Apa Cukup Beras Bulog Jika Terjadi Lockdown?

Kompas.com - 17/03/2020, 09:40 WIB
Pekerja mengangkat beras di Gudang Bulog Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (31/5). Stok beras Perum Bulog Divre Sulselbar mencapai 1.191 ton dan cukup untuk enam bulan kedepan termasuk untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang raya Idul Fitri 1440 H. ANTARA FOTO/Yusran Uccang/aww.
ANTARA FOTO/YUSRAN UCCANGPekerja mengangkat beras di Gudang Bulog Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (31/5). Stok beras Perum Bulog Divre Sulselbar mencapai 1.191 ton dan cukup untuk enam bulan kedepan termasuk untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang raya Idul Fitri 1440 H. ANTARA FOTO/Yusran Uccang/aww.

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mempertimbangkan usulan melakukan lockdown wilayah Jakarta. Lockdown sendiri adalah menghentikan aktivitas keluar dan masuk dari suatu tempat kecuali untuk urusan darurat.

Sementara ditegaskan Presiden Jokowi, langkah kebijakan lockdown belum jadi opsi yang mendesak dilakukan sebagaimana yang sudah diterapkan negara lain dalam pencegahan virus corona atau Covid-19.

Namun jika skenario terburuk terjadi dengan akhirnya pemerintah mengambil langkah lockdown, apa cukup pasokan kebutuhan pokok, termasuk stok beras Bulog?

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog, Tri Wahyudi Saleh, menegaskan kalau stok beras yang ada di gudang Bulog relatif masih aman dan bisa mencukupi untuk kebutuhan distribusi rutin dan operasi pasar hingga akhir tahun 2020.

Baca juga: Menteri KKP Usai Tes Corona: Saya Aman, Baik...

"Stok Bulog aman sampai akhir tahun karena akhir Maret dan April kita sudah akan menyerap hasil panen petani lagi," kata Tri dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (17/3/2020).

Apalagi saat ini, Bulog juga masih menyimpan cadangan beras sisa impor dari tahun lalu. Stok akan dikeluarkan jika harga beras di pasaran mengalami kenaikan.

"Dengan stok saat ini 1,5 juta ton, kemudian Bulog juga mempunyai target serapan 1,2 juta ton, Insyaallah stok cukup," jelas Tri.

Bulog sendiri, kata dia, terus melihat perkembangan situasi stok dan harga perberasan di tengah kekhawatiran virus corona, dan memastikan pasokan beras di pasaran tetap stabil.

Baca juga: Tes SKB CPNS Kemungkinan Akan Ditunda

Pasokan sembako aman

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyatakan, stok 11 bahan pangan pokok aman. Dengan demikian, masyarakat tak perlu khawatir dengan menipisnya stok bahan pangan.

Menurut penghitungannya, Syahrul menyatakan stok bahan pokok aman hingga Agustus 2020.

"Kementan mengawal dengan ketat pasokan dan stok (bahan) pangan. Masyarakat mohon agar tenang dan tidak perlu resah. Pasokan dan stoknya ada. Hitungan kami hingga Agustus masih cukup," kata Syahrul, Senin (16/3/2020).

Syahrul mengatakan ada 11 komoditas pokok yang dikawal pasokannya oleh pemerintah, antara lain beras, jagung, bawang merah, bawang putih, dan cabai merah besar.

Kemudian, cabai rawit, daging sapi atau daging kerbau, daging ayam ras, telur ayam ras, gula pasir, dan minyak goreng.

Menurut dia, panen raya padi, jagung dan komoditas lainnya masih terus berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Stok akan terus terisi dan secara simultan mengisi pasar.

Syahrul juga menyampaikan, memang ada komoditas yang stoknya terpaksa harus didatangkan dari luar negeri, karena memang produksi dalam negeri belum mencukupi, seperti bawang putih, daging sapi, dan gula.

Baca juga: Wabah Corona, PNS KKP Boleh Kerja dari Rumah

"Keadaannya tidak terhindarkan mengingat pemerintah ingin pastikan tidak ada kelangkaan menjelang puasa dan Lebaran," tambah dia.

Update corona di Indonesia

Sebagai informasi, pemerintah kembali mengumumkan jumlah tambahan pasien yang dinyatakan positif tertular virus corona pada Senin (16/3/2020).

Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto mengatakan, ada penambahan 17 pasien baru yang positif menderita Covid-19.

"Berdasarkan data yang kita periksa hari ini hingga tadi siang dari spesimen yang kita terima sejak kemarin sore hingga siang tadi, ada penambahan kasus sebanyak 17 confirmed positif," ujar Yuri dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Secara rinci, Yuri mengungkapkan ke-17 pasien masing-masing berasal dari DKI Jakarta (14 pasien), Jawa Barat (1 pasien), Banten (1 pasien) dan Jawa Tengah (1 pasien).

Baca juga: 5 Fakta PNS Boleh Kerja dari Rumah

Delapan pasien sembuh Yuri melanjutkan, dari 134 pasien penderita Covid-19 itu, 8 pasien telah dinyatakan sembuh. Adapun tiga pasien pertama yang dinyatakan sembuh adalah pasien kasus 6, kasus 14, dan kasus 19.

Kemudian, dua pasien Covid-19 kembali dinyatakan sembuh. Dua pasien tersebut merupakan pasien kasus 1 dan kasus 3.

 

Selanjutnya, dari 134 pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19, 5 orang di antaranya meninggal dunia. Adapun kasus pasien meninggal dunia akibat virus corona di Indonesia pertama kali diumumkan pada 11 Maret lalu.

Kasus kematian pertama ini dialami oleh pasien kasus 25. Kemudian, tiga pasien lain yang meninggal diumumkan pada Jumat (13/3/2020). Pasien yang meninggal merupakan pasien kasus 35, 36, dan 50.

(Sumber: KOMPAS.com/Elsa Catriana | Editor: Sakina Rakhma Diah Setiawan)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X