiliki adat istiadat tersebut.

F adalah untuk Fisik. Bagian kelima dari SARAF-P2 ini berdasarkan pengamatan empiris kami, sering dilupakan atau luput dari perhatian para presenter atau public speaker, sehingga apa yang terjadi adalah banyak diantara mereka yang menggunakan ciri-ciri fisik tertentu sebagai bahan banyolan.

Walaupun pada kenyataannya memang fisik tersebut memiliki keterbatasan sehingga terlihat lucu, namun itu bukan alasan ilmiah yang membuat fisik seseorang pantas dijadikan bahan candaan.

Untuk candaan yang menggunakan Fisik, mungkin peserta tidak akan murka sebagaimana contoh di atas, namun yang jelas presenter akan kehilangan rasa hormat dari audiennya, karena sang presenter gagal menghormati hak asasi orang lain.

P yang pertama dari P2 untuk Politik. Awalnya topik ini bukanlah sesuatu yang sangat sensitif dalam suatu presentasi atau forum yang dihadiri masyarakat awam, namun setelah pada Pilpres 2014 dan 2019 kemarin hanya terdapat 2 pasangan calon, faktanya secara nyata telah terjadi polarisasi (perpecahan) yang kuat disertai dengan gesekan dan friksi yang berujung pada konflik ditingkat akar rumput.

Sehingga menyinggung Politik kaitannya sebagai guyonan, menjadi tidak lucu lagi bahkan, pengalaman empiris selama 5 tahun ini membuktikan, menggunakan topik politik sebagai candaan bisa berujung kepada situasi anarkis dengan kerusakan yang sadis.

P terakhir dari P2 adalah untuk Pornoaksi atau Pornografi, meskipun Anda yakin dalam forum tersebut yang hadir adalah kaum dewasa, bukan sesuatu yang bijak menggunakan Pornoaksi dan Pornografi sebagai bahan baku yang diolah agar orang bisa tertawa.

Apalagi dalam konteks hukum positif jika guyonan yang berbau pornografi dan pornoaksi membuat seseorang tidak nyaman atau bahkan merasa dilecehkan, maka pihak yang melaksanakan banyolan pornoaksi bisa dituntut dengan Hukum Pidana.

Jadi tidak lucu kan?

Sehingga untuk menghadirkan Presentasi atau Public Speaking yang Memikat atau Impresif, semaksimal mungkin hindari terjepit di SARAF-P2 sebagai bahan guyonan.

Masih banyak bahan candaan lain yang bisa digunakan dan relatif aman, namun dalam hemat kami jika memang kita tidak berbakat melucu, sudahlah sebaiknya tidak usah memaksakan diri melucu dengan menggunakan SARAF-P2, hasil akhirnya pasti tidak akan lucu!

Mulai saat ini terus waspada dengan SARAF-P2 ini dan jangan ada lagi korban terjatuh akibat terjepit di SARAF-P2.

Selamat berbisnis dan Sukses Selalu untuk Anda semua!

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

17 Ahli Waris Korban Sriwijaya Air SJ 182 Terima Santunan Rp 50 Juta dari Jasa Raharja

17 Ahli Waris Korban Sriwijaya Air SJ 182 Terima Santunan Rp 50 Juta dari Jasa Raharja

Whats New
Reklamasi Bekas Tambang Timah Habiskan Rp 29 Miliar

Reklamasi Bekas Tambang Timah Habiskan Rp 29 Miliar

Whats New
BPOM Jelaskan Alasan Vaksin Sinovac Boleh Digunakan meski Uji Klinis Fase III Belum Selesai

BPOM Jelaskan Alasan Vaksin Sinovac Boleh Digunakan meski Uji Klinis Fase III Belum Selesai

Whats New
Ini Enaknya Punya Kartu Kredit...

Ini Enaknya Punya Kartu Kredit...

Spend Smart
[POPULER DI KOMPASIANA] Parasut pada Pesawat | Kebijakan Baru WhatsApp | Setop Stigmatisasi Janda

[POPULER DI KOMPASIANA] Parasut pada Pesawat | Kebijakan Baru WhatsApp | Setop Stigmatisasi Janda

Rilis
Bea Cukai Tangkap Mafia Rokok Ilegal, Begini Kronologinya

Bea Cukai Tangkap Mafia Rokok Ilegal, Begini Kronologinya

Whats New
Meski Vaksin Mandiri untuk Korporasi Dibuka, Menkes Pastikan Vaksin Gratis Tetap Ada

Meski Vaksin Mandiri untuk Korporasi Dibuka, Menkes Pastikan Vaksin Gratis Tetap Ada

Whats New
Besok Tarif Tol Jakarta-Cikampek Naik, Ini Rinciannya

Besok Tarif Tol Jakarta-Cikampek Naik, Ini Rinciannya

Spend Smart
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Rokok Ilegal di Kepulauan Riau

Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Rokok Ilegal di Kepulauan Riau

Whats New
Motivasi Kerja Hilang di Awal Tahun Baru? Cas Lagi dengan 6 Cara Ini

Motivasi Kerja Hilang di Awal Tahun Baru? Cas Lagi dengan 6 Cara Ini

Whats New
Erick Thohir Minta Direksi BUMN Belajar Nilai Kepedulian dari Milenial

Erick Thohir Minta Direksi BUMN Belajar Nilai Kepedulian dari Milenial

Whats New
Edufecta Sediakan Platform Pembelajaran Daring untuk Kampus Swasta se-Indonesia

Edufecta Sediakan Platform Pembelajaran Daring untuk Kampus Swasta se-Indonesia

Rilis
Sepekan IHSG Naik 1,85 Persen, Kapitalisasi Pasar Capai Rp 7.430 Triliun

Sepekan IHSG Naik 1,85 Persen, Kapitalisasi Pasar Capai Rp 7.430 Triliun

Whats New
Cara Mendapatkan BLT Ibu Hamil Rp 3 Juta

Cara Mendapatkan BLT Ibu Hamil Rp 3 Juta

Whats New
Digitalisasi Dorong Bisnis Wealth Management CIMB Niaga Tumbuh 16 Persen

Digitalisasi Dorong Bisnis Wealth Management CIMB Niaga Tumbuh 16 Persen

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X