Bisnis Perawatan Pesawat Bakal Moncer usai Covid-19

Kompas.com - 05/05/2020, 15:18 WIB
Ilustrasi: Petugas melakukan perawatan pesawat Airbus 330 seri 200 di Hanggar II, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang di PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia (GMF AeroAsia). KOMPAS.com/Vitalis Yogi TrisnaIlustrasi: Petugas melakukan perawatan pesawat Airbus 330 seri 200 di Hanggar II, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang di PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia (GMF AeroAsia).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat bisnis penerbangan AIAC Arista Atmadjati memproyeksikan, bisnis industri perbaikan dan pemeliharaan pesawat atau Maintenance, Repair dan Overhaul ( MRO) bakal moncer pada tahun 2022.

"Ke depan, bisnis MRO memang sangat menjanjikan mengingat traffic penumpang di Indonesia selalu tumbuh dua digit. Pertumbuhan ini membuat maskapai akan menambah jumlah armada, sehingga menjadi peluang bagus untuk bisnis MRO di Indonesia dan market regional," kata Arista melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (5/5/2020).

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, potensi bisnis industri MRO di Indonesia mencapai 920 juta dollar AS atau Rp 13,8 triliun (kurs Rp 15.100 per dollar AS).

Baca juga: Garuda Siap Alokasikan 25 Seat Gratis di Setiap Penerbangan Setelah Covid Mereda

Dalam empat tahun ke depan diperkirakan bisa naik menjadi 2 miliar dollar AS, setara Rp 30,2 triliun.

"Untuk itu, para pelaku industri penerbangan tengah mendorong peningkatan kapasitas dan kapabilitas industri MRO di Indonesia," ujarnya.

Menurut Arista, secara faktual, untuk merawat 1.500 pesawat di Indonesia, hanya 4 MRO yang bisa dibilang kredibel, diantaranya PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk, MRO Lion Air di Batam, MRO Pelita Air, dan Merpati Maintenance Facilities (MMF) di Surabaya. 

Arista mengatakan, beberapa maskapai asing sudah mempercayakan perawatannya ke GMF, selain merawat pesawat Garuda Indonesia dan Citilink Indonesia.

Baca juga: Sri Mulyani: Industri Penerbangan Berada dalam Tekanan

Beberapa pelanggan GMF yaitu Lion Air, Sriwijaya Air, maskapai luar seperti KLM Belanda, Kabo Air Nigeria, PIA Pakistan, dan beberapa pesawat wide body kargo dari luar negeri.

Pada tahun ini, GMF menargetkan pendapatan tumbuh sekitar 5 persen dengan peningkatan laba bersih sekitar 10 persen.

GMF juga telah mengucurkan belanja modal sebesar 50 juta dollar AS pada tahun ini untuk mengejar pertumbuhan target laba bersih di tahun ini, yang dialokasikan untuk ekspansi bisnis, baik secara organik maupun non-organik.

"GMF optimistis dapat memenuhi target karena terjadi pekerjaan redelivery dari non-group terutama dari maskapai penerbangan internasional meningkat menjadi 35 proyek dari sebelumnya 14 proyek di tahun 2019," katanya.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X