RI Dicoret AS dari Daftar Negara Berkembang, Pengusaha Tekstil Risau

Kompas.com - 22/02/2020, 15:02 WIB
Foto dirilis Minggu (16/2/2020), memperlihatkan pekerja menyelesaikan jahitan celana jeans di sebuah industri konveksi di Jakarta. Laporan dari Ellen McArthur Foundation mengatakan, industri tekstil saat ini masih menggunakan cara usang yaitu model ekonomi linier (buat-gunakan-buang) yang menghasilkan timbunan limbah dan polusi dari bisnis busana sedunia. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAFoto dirilis Minggu (16/2/2020), memperlihatkan pekerja menyelesaikan jahitan celana jeans di sebuah industri konveksi di Jakarta. Laporan dari Ellen McArthur Foundation mengatakan, industri tekstil saat ini masih menggunakan cara usang yaitu model ekonomi linier (buat-gunakan-buang) yang menghasilkan timbunan limbah dan polusi dari bisnis busana sedunia.


JAKARTA, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) lewat Kantor Perwakilan Perdagangan atau Office of the US Trade Representative (USTR) di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), tak lagi memasukkan Indonesia sebagai negara berkembang.

Artinya, Indonesia yang menurut AS kini berstatus negara maju, tak lagi mendapatkan perlakukan istimewa dalam perdagangan. Selama ini, negara-negara yang menyandang status negara berkembang mendapatkan keitimewaan bea masuk dan bantuan lainnya dalam ekspor-impor.

Sekretaris Jenderal Asosoasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Rakhman mengatakan kebijakan AS mengeluarkan Indonesia dari daftar negara berkembang akan membuat produk asal Indonesia terkena bea lebih tinggi.

"Yang dulunya produk kita dapat keistimewaan, sekarang sudah tidak lagi," kata Rizal kepada Kompas.com, Sabtu (22/2/2020).

Baca juga: Indonesia Dicoret AS dari Daftar Negara Berkembang, Ini Dampaknya

Menurutnya, Indonesia selama ini jadi salah satu pemain utama eksportir produk tekstil dan produk tekstil (TPT) ke AS.

Kebijakan pemerintah Donald Trump ini tentunya jadi pukulan bagi industri TPT Indonesia yang tengah bersaing ketat dengan produsen utama TPT lain seperti Vietnam.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Belum lagi soal perlakuan nanti kalau ada masalah perdagangan yang diselesaikan di WTO. Dengan status keistimewaan sudah tidak ada," ujar Rizal.

Komoditas ekspor Indonesia sendiri selama ini mendapatkan perlakuan khusus di AS karena masuk sebagai penerima fasilitas generalized system of preference (GSP).

GSP diberikan negara-negara maju pada negara berkembang dan miskin untuk membantu perdagangan mereka.

Baca juga: Maksud Terselubung AS Memasukkan RI sebagai Negara Maju

"Kita berharap dengan adanya kebijakan tersebut ekspor kita ke Amerika Serikat tidak terlalu berpengaruh signifikan, walaupun artinya bea masuk yang ke Amerika Serikat akan lebih tinggi dibanding yang sekarang," jelas Rizal.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sudah Menarik Diri, Freeport Tegaskan Tak Punya Kepentingan Lagi di Blok Wabu

Sudah Menarik Diri, Freeport Tegaskan Tak Punya Kepentingan Lagi di Blok Wabu

Whats New
Riset: Meski Pendapatan Turun, Intensitas Merokok Tak Berkurang Saat Pandemi

Riset: Meski Pendapatan Turun, Intensitas Merokok Tak Berkurang Saat Pandemi

Whats New
Luncurkan Aplikasi Lottemartmall, Lotte Mart Tebar Promo Ini

Luncurkan Aplikasi Lottemartmall, Lotte Mart Tebar Promo Ini

Spend Smart
Bos Freeport Ungkap Alasan Menarik Diri dari Blok Wabu

Bos Freeport Ungkap Alasan Menarik Diri dari Blok Wabu

Whats New
Jadi Primadona Dunia, Produk Mebel dan Kerajinan Indonesia Mendominasi Pasar Global

Jadi Primadona Dunia, Produk Mebel dan Kerajinan Indonesia Mendominasi Pasar Global

Whats New
5 Hal Penting Soal Krisis Raksasa Properti China Evergrande

5 Hal Penting Soal Krisis Raksasa Properti China Evergrande

Whats New
Vaksinasi Masih Rendah, Sumbar dan Lampung Jadi Sorotan Presiden

Vaksinasi Masih Rendah, Sumbar dan Lampung Jadi Sorotan Presiden

Whats New
Restoran dan Kafe Boleh Buka hingga Pukul 12 Malam, Ini Ketentuannya

Restoran dan Kafe Boleh Buka hingga Pukul 12 Malam, Ini Ketentuannya

Whats New
Aturan Hotel di Wilayah PPKM Level 2, 3, dan 4: Usia di Bawah 12 Tahun Wajib Antigen atau PCR

Aturan Hotel di Wilayah PPKM Level 2, 3, dan 4: Usia di Bawah 12 Tahun Wajib Antigen atau PCR

Whats New
Anak di Bawah Usia 12 Tahun Masih Dilarang Masuk Bioskop

Anak di Bawah Usia 12 Tahun Masih Dilarang Masuk Bioskop

Whats New
Simak, Ini Aturan Lengkap PPKM Level 4 di 10 Wilayah Luar Jawa-Bali

Simak, Ini Aturan Lengkap PPKM Level 4 di 10 Wilayah Luar Jawa-Bali

Whats New
Mau Beli Valas? Cek Dulu Kurs Rupiah Hari Ini di 5 Bank

Mau Beli Valas? Cek Dulu Kurs Rupiah Hari Ini di 5 Bank

Whats New
Per 20 September 2021, Realisasi KUR Pertanian Capai Rp 56,3 Triliun

Per 20 September 2021, Realisasi KUR Pertanian Capai Rp 56,3 Triliun

Rilis
PPKM Diperpanjang, Ini Aturan Perhotelan di Jawa dan Bali

PPKM Diperpanjang, Ini Aturan Perhotelan di Jawa dan Bali

Whats New
Hanya sampai Besok, Ini Cara Beli Pelatihan Pertama buat Peserta Prakerja Gelombang 18

Hanya sampai Besok, Ini Cara Beli Pelatihan Pertama buat Peserta Prakerja Gelombang 18

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.