KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Digital Generation Gap

Kompas.com - 18/09/2021, 08:33 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DALAM sebuah rapat yang dihadiri oleh tiga generasi, generasi milenial dan generasi Z kerap mengemukakan pendapat yang mengejutkan generasi pendahulunya.

Kedua generasi itu sering dianggap sebagai junior yang sulit dimengerti. Namun, sebenarnya kita, generasi baby boomers dan X, harus sering mendengarkan pendapat mereka. Persepsi mereka terhadap dunia ini memang berbeda dari generasi pendahulunya, tetapi lebih sesuai dengan situasi yang terjadi di pasar saat ini.

Pikiran mereka tampak jauh lebih berdiversifikasi, berkonsep, dan mengandung self reflection. Mereka bisa disebut sebagai digital native. Sementara kita, bila mau belajar, bisa menyebut diri kita digital immigrant.

Kita adalah orang-orang yang belajar menjadi pengguna setia dari beragam layanan yang ditawarkan pasar dunia digital, tetapi tetap membawa gaya komunikasi, cara berpikir, dan keterampilan dari masa lalu.

Cepat atau lambat, kita sudah harus membangun digital organizations. Artinya, kita perlu melakukan reskilling. Peningkatan berbagai kemampuan harus dilakukan kalau tidak mau ketinggalan oleh mereka.

Baca juga: Psikolog UGM: Orangtua Wajib Tahu 8 Karakteristik Generasi Digital

Tidak disangka-sangka, generasi muda inilah yang menyadarkan kita bahwa pelanggan bukan sekadar raja yang harus dituruti. Lebih dari itu, pelanggan harus dipahami dan didalami kebutuhannya.

Pada April 2016, sebuah perusahaan enterprise resource planning (ERP) raksasa asal Jerman, SAP, mengangkat Thomas Saueressig yang berusia 31 tahun menjadi chief information officer (CIO).

Oleh majalah Forbes Global, ia dinominasikan sebagai CIO termuda. Kesuksesan Saueressig membuktikan bahwa terbentuknya generasi digital adalah kenyataan di depan mata.

Ia menekankan betapa pelanggan perlu didengar. Saueressig pada suatu kesempatan mengatakan, “The expectations of end users have changed significantly, especially for the new generation of millennials.” Menurutnya, transformasi pola pikir baru dari pola pikir teknologi informasi (TI) yang tradisional juga perlu dilakukan secara menyeluruh.

Kita memang tidak bisa mengelak dari pandangan dan perspektif yang sudah berbeda 360 derajat. Dulu, kita banyak berfokus dan berorientasi pada produk. Sekarang, pemahaman dan keahlian menggali kemauan dan kebutuhan pelangganlah yang harus menjadi fokus. Selain itu, dulu data pelanggan yang ada sering terabaikan. Sekarang, data tersebut dianggap harta yang paling berharga.

Baca juga: Toko Online dan Generasi Digital Pacu Pertumbuhan Ekonomi

Untuk menjembatani perbedaan antargenerasi tersebut, mau tidak mau kita harus mendalami pemikiran dan persepsi generasi milenial dan Z. Bila tidak, bahkan menjadi digital immigrant pun kita tidak akan berhasil.

Belajar dari para milenial

Kesenjangan generasi ini menurut Saueressig tidak hanya disebabkan usia, tetapi juga era kelahiran yang berbeda. Hal tersebut menyebabkan perbedaan cara pikir.

Generasi baru, yakni milenial dan generasi Z, memiliki visi yang lebih berjangka panjang. "This young generation is high-context," demikian seorang chief employee experience berkomentar.

Mereka mau tahu mengapa dirinya harus bekerja di sebuah organisasi dan ke mana tujuan organisasi tersebut. Mereka pun tidak melihat dunia TI seperti cara kita melihat. Menurut mereka, TI tradisional itu sekadar help desk.

Bila generasi kita sibuk dengan “silo-silo” dan enggan bekerja sama, mereka justru tidak tahan dalam suasana kerja dengan interaksi yang terbatas. When it comes to managing their work, you have to meet them in that way — the social way.

Baca juga: Para Bos, Ini Cara Terbaik Memperlakukan Karyawan Milenial

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman
Mereka membutuhkan umpan balik dengan segera supaya tahu bagaimana melanjutkan pekerjaannya. Mereka menyukai kreativitas dan kebebasan dalam eksekusi. Terlalu banyak do’s dan don'ts dianggap menghambat kreativitas mereka.

Mereka juga tidak percaya pada hierarki. Menurut mereka, sangatlah wajar bila ada anak muda yang kreatif dan cakap ditunjuk untuk mendobrak active inertia alias kemapanan organisasi. It's more about connecting the right people to do the right things.

Mengingat masa depan adalah milik yang muda, kita benar-benar perlu berusaha untuk menjembatani perbedaan mindset ini dan mengikuti tuntutan masa depan dalam perkembangan organisasi kita.

Menjembatani antargenerasi

Pertama, kita perlu membangun persepsi dan visi yang sama mengenai TI. Kita harus punya pandangan bahwa TI bukan lagi divisi yang mengurus automasi proses bisnis perusahaan, melainkan sebagai jantung perusahaan.

Pasalnya, kita memang sudah akan membangun digital organizations. TI dibutuhkan untuk mengarahkan perusahaan ke cara-cara baru. Tujuannya, agar perusahaan dapat menangkap dan menjawab kebutuhan pelanggan dengan waktu supercepat.

Baca juga: Kata Generasi X, Y, dan Baby Boomers Soal Main Medsos Saat Liburan

Pada masa digital ini, ada dua hal yang menjadi fokus utama dari perusahaan, yaitu data dan marketing. Belum pernah ada era ketika marketing dan TI menjadi demikian penting, terutama dengan ditunjang kemampuan untuk membaca data serta menganalisisnya.

Kedua bagian itu harus berkolaborasi dan berinovasi dalam menyuarakan peran perusahaan bagi publik melalui kecanggihan TI-nya. Kedua kubu ini perlu saling mengerti.

Kita juga tidak boleh berasumsi soal usia. Ada penelitian yang mengatakan, tidak semua baby boomers atau gen X yang berpola pikir fixed. Banyak analis data dari gen X yang sukses karena pengalaman dan kemauannya belajar mengenai teknologi baru, serta berpikir out of the box.

Saat ini, baby boomer termuda berusia 50 tahun dan tertua sekitar 70 tahun. Banyak di antara mereka sudah mulai memikirkan saat-saat pensiun. Perusahaan perlu memikirkan knowledge gap yang akan terjadi bila kepergian mereka tidak dipersiapkan.

Ada beberapa hal juga yang dapat dilakukan, seperti melibatkan para baby boomers dalam program inisiasi perusahaan agar karyawan baru mendapatkan tacit knowledge dari pengalaman mereka. Perusahaan juga dapat menggalakkan program mentoring untuk mentransfer values perusahaan.

Baca juga: Mengenal Xenial, Generasi Baru antara Generasi X dan Milenial

Ada perusahaan yang sengaja memasangkan para senior dengan generasi digital native dalam proyek-proyek inovasi sehingga terjadi kolaborasi antara dua mindset yang berbeda untuk memperkaya hasilnya.

Hal yang juga sangat populer saat ini adalah diadakannya reverse mentoring, yaitu proses belajar terjadi dari kedua belah pihak. Karyawan muda dan senior saling bertukar pengetahuan sesuai keahlian masing-masing.

Semesta sebetulnya masih menyediakan kemungkinan bagi kita untuk hidup bersama asalkan kita berkehendak untuk beradaptasi.

 


komentar di artikel lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com