Mei 2021, Nilai Tukar Petani Naik 0,44 Persen Mencapai 103,39

Kompas.com - 02/06/2021, 14:24 WIB
Ilustrasi petani sedang memanen hasil pertaniannya. Dok. Pexels/Pat WhelenIlustrasi petani sedang memanen hasil pertaniannya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai tukar petani (NTP) pada bulan Mei 2021 meningkat 0,44 persen.

Dengan demikian, NTP nasional pada Mei mencapai 103,39. Secara kumulatif, NTP Januari–Mei 2021 sebesar 103,20 dengan nilai indeks yang diterima petani (It) sebesar 111,01 sedangkan indeks yang dibayar petani (Ib) sebesar 107,58.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan, kenaikan disebabkan karena indeks yang diterima petani mengalami kenaikan lebih besar dari kenaikan indeks yang dibayar petani.

Baca juga: Bank Mandiri Dampingi Petani di Kebumen Bikin Perusahaan

"Indeks yang diterima petani naik 0,66 persen, lebih besar dari indeks yang dibayarkan petani 0,21 persen," kata Setianto dalam konferensi virtual, Rabu (2/6/2021).

Setianto menuturkan, komoditas yang dominan menaikkan indeks yang diterima petani, adalah kelapa sawit, sapi potong, jagung, ayam ras, daging, kentang, gabah, petai, karet, ayam kampung, tongkol, dan cengkeh.

Sedangkan, komoditas penghambat kenaikan indeks antara lain, cabai rawit, cabai merah, bawang merah. Telur ayam ras.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Adapun komoditas yang mempengaruhi indeks yang dibayar petani adalah daging ayam ras, minyak goreng, jengkol, rokok kretek filter, kelapa, ayam kampung hidup, dan sebagainya.

"Sementara komoditas yang menghambat indeks yang dibayarkan petani adalah cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, bawang merah, dan lainnya," ujar Setianto.

Setianto berujar, seluruh subsektor mengalami kenaikan indeks, kecuali subsektor holtikultura. Tercatat NTP tanaman pangan naik 0,63 dari 96,24 menjadi 96,85.

Baca juga: Bulan Mei 2021, Harga Beras Premium Naik Jadi Rp 9.627 per Kilogram

Begitu pula untuk NTP tanaman perkebunan rakyat naik 1,05 dari 117,18 menjadi 118,41 dan NTP peternakan naik 0,85 dari 98,99 menjadi 99,84.

"NTP tanaman pangan naik disebabkan karena indeks yang diterima petani tanaman pangan naik 0,84 persen lebih besar dari yang dibayarkan petani tanaman pangan sebesar 0,20 persen," ungkap dia.

Berbanding terbalik, NTP holtikultura menyusut 2,75 dari 104,30 menjadi 101,42. Komoditas dominan mempengaruhi indeks yang diterima petani holtikultura antara lain, cabai rawit, cabai merah, bawang merah, kol, bawang daun, tomat, buncis, terong, wortel, dan cabai hijau.

"Lalu komoditas yang dominan menghambat penurunan indeks yang diterima petani holtikultura antara lain, kentang, petai, salak, semangka, nanas, pisang melon, jambu biji alpukat, dan seledri," sebut dia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

 IHSG Parkir di Zona Hijau pada Penutupan Sesi I, Rupiah Melemah

IHSG Parkir di Zona Hijau pada Penutupan Sesi I, Rupiah Melemah

Whats New
Kementan dan Kemendag Beda Pendapat soal Penyebab Kenaikan Harga Jagung

Kementan dan Kemendag Beda Pendapat soal Penyebab Kenaikan Harga Jagung

Whats New
Bantah Pernyataan Menteri Perdagangan, Kementan Buka-bukaan Soal Stok Jagung

Bantah Pernyataan Menteri Perdagangan, Kementan Buka-bukaan Soal Stok Jagung

Whats New
ADB Kembali Pangkas Proyeksi Ekonomi RI, Jadi 3,5 Persen Sepanjang 2021

ADB Kembali Pangkas Proyeksi Ekonomi RI, Jadi 3,5 Persen Sepanjang 2021

Whats New
Harga Bitcoin Terus Merosot, Kini Sentuh Rp 590 Juta

Harga Bitcoin Terus Merosot, Kini Sentuh Rp 590 Juta

Whats New
Agustus 2021, Uang Beredar di Indonesia Hampir Tembus Rp 7.200 Triliun

Agustus 2021, Uang Beredar di Indonesia Hampir Tembus Rp 7.200 Triliun

Whats New
Anggota DPR Sebut Ada Warga yang Tak Bisa Cairkan BLT UMKM karena Belum Vaksinasi

Anggota DPR Sebut Ada Warga yang Tak Bisa Cairkan BLT UMKM karena Belum Vaksinasi

Whats New
Likuiditas Melimpah hingga Capai Level Tertinggi Sepanjang Sejarah, BI Minta Bank Salurkan Kredit

Likuiditas Melimpah hingga Capai Level Tertinggi Sepanjang Sejarah, BI Minta Bank Salurkan Kredit

Whats New
Berdikari Datangkan Gandum untuk  Stabilisasi Harga Pakan

Berdikari Datangkan Gandum untuk Stabilisasi Harga Pakan

Whats New
Ragam Tingkah Pengemplang BLBI, Tak Penuhi Panggilan hingga Mengaku Tak Punya Utang

Ragam Tingkah Pengemplang BLBI, Tak Penuhi Panggilan hingga Mengaku Tak Punya Utang

Whats New
Penggunaan PeduliLindungi di Bandara AP II Capai 1 Juta Kali

Penggunaan PeduliLindungi di Bandara AP II Capai 1 Juta Kali

Rilis
Amazon Beri Mobil dan Uang Tunai ke Karyawan yang Sudah Divaksinasi

Amazon Beri Mobil dan Uang Tunai ke Karyawan yang Sudah Divaksinasi

Whats New
Cara Cek Ongkir Pos Indonesia Lewat Handphone

Cara Cek Ongkir Pos Indonesia Lewat Handphone

Whats New
Penggunaan Aplikasi PeduliLindungi Diperluas, Simak Cara Daftar dan Penggunaannya

Penggunaan Aplikasi PeduliLindungi Diperluas, Simak Cara Daftar dan Penggunaannya

Whats New
Sebelum Beli Valas, Cek Kurs Rupiah Hari Ini di 5 Bank

Sebelum Beli Valas, Cek Kurs Rupiah Hari Ini di 5 Bank

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.