Saat Anak Cucu BUMN Terlalu "Gemuk" dan Jadi Benalu...

Kompas.com - 03/12/2021, 08:35 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/12/2021). Rapat tersebut membahas penyampaian rencana Initial Public Offering (IPO) dan Right Issue BUMN di tahun 2021-2022. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/hp. ANTARAFOTO/Dhemas ReviyantoMenteri BUMN Erick Thohir mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/12/2021). Rapat tersebut membahas penyampaian rencana Initial Public Offering (IPO) dan Right Issue BUMN di tahun 2021-2022. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/hp.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir terus melakukan perampingan jumlah BUMN maupun jumlah anak-cucu perusahaan pelat merah.

Ia ingin BUMN bisa fokus pada lini bisnis utamanya.

Erick menjelaskan, jumlah BUMN kini sudah dirampingkan, dari semula ada 108 perusahaan menjadi 41 perusahaan.

Baca juga: Erick Thohir: Banyak Anak Cucu BUMN Nilainya Kecil, Nyedot Kayak Benalu

Perampingan dilakukan dengan menggabungan antara BUMN atau membuat holding BUMN, seperti penggabungan Pelindo I, II, III, IV yang merupakan BUMN layanan jasa pelabuhan, serta membentuk Holding BUMN Ultra Mikro dengan menggabungkan Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PMN) ke Bank Rakyat Indonesia (BRI).

"Ada juga holding di sektor semen, perkebunan, pertambangan, hingga migas. Jadi holding-holdingnya ini sudah rapih," ujar Erick dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (2/12/2021).

Jadi benalu bagi perusahaan induk

Namun, meski jumlah BUMN sudah berkurang, Erick merasa jumlah anak-cucu perusahaan pelat merah masih terlalu gendut.

Apalagi kebanyakan anak-cucu itu tak sesuai dengan lini bisnis utama dan tak memiliki kinerja yang optimal untuk mendukung perusahaan induk.

"Masih banyak anak-cucu BUMN yang nilainya kecil-kecil, dikelola tidak maksimum. Ibaratnya ada holding dan anak-cucu ini semua nyedot terus seperti benalu di pohon," kata dia.

Baca juga: Cara Erick Thohir Mencegah Adanya Raja-raja Kecil di BUMN

"Akhirnya, nanti holdingisasi yang sudah rapih akan tersedot yang kecil-kecil, apalagi yang bukan menjadi main business-nya, seperti suplai air, suplai aspal, laundry, dan sebagainya," lanjut Erick.

Ia mencontohkan, seperti pada PT Telkom Indonesia (Persero) yang saat ini berkinerja baik dengan pendapatan sebesar Rp 106 triliun dan pangsa pasar (market cap) mencapai Rp 411 triliun.

Menurut Erick, kinerja positif itu bisa menurun jika memiliki banyak anak-cucu usaha yang tak sesuai bisnis utama Telkom. Hingga saat ini dia pun telah menutup 13 anak-cucu usaha Telkom.

"Misal seperti Telkom, kalau Telkom punya anak-cucu lagi dan ketika melihat profitnya besar, nanti disedot lagi, yang akhirnya juga bisa terjadi KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) diantara mereka, kan akhirnya jatuh," jelasnya.

Oleh karena itu, Erick memastikan, akan melepas sebagian anak-cucu BUMN yang tak sesuai dengan lini bisnis induk usahanya ke pihak swasta.

Baca juga: Erick Thohir Tutup 74 Anak-Cucu BUMN, Terbanyak dari Pertamina dan Telkom

Ia akan membuka tender terbuka kepada para pelaku usaha yang berminat untuk mengakusisi anak-cucu BUMN.

"Saya pikir lebih baik kita refocusing, yang kecil-kecil, yang tidak main business, sudahlah, kasih pengusaha daerah saja," ucapnya.

Fokus pada lini bisnis utama

Erick mengatakan, melalui penggabungan BUMN dan pengurangan jumlah anak-cucu BUMN, dirinya ingin perusahaan pelat merah menjadi besar dan berdaya saing di tingkat global.

Menurut dia, saat ini perusahaan-perusahaan BUMN dihadapkan pada 3 ancaman, yakni globalisasi pasar, disrupsi digital yang sangat berat, dan bahan baku yang masih impor, terutama di sektor kesehatan.

Erick bilang, dalam menghadapi tantangan-tantangan itu maka BUMN perlu menjadi besar dan fokus pada lini bisnis utamanya.

Ia ingin, BUMN bisa menyangga perekonomian Indonesia, termasuk menghalau serangan dari perusahaan luar negeri.

"Kami mau klaster-klaster yang ada di BUMN ini mesti jadi penyangga market dan pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap serangan luar negeri. Kita tidak anti-asing, tapi jangan sampai kita malah hanya menjadi pasar. Itu lah yang saya pikir untuk lebih baik kita refocusing," jelas dia. 

Baca juga: Ahok Soroti Kontrak BUMN, Erick Thohir: Tolong Review yang di Pertamina

74 anak-cucu BUMN ditutup

Sebelumnya, Erick pernah menyatakan, Kementerian BUMN telah menutup 74 anak-cucu perusahaan pelat merah, terbanyak berasal dari Pertamina, Telkom, dan PTPN Group.

Anak-cucu BUMN yang sudah ditutup yaitu 26 perusahaan di Pertamina, 24 perusahaan di PTPN Group, dan 13 perusahaan di Telkom.

Meski ditutup, tetapi Erick memastikan tenaga kerjanya terserap.

"Kita harus terus melakukan konsolidasi dan efisiensi jumlah dari pada BUMN, anak dan cucu itu terlalu banyak. Karena itu kita sudah menutup 74 anak dan cucu perusahaan BUMN," ujar Erick di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (1/12/2021).

Erick pun memastikan Kementerian BUMN akan terus menutup anak-cucu perusahaan pelat merah yang tidak efisien.

Baca juga: Erick Thohir Targetkan Laba Bersih BUMN Capai Rp 46 Triliun di Akhir Tahun

Oleh sebab itu, ke depan jumlah anak-cucu BUMN yang ditutup akan semakin bertambah.

"Pasti di banyak lainnya masih ada hal-hal yang tidak efisien, kita harus lakukan itu (penutupan)," kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pertagas Catatkan Kinerja Positif Sepanjang 2021, Laba Bersih Capai 127,2 Juta Dollar AS

Pertagas Catatkan Kinerja Positif Sepanjang 2021, Laba Bersih Capai 127,2 Juta Dollar AS

Rilis
Tak Naikkan BBM, Menkeu: Kas Pertamina Sudah Defisit Rp 35,28 Triliun

Tak Naikkan BBM, Menkeu: Kas Pertamina Sudah Defisit Rp 35,28 Triliun

Whats New
Rampung Pertengahan 2023, Pembangunan Makassar New Port Sudah Capai 86,9 Persen

Rampung Pertengahan 2023, Pembangunan Makassar New Port Sudah Capai 86,9 Persen

Whats New
Apa Itu Kartu Kredit: Definisi, Untung Rugi, dan Syarat Memilikinya

Apa Itu Kartu Kredit: Definisi, Untung Rugi, dan Syarat Memilikinya

Whats New
E-Toll Bakal Digantikan MLFF, BRI: Mempengaruhi Kinerja Brizzi

E-Toll Bakal Digantikan MLFF, BRI: Mempengaruhi Kinerja Brizzi

Whats New
Kejar Target Diresmikan Juni 2022, Pengerjaan Tol Cibitung-Cilincing Dikebut

Kejar Target Diresmikan Juni 2022, Pengerjaan Tol Cibitung-Cilincing Dikebut

Whats New
Lengkap, Ini Rincian Biaya Haji 2022 per Embarkasi

Lengkap, Ini Rincian Biaya Haji 2022 per Embarkasi

Spend Smart
Anggaran Bansos APBN 2022 Naik Rp 18,6 Triliun, Totalnya Jadi Rp 431,5 Triliun

Anggaran Bansos APBN 2022 Naik Rp 18,6 Triliun, Totalnya Jadi Rp 431,5 Triliun

Whats New
Cara Membuat SKCK Online 2022, Lengkap dengan Syarat dan Biayanya

Cara Membuat SKCK Online 2022, Lengkap dengan Syarat dan Biayanya

Spend Smart
Calon Investor Bertambah, Wanaartha Life Belum Sampaikan Skema Pembayaran

Calon Investor Bertambah, Wanaartha Life Belum Sampaikan Skema Pembayaran

Whats New
Tunda Rencana IPO 2 Anak Usaha, Pelindo: Kami Masih Punya Dana Besar

Tunda Rencana IPO 2 Anak Usaha, Pelindo: Kami Masih Punya Dana Besar

Whats New
Cerita Penjual Masker Pasar Pramuka: Dulu Sehari Bisa Jual Berkarton-karton, Kini 10 Boks Saja Sudah Lumayan...

Cerita Penjual Masker Pasar Pramuka: Dulu Sehari Bisa Jual Berkarton-karton, Kini 10 Boks Saja Sudah Lumayan...

Work Smart
Disetujui Jokowi, Tarif Listrik Pelanggan 3.000 VA Bakal Naik

Disetujui Jokowi, Tarif Listrik Pelanggan 3.000 VA Bakal Naik

Whats New
Gandeng Digidata, Bank BJB Permudah Verifikasi Calon Nasabah

Gandeng Digidata, Bank BJB Permudah Verifikasi Calon Nasabah

Whats New
Subsidi Gaji Rp 1 Juta untuk Pekerja Segera Cair, Ini Kriteria dan Cara Cek Penerimanya

Subsidi Gaji Rp 1 Juta untuk Pekerja Segera Cair, Ini Kriteria dan Cara Cek Penerimanya

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.