Chatib Basri: Meski Ekonomi Bisa Terkontraksi hingga 0,4 Persen, namun Pemulihan Bisa Cepat

Kompas.com - 12/05/2020, 21:32 WIB
Pengamat ekonomi yang juga Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri saat menjadi pembicara di acara Mandiri Investment Forum di Hotel Fairmount, Jakarta, Rabu (7/2/2018). KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDOPengamat ekonomi yang juga Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri saat menjadi pembicara di acara Mandiri Investment Forum di Hotel Fairmount, Jakarta, Rabu (7/2/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Universitas Indonesia, Chatib Basri mengaku tak terkejut bila pertumbuhan ekonomi RI pada 2020 bisa sangat berat, bahkan terkontraksi hingga 0,4 persen.

Sebab, kasus pandemi Covid-19 begitu berbeda dengan krisis likuiditas pada tahun 1998 dan 2008. Semua dunia secara serentak mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi karena berbagai pencegahan penularan virus, seperti karantina wilayah (lockdown).

"Akibat dari social distancing, ekonomi negara bisa dalam situasi sangat berat. Saya enggak akan surprise kalau pertumbuhan ekonomi kita itu ada pada kisaran yang berat, Menteri Keuangan (Sri Mulyani) memprediksi yang berat -0,4 persen. Saya enggak surprise," kata Chatib dalam konferensi video, Selasa (12/5/2020).

Baca juga: BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 di Bawah 2,3 Persen

Chatib menuturkan, pertumbuhan ekonomi telah mengalami penurunan dalam 1 bulan terakhir setelah lockdown diberlakukan pada akhir Maret 2020. Hal itu terlihat ketika pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal I 2020 hanya 2,9 persen setelah digadang-gadang masih mampu tembus di kisaran 4 persen.

Chatib memprediksi, kontraksi akan semakin dalam pada kuartal II 2020 sehingga dia tak terkejut bila ekonomi bisa terkontraksi mencapai 0,4 persen pada 2020.

Pemulihan Bisa Cepat

Namun, terkontraksinya ekonomi RI hanya disebabkan karena Covid-19. Bila pandemi berakhir, Chatib yakin pemulihan ekonomi akan berlangsung lebih cepat karena fundamentalnya lebih kuat.

"Mengenai kondisi ekonomi, itu akan berat. Tapi saya akan katakan ini semua terjadi karena covid. Jadi kalau Covid-nya selesai, ekonominya akan kembali. Ini berbeda dari tahun 1998," sebutnya.

Sebelumnya, pemerintah membuka kemungkinan terealisasinya skenario sangat berat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2020.

Hal tersebut tecermin dari realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 yang hanya mencapai 2,97 persen.

Baca juga: Bank Dunia Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Cuma 2,1 Persen Tahun Ini

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah tengah mengantisipasi skenario sangat berat, yaitu perekonomian tumbuh minus 0,4 persen bila di kuartal III dan IV 2020 tak terjadi perbaikan.

Padahal sebelumnya, pemerintah masih optimistis perekonomian kuartal I bisa tumbuh di kisaran 4,5 persen hingga 4,7 persen, dan baru akan mengalami tekanan cukup dalam di kuartal II 2020. Hingga akhir tahun perekonomian diproyeksi tumbuh 2,3 persen.

"Sehingga kemungkinan masuk skenario sangat berat mungkin terjadi dari 2,3 persen menjadi minus 0,4 persen," ujar Sri Mulyani ketika memberikan paparan dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI secara virtual, Rabu (6/5/2020).

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X