Sukses Bertahan hingga 15 Tahun, Ini Tips Soto Angkring Mas Boed dalam Menjaga Eksistensinya

Kompas.com - 15/01/2022, 12:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kisah akan kekayaan kuliner khas Nusantara memang tidak ada habisnya mulai dari makanan asli khas daerah hingga sejumlah inovasi kuliner yang dikembangkan dari resep asli yang ada.

Semarang sebagai kota dengan kekayaan kuliner yang mampu menarik wisatawan, seperti Lumpia Semarang, wingko babat, lapis legit, dan Soto Semarang, memiliki banyak sekali bisnis yang sudah terkenal kelezatannya.

Berbicara soal penganan khas Semarang yang melegenda, Soto Angkring Mas Boed patut disorot sebagai kuliner yang sudah dikenal luas sejak belasan tahun silam.

Baca juga: Tips Memulai Usaha di Tahun Baru dengan Metode ATM: Amati, Tiru, Modifikasi

Usaha ini berawal secara sederhana, dari teras rumah Djoko Boediono pada 11 Maret 2006. Saat itu, ia bersama istrinya mulai berjualan soto ayam kecil-kecilan dengan resep asli milik mereka.

General Manager Soto Angkring Mas Boed Nicko Setya Pambudhy menceritakan, soto Angkring Mas Boed ini didirikan oleh ayahnya karena ingin terjun ke bisnis kuliner.

"Awalnya beliau ingin terjun ke bisnis kuliner dan memiliki satu misi khusus, yaitu membuat rumah makan soto yang bisa menjadi ikon dari Kota Semarang. Karena di Semarang sudah banyak warung soto yang biasanya menggunakan nama sang penjual, kami mencoba mencari penggalan nama yang unik dari nama ayah saya Djoko Boediono," ujarnya dalam siaran persnya, dikutip Kompas.com, Sabtu (15/1/2022).

Akhirnya, tercetuslah nama Soto Angkring Mas Boed yang justru mudah diingat dan dikenal oleh pelanggan.

Dengan kelezatan yang ditawarkan dan ditambah dengan harga yang terjangkau, bisnis Soto Angkring Mas Boed berkembang dengan cepat, di mana tiga tahun setelahnya ia berpindah ke lokasi yang lebih luas di wilayah Banyumanik.

Pepatah ‘usaha tidak menghianati hasil’ pun dirasakan Djoko, karena bisnisnya berhasil menarik banyak langganan dari Semarang dan juga luar kota yang mendukung keberlangsungan bisnis kulinernya dari tahun ke tahun.

Di era sebelum tersedianya media sosial seperti sekarang, Djoko kerap mempromosikan usahanya dengan selembaran yang kemudian ditempelkan di pohon-pohon di area sekitar lokasi bisnisnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.