IHSG Anjlok, Pemerintah Diminta Tidak Saling Menyalahkan

Kompas.com - 10/09/2020, 14:58 WIB
Foto dirilis Kamis (28/4/2020), menunjukkan karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah Covid-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Imbas wabah Covid-19, gejolak pada aspek kesehatan turut merembet ke sektor ekonomi dengan sebagian besar aktivitas ekonomi di Tanah Air terhenti. ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAFoto dirilis Kamis (28/4/2020), menunjukkan karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah Covid-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Imbas wabah Covid-19, gejolak pada aspek kesehatan turut merembet ke sektor ekonomi dengan sebagian besar aktivitas ekonomi di Tanah Air terhenti.
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah diminta tidak saling menyalahkan terkait anjloknya IHSG sebesar 5 persen ke level 4.892,87 pada hari ini, Kamis (10/9/2020).

Menurut Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad, pergerakan IHSG yang fluktuatif pada masa pandemi Covid-19 adalah hal biasa.

“Artinya sewaktu sewaktu bisa terjadi turbulensi ekonomi nasional apalagi pasar modal seperti IHSG,” ujarnya kepada Kompas.com, Jakarta.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penyebab turunnya IHSG diakibatkan oleh pengumuman PSBB oleh Gubernur DKI Anies Baswedan.

Baca juga: Jakarta Terapkan PSBB Total, Pengusaha Khawatir

Kamrussamad menilai pernyataan Airlangga mencerminkan cara pandang pemerintah yang mementingkan kepentingan di bidang ekonomi daripada kesehatan.

“Pernyataan Menko Perekonomian cermin pola pikir pemerintah," kata dia.

Ia justru menilai keputusan Gubernur DKI memberlakukan PSBB secara ketat mulai 14 September 2020 adalah langkah tepat.

Menurutnya hal tersebut dilakukan karena ada kekhawatir akan potensi penuhnya rumah sakit rujukan Covid-19 akibat Covid-19.

Sementara itu, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyatakan, PSBB bukanlah kondisi yang menyenangkan bagi pelaku usaha. Sebab PSBB dinilai akan memukul kegiatan usaha dan menekan permintaan masyarakat.

Baca juga: Menko Airlangga: IHSG Terjun di Bawah 5.000 karena Pengumuman Gubernur DKI

"Padahal saat ini pelaku usaha sudah mati-matian mempertahankan eksistensi dan kinerja dengan modal yang semakin menipis," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Jakarta, Kamis.

Shinta khawatir, bila kebijakan ini diberlakukan dalam waktu yang lama tanpa adanya hasilpengendalian Covid-19 yang memuaskan, maka banyak para pelaku usaha di sektor riil nasional khususnya UMKM akan mati karena tidak sanggup bertahan.

Meski khawatir, Shinta memahami kebijakan PSBB total dilakukan sebagai salah satu langkah untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Oleh karena itu, ia berharap kebijakan ini bisa berjalan efektif.

Baca juga: PSBB Jakarta Diperketat, Pelanggan PLN Wajib Kirim Foto Meteran Lagi?



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X