Menperin: Penguasaan Infrastruktur Jadi Kunci Daya Saing di Industri 4.0

Kompas.com - 14/10/2019, 16:03 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto memberikan sambutan pada peluncuran bukunya berjudul Merajut Asa di Gedung Garuda, Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Senin (14/11/2019). KOMPAS.COM/MURTI ALI LINGGAMenteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto memberikan sambutan pada peluncuran bukunya berjudul Merajut Asa di Gedung Garuda, Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Senin (14/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, agar mampu bersaing di era Industri 4.0 Indonesia harus bisa menguasai infrastruktur. Utamanya untuk bersaing di sektor perindustrian.

"Internet of things, big data, otomatis virtual branding dan banyak hal yang kita harus sesuaikan di era Industri 4.0," kata Airlangga di Gedung Kemenperin, Jakarta, Senin (14/10/2019).

Menurut Airlangga, sejak 2011 Indonesia sudah masuk revolusi industri generasi keempat yang dikenal Industri 4.0. Secara global, ditandai meningkatnya konektivitas interaksi dan makin konvergensinya manusia dan mesin.

"Revolusi itu lompatan besar, di mana teknologi dan komunikasi tidak hanya untuk proses produksi tapi untuk mata rantai efisiensi. Sehingga menciptakan model bisnis baru berbasis digital," ujarnya.

Dia mengungkapkan, seiring perjalanan waktu dan perkembangan zaman, manusia kini seakan tak bisa lepas dari teknologi. Pasalnya, dalam keseharian seseorang akan selain membutuhkan "sentuhan" teknologi.

"Kita enggak bisa lepas dari kehidupan digital. Kita sepertinya lebih penting buka telepon pagi hari sebelum minum kopi dan apabila WA sistemnya mati pada panik," jelasnya.

"Dan kita juga lihat bahwa teknologi provider seperti sportify, iTunes yang mempengaruhi dalam kehidupan lifestyle terutama anak muda," tambahnya.

Menperin memandang infrastruktur digital sangat penting di era Industri 4.0. Karena digital ekonomi di Indonesia berdasarkan laporan Google dan Temasek di 2019, volumenya sudah 40 miliar dollar AS.

Catatan ini naik lima kali lipat dibandingkan 2015 yang sebesar 8 miliar dollar AS dan Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan digital tertinggi di ASEAN.

"Annual growth kita adalah 49 persen. Jadi memang Indonesia harus dan punya potensi untuk lompat melalui digital ekonomi. Angka 40 miliar dollar AS ini menegaskan posisi Indonesia sebagai the biggest internet ekonomi di kawasan ASEAN, jauh meninggalkan negara negara lainnya," tandasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X