Asosiasi: Motif Ekonomi Bisa Picu Karhutla

Kompas.com - 13/10/2019, 20:45 WIB
Foto dirilis Jumat (11/10/2019), memperlihatkan udara api membakar semak belukar ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Dampak karhutla Indonesia menjadi sorotan di dalam hingga luar negeri, terkait kabut asap yang tak hanya melumpuhkan aktivitas warga dan mengganggu kesehatan, namun juga memakan korban jiwa, termasuk hewan-hewan yang menghuni hutan. ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA SFoto dirilis Jumat (11/10/2019), memperlihatkan udara api membakar semak belukar ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Dampak karhutla Indonesia menjadi sorotan di dalam hingga luar negeri, terkait kabut asap yang tak hanya melumpuhkan aktivitas warga dan mengganggu kesehatan, namun juga memakan korban jiwa, termasuk hewan-hewan yang menghuni hutan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Data Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK) sampai dengan September 2019 mencatat luas kebakaran hutan dan lahan ( karhutla) di Indonesia terus menurun.

Hingga September 2019, jumlah luas karhutla di Indonesia yang terjadi di tahun 2019 sudah turun 87,41 persen dibandingkan tahun 2015.

Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto pada tahun 2015, jumlah karhutla mencapai 2.611.411 hektare, tahun 2016 438.363 hektare, tahun 2017 165.484 hektare, dan tahun 2018 510.564 hektare.

Adapun pada tahun ini turun hingga 328.724 hektare. KLHK juga mencatat dari 328.724 ha terbakar terdiri dari 239.161 ha atau sekitar 72,8 persen berada di lahan kering atau mineral.

Sementara sisanya 89.563 hektare atau 27,2 persen berada di lahan gambut.

Baca juga: BPDLH Dibentuk, Persoalan Kebakaran Hutan Wajib Dituntaskan

“Itu berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sampai dengan September 2019,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (13/10/2019).

Selain itu, kata Purwadi, luas karhutla Indonesia tahun ini juga lebih kecil dibandingkan karhutla yang terjadi di dunia. pada tahun ini, karhutla juga terjadi di Amerika Selatan seperti Brazil dan Bolivia terutama di hutan tropis Amazon, Kanada dan Rusia.

Menurut dia, karhutla di Indonesia 99 persennya disebabkan oleh faktor aktivitas manusia, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja dan didukung cuaca ekstrem dan kerusakan ekosistem.

Adapun motif penyebab karhutla ada dua. Pertama motif ekonomi, yaitu pembukaan lahan untuk pertanian maupun perkebunan dengan cara yang mudah dan murah untuk kemudian diperjualbelikan.

“Kedua penguasaan lahan. Para perambah membakar hutan untuk mempertahankan dan memperluas penguasaan lahan,” ujarnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X