Gudang Garam Proyeksikan Pendapatan Terpangkas akibat Kenaikan Cukai Rokok

Kompas.com - 15/06/2020, 19:06 WIB
Pengendara motor melintas di depan papan nama sederhana kawasan pabrik rokok PT Gudang Garam Tbk di Kediri, Jawa Timur. KOMPAS.com/M Agus Fauzul HakimPengendara motor melintas di depan papan nama sederhana kawasan pabrik rokok PT Gudang Garam Tbk di Kediri, Jawa Timur.

JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah pandemi Covid-19 yang sedang terjadi, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) memproyeksikan penurunan pendapatan pada tahun 2020 sebesar 25 persen.

Namun penurunan pendapatan bukan karena pandemic Covid-19, namun karena kenaikan cukai rokok sebesar 35 persen.

Melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (15/6/2020), Corporate Secretary Heru Budiman menjelaskan, besaran perkiraan perubahan total pendapatan (konsolidasi) untuk periode terkini tahun 2020 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019 menurun 25 persen.

Baca juga: Direktur Gudang Garam Ini Lepas Seluruh Saham GGRM Miliknya

“Sekalipun hasil laporan keuangan konsolidasi per 31 Maret 2020 belum menunjukan penurunan pendapatan penjualan, laba, dan volume penjualan perseroan sudah mengalami penurunan dibanding tahun 2019 akibat kenaikan cukai yang cukup tinggi di tahun 2020 serta daya beli masyarakat yang cenderung lesu,” kata Heru dalam keterbukaan informasi BEI.

Ia menyebut, pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri di tahun 2020, disamping daya beli masyarakat yang berkurang. Hal ini berpotensi menekan jumlah permintaan perseroan sepanjang tahun 2020.

“Dari bulan April hingga saat ini, volume penjualan terlihat menunjukkan penurunan yang lebih tajam,” tambah dia.

Tahun lalu, pemerintah memberlakukan kenaikan tarif cukai rokok yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 152/PMK.010/2019 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT).

Baca juga: Ada Corona, Penerimaan Cukai Rokok Malah Naik, Ini Sebabnya

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan menetapkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 23 persen. Kenaikan harga jual eceran (HJE) sebesar 35 persen.

Di masa pandemi Covid-19 ini, perusahaan juga tidak melakukan PHK terhadap karyawan, namun jumlah karyawan tetap dan tidak tetap mengalami pengurangan di tahun 2020 menjadi 32.308 orang, dibanding periode Desember 2019 sebanyak 32.491 karyawan.

Perseroan berupaya untuk tetap mencukupi kebutuhan masyarakat dengan memastikan standarisasi kepatuhan terhadap protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan dan World Health Organization (WHO).



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X