BI Diproyeksi Turunkan Suku Bunga ke 3,50 Persen Bulan Ini

Kompas.com - 12/02/2021, 19:16 WIB
Logo Bank Indonesia (BI). KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWANLogo Bank Indonesia (BI).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) diproyeksi kembali menurunkan suku bunga sebanyak 25 bps menuju 3,50 persen pada Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung tanggal 18 bulan ini.

Ekonom Bahana Sekuritas, Putera Satria Sambijantoro mengatakan, proyeksi tersebut didasarkan para pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam beberapa kesempatan.

Perry sempat menyebut bank sentral bakal mengadopsi kebijakan suku bunga rendah dan likuiditas longgar hingga tanda-tanda tekanan inflasi terwujud.

Baca juga: Nelayan Tegal Siap Gunakan Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan

"Kami menafsirkan pernyataan ini, di mana kebijakan suku bunga disebutkan pertama kali sementara dukungan likuiditas berada di urutan kedua, sebagai sinyal bahwa penurunan suku bunga kemungkinan besar akan segera terjadi," kata Satria dalam laporannya, Jumat (12/2/2021).

Satria menyebut, sinyal diperkuat ketika Perry menekankan bank sentral masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut dan mencatat bahwa tingkat inflasi pada Januari 2021 terlalu rendah.

Sedangkan ketika BI menahan suku bunga dalam 2 kali rapat RDG, tidak ada penyebutan suku bunga yang lebih rendah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Hal ini sejalan dengan pandangan kami bahwa bank sentral mungkin masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga sebesar 25-bps menjadi 3,50 persen tahun ini, kemungkinan besar pada kuartal I 2021," ungkap Satria.

Satria melihat, waktu terbaik untuk mengeksekusi penurunan suku bunga sebesar 25 bps terjadi antara bulan Februari dan Maret 2021, mengingat adanya kenaikan rupiah dan tekanan inflasi ke depan.

Berdasarkan perhitungan, ada sekitar 7,57 miliar dollar AS utang pemerintah dan korporasi yang akan jatuh tempo dalam 5 bulan ke depan, di atas permintaan valas yang tinggi secara siklus untuk repatriasi dividen.

Jumlah terbesarnya di sekitar bulan Mei dengan rincian 3,4 miliar dollar AS obligasi pemerintah dan 1,64 miliar obligasi korporasi

Sementara dari sisi inflasi, bank sentral sudah mewaspadai adanya potensi kenaikan inflasi di kuartal IV 2021, karena ekspansi jumlah uang beredar M2 yang agresif bertepatan dengan pemulihan ekonomi dan kenaikan tajam harga pangan global.

"Jika BI ingin mendukung pertumbuhan, penurunan suku bunga harus dilakukan dalam periode risk-on saat ini atau paling cepat pada 18 Februari, untuk memanfaatkan stabilitas di indeks VIX, DXY, dan inflasi inti," jelas Satria.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.