Kompas.com - 27/01/2020, 19:34 WIB
Ilustrasi bank ShutterstockIlustrasi bank

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada hari ini, Senin (27/1/2020) Bank Indonesia (BI) melakukan rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI.

Di dalam rapat tersebut, banyak anggota Komisi XI yang mempertanyakan suku bunga kredit perbankan yang dinilai masih cukup tinggi.

Padahal, BI sudah menurunkan suku bunga acuannya (BI 7 Days Reverse Repo Rate/BI7DRRR) sebanyak empat kali atau 100 bps sepanjang tahun lalu.

Baca juga: Di Hadapan Jokowi, Gubernur BI Sindir Perbankan Soal Suku Bunga Kredit

Bunga kredit yang cenderung masih tinggi juga berdampak pada lesunya permintaan kredit di tahun 2019.

Data terakhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2019 tercatat hanya sebesar 6,08 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Dengan siklus kredit yang berada di bawah level optimum, kira-kria industri apa yang mau didorong atau yang bisa terkena dampak dari monetary policy secara cepat? Seberapa cepat sebenarnya monetary policy dari BI di-absorb dunia usaha sehingga pertumbuhan bisa benar-benar terjadi?" ujar anggota Komisi XI DPR dari fraksi PDIP Sihar Sitorus dalam kesempatan tersebut.

Selain itu, Andreas Edi Susetyo yang juga dari fraksi PDIP menanyakan hal yang sama.

Baca juga: Suku Bunga Kredit Bank Susah Turun, Ini Kata Para Bankir

Dia pun menambahkan, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso sempat mengatakan, lemahnya pertumbuhan kredit perbankan dalam negeri terhadi lantaran korporasi lebih memilih mendapatkan suntikan dana dari luar negeri (off shore).

Di sisi lain, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) sempat mengatakan, transmisi kebijakan moneter BI terhadap suku bunga kredit bank membutuhkan waktu setidaknya enam bulan.

"Kalau demikian apa antisipasi BI terhadap dampak hal ini? Sebab ternyata perusahaan masih lebih menarik untuk melakukan pinjaman dari luar negeri. kemudian kalau gap begitu lama, langkah koordinasi lebih lanjut seperti apa yang harus ditempuh antara otoritas makroprudensial dan mikroprudensial?" ujar dia.

Baca juga: Pertumbuhan Kredit Bank pada 2019 Seret, Hanya 6,08 Persen

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.