ADB Proyeksi Ekonomi Indonesia Minus 1 Persen pada 2020

Kompas.com - 16/09/2020, 12:02 WIB
Ilustrasi Indonesia SHUTTERSTOCKIlustrasi Indonesia
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Pembangunan Asia (Asia Development Bank/ADB) memproyeksi ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi 1 persen di 2020 akibat pandemi Covid-19.

Kontraksi ini merupakan yang pertama kali terjadi lagi di Indonesia sejak krisis keuangan Asia tahun 1997–1998.

Kontraksi juga terjadi di tengah proyeksi pertumbuhan negatif keseluruhan negara Asia berkembang (Developing Asian Country), termasuk Malaysia (-5,0 persen), Filipina (-7,3 persen), dan Thailand (-8,0 persen).

Direktur ADB untuk Indonesia, Winfried Wicklein mengatakan, Indonesia akan terkontraksi meskipun memiliki fundamental makroekonomi yang kuat.

Baca juga: Mau Tukar Valas? Intip Dulu Kurs Rupiah di 5 Bank

"Indonesia diperkirakan akan menghadapi jalur pertumbuhan yang sulit sampai dengan akhir tahun 2020, mengingat besarnya ketidakpastian dalam cakupan dan tren pandemi di Indonesia,” kata Winfried dalam laporan ADB yang dirilis hari ini, Rabu (16/9/2020).

Laporan menyebut, kontraksi disebabkan karena konsumsi Indonesia mengalami kontraksi pada semester I-2020. Hal ini seiring dengan pemotongan belanja oleh rumah tangga dan penundaan investasi oleh dunia usaha.

Permintaan terhadap ekspor Indonesia pun ikut merosot seiring diberlakukannya karantina wilayah di seluruh dunia.

ADB memprediksi, belanja rumah tangga masih akan tetap rendah dalam waktu dekat, mengingat adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menanggulangi penyebaran virus.

"Karena permintaan global dan domestik akan tetap lemah pada 2020, kegiatan perdagangan dan investasi pun akan tetap rendah," papar Winfried.

Baca juga: Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Di Bawah -2,1 Persen akibat PSBB DKI

Lemahnya permintaan domestik dalam jangka waktu dekat membuat ADB merevisi perkiraan inflasi di Indonesia. Tahun ini, inflasi diprediksi menjadi 2 persen, dari laporan ADB pada April sebesar 3 persen.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan diperkirakan akan turun menjadi setara dengan 1,5 persen produk domestik bruto 2020.

"Sebabnya karena impor barang modal merosot lebih tajam daripada kontraksi pendapatan dari pariwisata dan ekspor komoditas," tutur Winfried.

Baca juga: Pendaftaran Kartu Prakerja Tahun Ini Berhenti di Gelombang ke-10

Bisa pulih lebih cepat

Kendati demikian, laporan memproyeksi pemulihan akan berlangsung dengan cepat.

Hal ini terlihat dari naiknya permintaan domestik mampu mendongkrak indeks manajer pembelian di bidang manufaktur hingga melampaui ambang batas 50 pada bulan Agustus.

Keyakinan konsumen juga semestinya ikut naik seiring bantuan pembiayaan dari pemerintah untuk investasi dan operasi usaha.

Ekonomi RI diyakini akan kembali ke tingkat pertumbuhan 5,3 persen pada tahun 2021. Seiring pulihnya belanja rumah tangga dan dunia usaha pada tahun 2021, inflasi diperkirakan akan naik ke level 2,8 persen.

ADB menyebut, pemulihan ekonomi Indonesia tahun depan akan didukung oleh perekonomian global dan reformasi domestik yang meningkatkan investasi.

"Ke depannya, prioritas kebijakan yang konsisten dan terkoordinasi, disertai keseimbangan antara perlindungan nyawa dan mata pencaharian, serta memulai kembali kegiatan usaha secara aman, tetaplah penting guna memastikan pemulihan yang cepat dan inklusif," papar Winfried.

Baca juga: Subsidi Gaji Tahap III Sudah Cair, Silakan Cek Rekening



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X