Surplus Neraca Perdagangan, Pemerintah Diminta Tetap Waspadai Defisit

Kompas.com - 16/09/2019, 20:20 WIB
Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta memberikan keterangan di Hotel Millenium, Jakarta, Rabu (11/9/2019). KOMPAS.COM/MURTI ALI LINGGAWakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta memberikan keterangan di Hotel Millenium, Jakarta, Rabu (11/9/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Komite Ekonomi dan Industri Nasional ( KEIN) meminta pemerintah untuk terus mewaspadai defisit neraca perdagangan mengingat kinerja ekspor yang masih belum mampu menambal defisit sepanjang Januari hingga Agustus 2019.

Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan, surplus neraca perdagangan pada Agustus 2018 yang sebesar 0,085 miliar dollar AS bukan akibat dari kinerja ekspor yang membaik dari bulan sebelumnya. Namun karena impor Agustus 2019 yang turun sejak Juli 2019.

"Sehingga pemerintah tidak boleh lengah dengan data surplus yang terjadi pada Agustus ini. Karena masih ada pekerjaan rumah yakni menutupi defisit yang sangat dalam sebesar 2,28 miliar dollar AS yang terjadi pada April 2019," kata Arif dalam keterangannya, Jakarta, Senin (16/9/2019).

Arif menjelaskan, salah satu penyebab beratnya kinerja neraca perdagangan adalah impor nonmigas dari salah satu negara mitra dagang terbesar yakni China. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor nommigas China pada Agustus 2019 sebesar 3,74 miliar dollar AS sedangkan ekspor non migas Indonesia ke negara tersebut hanya sebesar 2,27 miliar dollar AS.

Sehingga kondisi itu meneruskan tren neraca perdagangan China dengan Indonesia pada 2017 ke 2018 mengalami pelebaran defisit, dari 14,16 miliar dollar AS menjadi 20,84 miliar dollar AS.

Ini serupa juga terjadi pada periode Januari-Juli 2019 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya atau terjadi defisit yakni sebesar 7,01 persen.

" Defisit perdagangan yang semakin melebar dengan China sangat disayangkan karena harusnya Indonesia bisa memanfaatkan perang dagang yang terjadi antara China dan Amerika Serikat. Belum lagi secara penduduk pasar China lebih besar dari pada Indonesia, yang seharusnya menjadi peluang pasar ekspor Indonesia," tuturnya.

Menurut Arif, neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan AS menunjukkan hasil yang positif dari Januari-Juli 2018 ke Januari-Juli 2019, dengan peningkatan ekspor sebesar 9,85 persen. Namun mikian, angka tersebut harus tetap dijaga agar penurunan ekspor non migas yang terjadi pada 2017 ke 2018 tidak terjadi lagi.

"Dengan demikian, kinerja positif neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat harus tetap dipertahankan bahkan harus ditingkatkan," jelasnya.

Mencermati keadaan tersebut, Arif berpendapat salah satu cara untuk memperbaiki kinerja neraca perdagangan ialah dengan mempersempit neraca dagang nonmigas dengan China. Selain itu ada beberapa cara dapat ditempuh untuk merealisasikan strategi tersebut.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X