KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

Membuat Komunikasi Lebih Bermakna pada Masa Pandemi

Kompas.com - 13/02/2021, 08:03 WIB
Ilustrasi komunikasi virtual. Dok. ShutterstockIlustrasi komunikasi virtual.

DALAM obrolan santai dengan beberapa teman, terungkap bahwa mereka merasakan perubahan atmosfer dalam berkomunikasi dengan rekan-rekan kerja pada masa pandemi.

"Rasanya, sekarang banyak teman lebih cepat marah karena hal-hal yang sebenarnya tidak perlu sampai membangkitkan emosi sedemikian rupa," tutur salah satu teman dalam obrolan tadi.

Teman lain ada yang merasa bahwa persahabatan dengan rekan kerja mulai mengendur. “Ada yang hilang dalam persahabatan kami, tidak tahu apa persisnya,” ungkap teman lainnya.

Salah duga dan salah sangka semakin sering terjadi. Selain itu, banyak pekerja yang harus membina hubungan erat dengan para pelanggan juga merasakan kesulitan dalam menjaga hubungan bisnis.

Ada pelanggan yang menolak berkomunikasi secara virtual dan menuntut pemberi servis untuk datang secara langsung bila ingin bertemu. Sementara, urusan kesehatan tetap perlu kita perhatikan. Bagaimanapun, pandemi masih belum usai.

Semua orang percaya, komunikasi merupakan hal penting. Namun, tidak semua orang dapat berkomunikasi dengan baik. Ada sebagian orang merasa tidak begitu pandai berkomunikasi. Sebagian lainnya merasa pintar sekali berkomunikasi, bahkan bisa memersuasi dan memengaruhi orang.

Baca juga: 2021, Saatnya Berkreativitas…

Demi memperlancar komunikasi daring selama pandemi, sebagian besar orang terus berusaha mempelajari cara-cara penggunaan beragam perangkat maupun platform digital, lengkap dengan beragam etiketnya. Contohnya, mematikan suara bila kita sedang mendengar pihak lain berbicara dan menuliskan komentar di chat box.

Namun, berapa banyak orang yang sadar bahwa ia perlu mengembangkan keterampilan berkomunikasi selama masa pandemi? Mungkin hanya segelintir.

Profesor komunikasi dari Universitas Alabama, Tim Levine, pernah melakukan penelitian mengenai komunikasi pada masa Covid-19. Ia mengatakan, pembatasan sosial memang merupakan upaya terbaik dalam membendung penyebaran Covid-19. Meski begitu, upaya tersebut dapat menimbulkan isolasi sosial yang berdampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik dalam jangka panjang.

Berkurangnya kontak dengan orang lain, kata dia, membuat orang cenderung mudah curiga. Hal ini memicu timbulnya sikap defensif berdasarkan asumsi-asumsi yang tidak terbukti, tapi bisa menjadi self-fulfilling prophecy. Akibatnya, proses komunikasi jadi terhambat.

Oleh karena itu, tantangan kita dalam menghadapi situasi pandemi adalah menemukan cara untuk terus-menerus meningkatkan mutu komunikasi. Dengan demikian, kualitas kerja dan hidup kita pun bisa berkembang.

Be considerate

Dalam dunia kerja, kita mengenal komunikasi bisnis. Banyak orang beranggapan, komunikasi bisnis harus dijalankan secara lugas, apa adanya, dan tanpa pendekatan personal. Namun, justru pada masa pandemi, kita disadarkan bahwa pendekatan personal menjadi semakin penting untuk diupayakan.

Kita juga perlu menyadari bahwa setiap negara, daerah, maupun organisasi memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, sebagai seorang komunikator yang andal, kita perlu menyesuaikan diri dengan gaya dan cara berkomunikasi lawan bicara yang sedang kita hadapi.

Eileen Rachman.Dok. EXPERD Eileen Rachman.

Dalam relasi seperti itu, membangun koneksi personal adalah sebuah pilihan. Kita bisa memilih berbicara seperlunya saja sesuai dengan pesan yang ingin kita sampaikan. Namun, di sisi lain, kita juga bisa memilih untuk menyentuh emosi lawan bicara kita dengan pendekatan dari hati ke hati.

Kita perlu menguatkan rasa untuk mengetahui keinginan dan harapan lawan bicara dari komunikasi yang dijalani. Hal ini tidak hanya berlaku dalam komunikasi lisan. Dalam komunikasi tertulis, kita perlu menggunakan kalimat yang mempertimbangkan perasaan pembaca.

Sadari kondisi emosi kita sendiri. Bila perlu, tunda pembicaraan atau penulisan e-mail karena keadaan emosi kita bisa terbawa dan mewarnai kalimat-kalimat yang kita gunakan.

Kita bisa melakukan icebreaking dengan berbicara mengenai keluarga dan teman-teman. Dengan cara ini, kita juga semakin mengenal lawan bicara kita, mulai dari hal yang menarik minat mereka hingga sesuatu yang mereka anggap “berharga” dalam hidup mereka ini.

Ingat, human connection yang tadinya bisa terjalin dengan wajar sambil bertatap muka, sekarang harus diupayakan dengan pendekatan yang lebih intensif. Kita pun perlu menganggap bahwa individu yang sedang kita ajak bicara adalah seorang yang kaya pengalaman, kaya pengetahuan, dan menarik untuk diajak bicara.

Baca juga: Komunikasi Tatap Muka

Dengan segala macam tantangan yang ada pada masa pandemi, siapa pun akan merasa lega bila mendapatkan perhatian lebih yang menyentuh hatinya. Jangan lewatkan kesempatan untuk dapat membuat orang lain merasa lebih berarti dalam interaksi komunikasi yang kita lakukan dengan mereka.

Perhatikan timing

Apa pun tujuan pertemuan yang dilakukan, baik mengumumkan kabar gembira maupun sekadar ajakan minum kopi bareng di Zoom, kita tetap perlu memperhatikan kesibukan dari masing-masing individu. Tidak semua orang siap sedia untuk diajak berkomunikasi setiap waktu.

Barangkali orang yang kita ajak berkomunikasi belum sempat memasak makanan untuk anaknya atau sudah lelah karena seharian mengejar deadline pekerjaannya. Tidak ada salahnya bila kita—baik sebagai atasan, bawahan, maupun kolega bisnis—bertanya terlebih dahulu apakah mereka sedang memiliki waktu atau tidak.

Kita juga sebaiknya bertanya mengenai media komunikasi yang paling nyaman untuk digunakan oleh lawan bicara dalam berkomunikasi. Tidak ada salahnya pula bila kita yang memang lebih peka memberikan servis dan perhatian kepada lawan bicara kita.

Hindari penilaian

Dalam keadaan yang penuh ketidakjelasan, ada individu yang begitu cepat ingin membuat statement dengan menyatakan benar atau salah suatu kejadian maupun reaksi orang lain.

Kita perlu selalu mengingat bahwa setiap individu menjalani masa pandemi dengan cara yang berbeda-beda. Tidak semua cara tersebut sama dengan standar kita. Untuk itu, kita perlu sedikit menahan diri dalam membuat penilaian-penilaian yang belum tentu benar.

Setiap individu memiliki beban hidup sendiri-sendiri. Kita sebaiknya memasang sensor perasaan dan menyediakan telinga agar lawan bicara memiliki kesempatan curhat bila memang bersedia.

Dengan demikian, kita dapat mengembangkan hubungan pertemanan menjadi lebih dalam dan bermakna.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya