Episode 3 Merdeka Belajar ala Nadiem Makarim: Rombak Skema Dana BOS

Kompas.com - 11/02/2020, 10:43 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Jakarta, Senin (10/2/2020). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Jakarta, Senin (10/2/2020).

Hal tersebut, menurut dia merupakan salah satu langkah kementeriannya untuk menyejahterakan guru honorer.

“Kalau guru-guru stres dan kesulitan bahkan untuk memenuhi kebutuhannya, transportasi, dan makan, maka tidak akan terjadi peningkatan kualitas pembelajaran. Apalagi di daerah tertinggal dan miskin di mana mayoritas gurunya adalah honorer,” ujar dia.

Baca juga: Nadiem Makarim: 50 Persen Dana BOS untuk Guru Honorer, Ini Syaratnya

Nadiem juga memberikan otonomi kepada kepala sekolah untuk mengelola uang tersebut.

"Untuk 2020 hanya ada 1, limit yaitu itu maksimal 50 persen dari dana bos itulah maksimal 50 persen yang boleh digunakan untuk pembiayaan guru honorer. Ini adalah langkah pertama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk membantu menyejahterakan guru honorer yang memang layak mendapatkan upah lebih layak, yang berkinerja dengan baik," ucap Nadiem.

4. Bisa dorong pertumbuhan ekonomi?

Sri Mulyani mengatakan, dengan perubahan skema penyaluran dana BOS, diharapkan bisa memberikan efek pendorong terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Khususnya pada tingkat konsumsi rumah tangga.

"Kita berharap dengan jumlah lebih banyak akan berikan daya ungkit ke perekonomian. Kalau seberapa besar dampak, kita harus lihat dulu karena dari sisi GDP untuk konsumsi terutama tumbuh di bawah 5 persen jadi perhatian," kata Sri Mulyani.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi tercatat 5,02 persen sepanjang 2019, lebih rendah dibandingkan 2018 sebesar 5,17 persen.

 

Baca juga: Turun, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2019 Hanya 5,02 Persen

Adapun untuk konsumsi rumah tangga di di kuartal IV hanya tumbuh 4,97 persen. Padahal kuartal IV tahun lalu tumbuh 5,06 persen.

Sri Mulyani mengatakan, langkah lain yang dilakukan pemerintah untuk mendorong kinerja perekonomian adalah peningkatan besaran dana program keluarga harapan (PKH) yang ditingkatkan, lalu penyaluran dana desa yang skemanya menjadi lebih besar di tahap pertama.

"Tujuannya, pada kuartal 1 ini terjadi peningkatan dari belanja negara dalam rangka mengimbangi efek seasonal yang kuartal 1 masih lamban. Ini juga memeratakan antar kuartal," jelasnya.

Pada kuartal selanjutnya, Sri Mulyani bilang perekonomian nasional akan didorong oleh kegiatan saat puasa dan Lebaran. Lalu pada kuartal III akan ada dorongan konsumsi dari penerimaan siswa/siswi di tahun ajaran baru.

"Kuartal kedua ada puasa dan Idul Fitri, kuartal ketiga penerimaan sekolah baru dan kita akan lihat supaya lebih merata," ungkap dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.