Melemah Seharian, Rupiah Ditutup di Level Rp 15.640 Per Dollar AS

Kompas.com - 16/04/2020, 16:12 WIB
Ilustrasi rupiah ShutterstockIlustrasi rupiah
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan di pasar spot ditutup melamah.

Mengutip data Bloomberg Kamis (16/4/2020) rupiah ditutup pada level Rp 15.640 per dollar AS atau melemah 65 poin (0,42 persen) dibandingkan penutupan Rabu pada level Rp 15.575 per dollar AS.

Direktur PT.TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah ini terjadi usai pasar merespon negative perkataan Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan ekspektasinya mengenai kondisi ekonomi Indonesia yang memburuk sebagai dampak pandemi virus corona.

Baca juga: Belum Ada Aturan Baru, Apa Kabar Iuran Peserta Mandiri BPJS Kesehatan?

“Pasar sedikit kecewa terhadap pernyataan Menkeu Sri Mulyani tentang buruknya ekonomi Indonesia, di mana pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh negatif,” ungkap Ibrahim.

Hal ini dinilai Ibrahim bertentangan dengan Bank Indonesia yang begitu optimis dengan fundamental ekonomi dalam negeri yang cukup tangguh, bahkan berulang-ulang memberikan informasi yang positif terhadap pasar.

“Seyogyanya Pemerintah dan Bank Indonseia harus mempersiapkan diri dengan berbagai scenario. Yang terpenting tidak boleh pesimistis terhadap kelangsungan pertumbuhan perekonomian dalam negeri dan tetap ikhtiar, berusaha dan bekerja keras dalam upaya pemulihan ekonomi,” jelas Ibrahim.

Dari sisi eksternal, pasar kembali khawatir dengan anjloknya data penjualan ritel di AS yang mencapai minus 8,7 persen pada Maret 2020. Kondisi ini merupakan yang terendah dalam sejarah Negeri Paman Sam sejak 1992.

Baca juga: HGU Lahan di RUU Cipta Kerja Jadi 90 Tahun, Lebih Lama dari Aturan Zaman Kolonial

Selain itu, indeks aktivitas manufaktur di kawasan New York juga terjun bebas hingga minus 78,2 persen. Penurunan data ekonomi juga tercermin dari laporan bank sentral AS, The Federal Reserve yang menyatakan tingkat pengangguran akan naik akibat pandemi corona.

Dari berbagai lembaga Internasional, seperti Dana Moneter International (IMF), Bank Dunia, maupun OECD (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) sudah memproyeksikan ekonomi global tumbuh negatif di 2,8 persen.

“Sejumlah industri di dunia terhenti akibat pandemi virus corona, sehingga kalau belum ada penyelesaian tentang pandemi virus corona maka akan terjadi kontraksi dan mengarah ke resesi,” kata dia.

Baca juga: Ini Pemborong Global Bond Jumbo Indonesia



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X