Diskusi dengan Bank Dunia, Pemerintah Kembali Singgung Pajak Sembako

Kompas.com - 17/06/2021, 13:04 WIB
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara di Jakarta, Senin (9/3/2020). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAWakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara di Jakarta, Senin (9/3/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kembali menyinggung soal penerapan pajak sembako dalam diskusi bersama Bank Dunia.

Sebagai informasi, pemerintah berencana memungut pajak dari sembako hingga sekolah, sebagai salah satu upaya mereformasi sistem perpajakan.

Wakil Menteri Suahasil Nazara mengatakan, memungut PPN pada sembako adalah cara pemerintah mengencangkan pendapatan negara setelah dihantam pandemi Covid-19.

Baca juga: Bakal Kena PPN Sembako, Ini Perbandingan Harga Beras Shirataki dengan Rojolele

Namun dia memastikan, pengenaan PPN ini harus hati-hati mengingat berdampak pada semua kalangan masyarakat.

"Berkaitan dengan diskusi yang ada saat ini tentang pemerintah ingin menerapkan pajak pada sembako ataupun bahan baku, bukan itu niatnya sebetulnya. Kami ingin meningkatkan rasio perpajakan tapi kami akan melakukannya dengan cara yang sangat berhati-hati," kata Suahasil dalam Indonesia Economic Prospects, Kamis (17/6/2021).

Suahasil beranggapan, reformasi kebijakan dilakukan agar mendukung kebijakan perpajakan jangka menengah. Bukan hanya sekedar pendapatan, otoritas ingin ada kesetaraan dalam perpajakan yang nantinya hendak direformasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tapi yang paling penting adalah memastikan ada kesetaraan dalam prinsip perpajakan," tutur Suahasil.

Kesetaraan yang dimaksud adalah adanya prinsip gotong royong, di mana masyarakat kelas menengah menjadi objeknya. Sembako yang dinikmati masyarakat kelas menengah akan diberikan tarif PPN lebih tinggi, sementara masyarakat kelas bawah akan diberikan tarif lebih rendah.

Baca juga: Ini Daftar Sembako Premium yang Akan Dikenakan PPN

Dengan kata lain, masyarakat kelas atas akan menyubsidi PPN untuk kelas bawah.

Menurutnya, mekanisme single tarif saat ini belum mampu menangani hal itu. Makanya, pemerintah bakal mengubahnya menjadi multi tarif.

"Jadi kami percaya bahwa prinsip perpajakan, prinsip kesetaraan dalam perpajakan itu harus ada dan itu yang harus kita terapkan. Sangat penting kita bisa memiliki tarif berganda atau multiple," pungkas Suahasil.

Meningkatkan pendapatan negara dari basis pajak adalah salah satu rekomendasi Bank Dunia akan pemulihan ekonomi bertahan dalam jangka menengah. Meningkatkan pajak dipercaya mampu membawa Indonesia kembali ke defisit 3 persen dari PDB.

Dua rekomendasi lainnya dari Bank Dunia untuk pemulihan ekonomi adalah vaksinasi massal serta mensejajarkan strategi fiskal dan moneter sampai pemulihan ekonomi lebih kuat.

Pemerintah juga diminta terus menggulirkan bantuan sosial pada tahun 2021, minimal sama besar dengan bansos yang disalurkan pada tahun 2020 lalu.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X