Jika Rupiah Terlalu Kuat, Ini yang Dilakukan BI

Kompas.com - 27/01/2020, 15:39 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Perry Warjiyo pada acara pelantikan Ketua ISEI cabang Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/2/2019). Dok. ISEIGubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Perry Warjiyo pada acara pelantikan Ketua ISEI cabang Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/2/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejak awal tahun, nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dollar AS.

Berdasarkan data Bloomberg per hari ini, Senin (27/1/2020) nilai tukar rupiah terlah menguat sebesar 1,87 persen terhadap dollar AS menjadi di kisaran Rp 13.606,5 per dollar AS.

Posisi nilai tukar tersebut jauh dari target pemerintah di dalam APBN 2020 yang berada di kisaran Rp 14.400 per dollar AS.

Baca juga: Rupiah Menguat dari Awal Tahun, BI Dihujani Pertanyaan dari DPR

Seiring dengan terus menguatnya nilai tukar tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pihaknya tidak segan untuk mengerahkan nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental dan mekanisme pasar.

Dengan demikian, pergerakan nilai tukar rupiah bisa menjadi lebih stabil.

"Kami melihat sejauh ini penguatan rupiah berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Tapi kami yakinkan kalau rupiah menguat terlalu jauh dan nggak berdampak terhadap ekonomi, kami nggak segan-segan mengarahkan nilai tukar sesuai dengan fundamental, mekanisme pasar, dan stabil," ujar Perry ketika melakukan rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta.

Baca juga: Khawatir Virus Corona, Rupiah Awali Pekan Melemah

Sebelumnya, beberapa anggota Komisi XI DPR RI menghujani BI karena pergerakan nilai tukar rupiah yang terus menguat terhadap dollar AS.

"Oktober lalu exchange rate kita diprediksi Rp 14.400 sampai dengan Rp 14.600 per dollar AS di 2020. Hari ini di kisaran Rp 13.600. Pertama apa yang terjadi sehingga penguatan demikian cepat sementara data-data perekonomian belum bergerak banyak?" ujar anggota Komisi XI DPR fraksi PDIP Sihar Sitorus.

Dia pun memaparkan, dengan penguatan nilai tukar tersebut, posisi rupiah memang ramah untuk pelaku impor.

Namun demikian, karena banyak produk yang diimpor adalah barang baku yang digunakan untuk orientasi ekspor nilai tukar yang menguat cepat bisa mengakibatkan exchange rate loss atau kerugian yang diakibatkan lantaran nilai tukar lantaran kontrak ekspor dilakukan ketika nilai tukar masih di kisaran Rp 14.000 di akhir tahun lalu.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.