Bahlil: Proyek Batu Bara Jadi DME di Tanjung Enim Bakal Serap Belasan Ribu Tenaga Kerja Lokal

Kompas.com - 24/01/2022, 13:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Investasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia memperkirakan bakal ada 3-4 kali lipat tenaga kerja yang terserap dalam proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) yang berada di kawasan Industri Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Bahkan, Bahlil memastikan tenaga kerja yang akan dipekerjakan dalam proyek tersebut keseluruhannya merupakan pekerja lokal.

Baca juga: Proyek Hilirisasi Batu Bara Jadi DME Resmi Dibangun, Bahlil: Investasi Full dari Amerika

 

Termasuk, melibatkan pekerja dari PT Pertamina (Persero) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang keduanya merupakan pengelola dari investasi yang disalurkan oleh Air Products and Chemicals, Inc (APCI) ke Indonesia.

"Tapi kalau yang tidak langsung, kontraktornya, sub-kontraktornya, multiplier effect itu bisa tiga sampai empat kali lipat dari yang ada. Jadi, Air Products saya panggil, tenaga kerjanya 95 persen dari Indonesia," kata dia dalam Groundbreaking Proyek Hilirisasi Batu Bara Menjadi DME ditayangkan secara virtual, Senin (24/1/2022).

"Dan lima persen itu hanya masa konstruksi, masa produksinya itu melibatkan PTBA dan PT Pertamina. Lapangan pekerjaannya semuanya dari Indonesia," lanjutnya.

Baca juga: Groundbreaking Hilirisasi Batu Bara Jadi DME, Jokowi: Bisa Hemat Subsidi Elpiji Rp 7 Triliun

Bahlil menyebut, pekerjaan hilirisasi itu akan menghasilkan lapangan pekerjaan 12.000 sampai 13.000 konstruksi yang dilakukan oleh Air Products. Kemudian, kurang lebih sekitar 11.000 sampai 12.000 tenaga kerja dilakukan di hilir oleh Pertamina.

"Ditambah lagi, begitu eksisting berproduksi, lapangan pekerjaan yang tetap disiapkan sebanyak 3.000, itu yang langsung," sambung dia.

Baca juga: Gas Elpiji Akan Diganti DME, Apa Bedanya Buat Masak?

Proyek DME untuk kurangi impor

Dengan dimulainya proyek hilirisasi DME ini, dipastikan akan mengurangi substitusi impor yang rata-rata selama setahun mencapai 6-7 juta metric ton.

"Terpenting adalah hasil output dari gasifikasi ini mengurangi impor kita. Jadi impor kita ini, gas elpiji rata-rata 1 tahun 6 juta sampai 7 juta (metric ton)," sebut Bahlil.

Baca juga: Pertamina, Bukit Asam, dan Air Products Sepakati Proyek Gasifikasi Batu Bara

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.