Dampak Pandemi, Peritel Alat Musik Terbesar di AS Ajukan Pailit

Kompas.com - 23/11/2020, 12:31 WIB
ilustrasi hakim shutterstockilustrasi hakim

NEW YORK, KOMPAS.com - Guitar Center, perusahaan ritel alat musik terbesar di Amerika Serikat (AS), mengajukan perlindungan kepailitan atau kebangkrutan ke pemerintah AS.

Hal ini sekaligus menambah deretan perusahaan di Negeri Paman Sam yang mengajukan kebangkrutan pada masa pandemi Covid-19. Diantaranya ada Brooks Brothers, Hertz, California Pizza Kitchen, hingga Chuck E.

Melansir CNN, Senin (23/11/2020), Guitar Center yang telah beroperasi selama 61 tahun tersebut, sudah mencoba bertahan di masa pandemi dengan menawarkan pelajaran musik secara virtual.

Kendati demikian, perusahaan terpaksa menutup banyak tokonya pada Maret 2020 seiring dengan kebijakan lockdown nasional yang diterapkan pemerintah AS. Upaya lain untuk menggaet pembeli ketika ekonomi lebih stabil, ternyata tak memberi hasil.

Baca juga: Cerita Pelaku UKM Dapat BLT UMKM Rp 2,4 Juta Bisa Kembali Buka Warkopnya

Guitar Center memiliki toko di 269 lokasi, banyak di antaranya berada di mal-mal yang memang sedang berjuang bertahan bahkan jauh sebelum adanya pandemi Covid-19.

Namun pandemi membuat tingkat kunjungan ke mal semakin anjlok, toko-toko yang menjual barang tahan lama seperti Guitar Center menjadi yang paling terpukul pada tahun ini.

Perusahaan menyatakan, dalam pengajuan kebangkrutannya mereka telah menerima hingga 165 juta dollar AS dalam investasi ekuitas baru dan pemberian pinjaman untuk mengurangi utang perusahaan hampir 800 juta dollar AS.

Induk perusahaan, Ares Management Corporation, dan investor ekuitas baru Brigade Capital Management, serta pendanaan yang dikelola oleh The Carlyle Group, bakal membantu membiayai Guitar Center melalui masa kebangkrutan.

"Ini adalah langkah penting dan positif dalam proses kami untuk secara signifikan mengurangi beban utang dan meningkatkan kemampuan untuk berinvestasi kembali dalam bisnis kami guna mendukung pertumbuhan jangka panjang," ujar CEO Guitar Center Ron Japinga.

Baca juga: Pertalite Seharga Premium Kini Tersedia di 143 SPBU Jakarta

Meski demikian, perusahaan memastikan akan terus menjalankan bisnis selama proses kebangkrutan. Perseroan menargetkan bisa menyelesaikan proses tersebut pada akhir tahun.

Namun tetap beroperasinya toko mungkin tidak bisa memanfaatkan momentum ledakan belanja yang biasanya terjadi di musim liburan.

Lantaran, berdasarkan survei Gallup. lebih dari seperempat orang Amerika atau sekitar 28 persen mengatakan, mereka akan menggunakan lebih sedikit uang untuk keperluan hadiah liburan tahun ini dibandingkan tahun lalu.

"Kami akan terus melayani pelanggan kami dan mewujudkan misi kami untuk menghadirkan lebih banyak musik di dunia," kata Japinga.

Baca juga: Politik Kelistrikan, Kebijakan Fiskal dan Tarif Listrik



Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X