Kemarin BUMN Sibuk Urus Pandemi, kini Dihadapkan pada Agoraphobia

Kompas.com - 16/06/2020, 05:48 WIB
Gedung Kementerian BUMN di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Kompas.com/Akhdi Martin PratamaGedung Kementerian BUMN di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Melihat kerumunan orang belanja di pasar, lautan ojek yang mengantar pegawai pulang bekerja, puluhan orang bergerombol memasuki lift, atau penumpang kereta api di stasiun, orang bisa menjadi phobia dan cemas.

Phobia seperti ini di satu sisi bisa membatasi manusia dari kerumunan dan mencegah penularan dari wabah Covid-19, tetapi juga menimbulkan tekanan-tekanan baru terhadap perhitungan skala ekonomi infrastruktur kerja, dan membatasi konsumsi. Ia juga mengubah perhitungan kita tentang pengembalian investasi dan rencana ekspansi.

Pandemi ini sejatinya juga mengubah pola konsumsi dan percepatan pemakaian teknologi mulai dari cobot (colaboration robot) sampai kecerdasan buatan. Semua itu tentu membutuhkan pemahaman-pemahaman baru dalam berkegiatan ekonomi. Bahkan datang tekanan untuk meremajakan regulasi menjadi lebih acceptable terhadap penggunaan teknologi digital, mulai dari diagnosa pasien sampai cyber security.

Lalu juga terjadi paradoks dalam pengembangan SDM. Di satu sisi talenta-talenta dengan future skills sangat dibutuhkan, namun mereka lebih suka menjadi entrepreneur mendirikan startup yang mendisrupsi perusahaan-perusahaan besar.

Baca juga: Erick Thohir Ingin Tambah Porsi Pihak Eksternal untuk Direksi BUMN

Di sisi lain, inovasi berakibat efisiensi, membuat perusahaan-perusahaan lama harus berpikir ulang untuk mengalihkan pekerjaan dan menjaga produktivitas sumber dayanya. Di sisi lain, bangsa-bangsa tengah berjuang mengatasi pengangguran.

Dan akibat dari resesi ekonomi, isolasionisme, the rise of power, agoraphobia dan paradox of talent tersebut, dunia akan menyaksikan babak baru mega-merger disertai akuisisi-akuisisi baru yang benar-benar mengubah peta usaha dunia.

Keep it Relevance

Akhirnya, yang ke 7, adalah tantangan untuk membuat siapapun dan apapun agar tetap relevan.

Kita tahu bahwa setiap zaman ada orangnya, dan setiap orang ada waktunya.

Tentu kita tak bisa melawan hukum alam, juga tak bisa mempercepat kematangan manusia seperti meng-karbit pisang yang tampak kuning di luar namun masih keras di dalam.

Kematangan luar-dalam dibutuhkan. Gabungan dari pemahaman, kematangan emosional, kecerdasan membaca konteks dan menemukan masa depan baru, kecepatan merespon, dan kemampuan strategis menjadi penentu bagi kemajuan perusahaan termasuk BUMN.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bank BJB Sediakan Fitur Bayar Zakat Lewat Digi Cash

Bank BJB Sediakan Fitur Bayar Zakat Lewat Digi Cash

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Antara Faktor Fungsional, Estetika, dan Emosional dalam Hobi Koleksi Barang

[KURASI KOMPASIANA] Antara Faktor Fungsional, Estetika, dan Emosional dalam Hobi Koleksi Barang

Rilis
Pengusaha yang Kena Sanksi Administratif, Bukan Berarti Hilang Kewajiban Bayar THR

Pengusaha yang Kena Sanksi Administratif, Bukan Berarti Hilang Kewajiban Bayar THR

Whats New
Harga Kedelai Dunia Alami Kenaikan, Harga Tahu dan Tempe Masih Stabil

Harga Kedelai Dunia Alami Kenaikan, Harga Tahu dan Tempe Masih Stabil

Whats New
Update Jadwal CPNS 2021 dan Pengumuman Pembukaan Formasi Khusus

Update Jadwal CPNS 2021 dan Pengumuman Pembukaan Formasi Khusus

Whats New
Ada 29.296 Orang Lakukan Perjalanan Non-Mudik di Hari Kedua Larangan Mudik

Ada 29.296 Orang Lakukan Perjalanan Non-Mudik di Hari Kedua Larangan Mudik

Whats New
Viral Video Jokowi Terkait Babi Panggang Ambawang, Ini Penjelasan Mendag

Viral Video Jokowi Terkait Babi Panggang Ambawang, Ini Penjelasan Mendag

Whats New
Tanah di Desa Cibodas, Purwakarta, Sering Kehilangan Air, Kementan Laksanakan Program RJIT

Tanah di Desa Cibodas, Purwakarta, Sering Kehilangan Air, Kementan Laksanakan Program RJIT

Rilis
[KURASI KOMPASIANA] Mengapa Kita Suka Bergosip dan Bisakah Melatih Diri agar Berjarak dengan Gosip?

[KURASI KOMPASIANA] Mengapa Kita Suka Bergosip dan Bisakah Melatih Diri agar Berjarak dengan Gosip?

Rilis
Video Jokowi Promosikan Bipang Ambawang Viral, Mendag Minta Maaf

Video Jokowi Promosikan Bipang Ambawang Viral, Mendag Minta Maaf

Whats New
BUMDes Ini Kelola Pertashop, 22 Bulan Bisa Balik Modal

BUMDes Ini Kelola Pertashop, 22 Bulan Bisa Balik Modal

Whats New
Simak Lagi Beda Nasib PPPK dan CPNS Usai Lulus Seleksi ASN 2021

Simak Lagi Beda Nasib PPPK dan CPNS Usai Lulus Seleksi ASN 2021

Whats New
Ternyata Ini Cara Petugas Mengetahui Kendaraan Pemudik atau Bukan

Ternyata Ini Cara Petugas Mengetahui Kendaraan Pemudik atau Bukan

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Kiat Atasi Mabuk Perjalanan | Cara Memilih Hotel untuk Liburan | Selagi Muda Perbanyaklah Traveling

[KURASI KOMPASIANA] Kiat Atasi Mabuk Perjalanan | Cara Memilih Hotel untuk Liburan | Selagi Muda Perbanyaklah Traveling

Rilis
WN China Masuk Indonesia untuk Mengerjakan Proyek Strategis

WN China Masuk Indonesia untuk Mengerjakan Proyek Strategis

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X