Muncul Gap Generasi di Perusahaan, Bagaimana Mengatasinya?

Kompas.com - 01/02/2020, 08:41 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi milenial kini mulai mendominasi dunia kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 saja menyebut, milenial menyumbang 40 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.

Angka ini setara 62,5 juta pekerja. Generasi X menyumbang jumlah terbanyak yakni 69 juta pekerja, dan Baby Boomers yang menempati posisi terakhir dengan total populasi sebanyak 28,7 juta pekerja.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi perusahaan dalam mengatur strategi pengelolaan SDM, karena gap generasi menghadirkan perbedaan cara kerja, cara pandang, hingga cara komunikasi.

Baca juga: Menelisik 3 dari 4 Faktor Leadership Gap Syndrome

Ini tentunya akan berdampak pada operasional bisnis jika tidak diatasi.

Lalu, taktik apa yang dapat diterapkan oleh perusahaan untuk mengatasi lingkungan kerja multi generasi?

1. Hindari stereotipe antara genersi

Cara kerja masa lalu dan masa kini banyak berubah. Oleh sebab itu, standar pekerjaan yang dulu diterapkan bisa jadi sudah tidak relevan di masa kini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hindari pandangan bahwa generasi yang lebih tua selalu lebih tahu dan benar atau generasi muda pasti tidak memahami masalah dibandingkan dengan rekannya yang lebih tua.

Penting bagi perusahaan untuk menjembatani gap umur ini, bahwa mengasosiasikan bertambahnya umur dengan bertambahnya pengetahuan tidak serta-merta benar.

Baca juga: Terungkap, Kelebihan Pekerja Milenial hingga Baby Boomers

2. Lihat perspektif setiap generasi

Setiap generasi menyikapi sesuai dengan cara yang berbeda, dalam hal ini menjaga komunikasi adalah hal yang krusial. Gaya bahasa yang berbeda dapat menimbulkan banyak kesalahpahaman yang berujung pada penurunan kualitas kerja tim.

Beberapa ahli berpendapat memberikan stimulus-stimulus untuk membangun kerja tim seperti pelatihan, team building, social dan technical event, serta kegiatan CSR dapat menjadi alternatif jalan keluar untuk menengahi gap generasi.

3. Ciptakan ekosistem kerja untuk mengembangkan potensi individu

Membuat rencana pengembangan individu untuk masing-masing karyawan dengan tidak membeda-bedakan generasi penting dilakukan oleh perusahaan.

Ciptakan budaya diskusi dan evaluasi, saling mendengar serta memberikan umpan balik yang konstan dan konstruktif. Selain itu, dorong karyawan untuk selalu berpikir dalam kerangka yang lebih besar dan kreatif.

Baca juga: Tren Virtual Office, Kantornya Karyawan Zaman Now

4. Adopsi teknologi untuk penuhi ekspektasi antar generasi

Setiap generasi memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap perusahaan. Penggunaan teknologi bisa menjadi salah satu jembatan paling efektif untuk memberikan ruang kolaborasi, ekspresi untuk bertanggung jawab dan berkomitmen, serta delivery manfaat karyawan dengan lancar, contohnya dengan automasi sistem operasional HR melalui software seperti Talenta.

Melalui teknologi, generasi milenial atau baby boomers akhirnya bisa merasakan manfaat yang sama dan arus informasi ketenagakerjaan pun bisa lebih sistematis dan rapi.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.