Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Medio by KG Media
Siniar KG Media

Saat ini, aktivitas mendengarkan siniar (podcast) menjadi aktivitas ke-4 terfavorit dengan dominasi pendengar usia 18-35 tahun. Topik spesifik serta kontrol waktu dan tempat di tangan pendengar, memungkinkan pendengar untuk melakukan beberapa aktivitas sekaligus, menjadi nilai tambah dibanding medium lain.

Medio yang merupakan jaringan KG Media, hadir memberikan nilai tambah bagi ranah edukasi melalui konten audio yang berkualitas, yang dapat didengarkan kapan pun dan di mana pun. Kami akan membahas lebih mendalam setiap episode dari channel siniar yang belum terbahas pada episode tersebut.

Info dan kolaborasi: podcast@kgmedia.id

Sukma Jahe Sarabba: Kenalkan Makassar Lewat Bisnis Minuman Instan

Kompas.com - 15/02/2022, 07:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Alifia Putri Yudanti & Fandhi Gautama

UMKM adalah salah satu sektor bisnis yang memberikan kontribusi terhadap pemulihan ekonomi Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) pada Maret 2021, jumlah UMKM di Indonesia telah mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 61,07 persen atau senilai Rp 8.573,89 triliun.

Salah satu UMKM yang kini sukses dan memiliki keuntungan besar saat pandemi adalah Sukma Jahe Sarabba asal Makassar.

Rita Suryaningsih, atau yang kerap disapa Rita, mendirikan bisnis kecil ini sejak 2012. Awalnya, Rita mengaku ingin mengangkat bahan baku yang ada di daerahnya, Makassar.

Dalam siniar Smart Inspiration edisi UMKM bertajuk “Rahasia Sukma Jahe Meningkatkan Profit Kala Pandemi”, perempuan ini memiliki pengalaman yang unik dalam menentukan namanya.

Ia mengaku menciptakan nama Sukma Jahe dalam keadaan terdesak saat diminta merek dagang untuk izin edar.

“Agak dangdut sih, ya. Saya kepikirannya pas abis minum jahe kan kayak merasuk sukma. Seger. Akhirnya, dipilihlah nama itu secara mendadak,” ujar Rita sambil tertawa.

Pandemi mengubah segalanya

Pada masa awal pandemi, banyak orang yang berbondong-bondong untuk membeli makanan atau minuman peningkat imun. Hal ini juga berdampak pada jahe yang harganya naik secara drastis.

Sukma Jahe, yang menggunakan jahe sebagai bahan utamanya, juga turut terdampak. Rita mengaku bahwa harga jahe dari yang biasanya Rp 15.000, naik hingga Rp 125.000.

Lantas, ini membuatnya dilema karena tak serta-merta bisa menaikkan harga produk.

Namun, karena sudah bekerja sama dengan supplier jahe, mereka sepakat untuk tak menaikkan harga.

Pada akhirnya, niat baiknya ini berbuah manis. Justru, banyak orang yang kini mencari-cari hingga menyetok produk Sukma Jahe.

"Sebelum pandemi, orang hanya minum dan tahu aja, dan jadi produk optional. Tapi, karena pandemi, banyak yang mengonsumsi untuk masalah imun, ya. Dan, orang-orang (jadi) lebih aware dengan sarabba selain wedang, bandrek, susu jahe," tambahnya.

Dengan kolaborasi yang baik, Rita mengaku tak begitu khawatir dengan situasi pandemi. Ia juga sudah terbiasa berhadapan dengan permintaan besar. Selain itu, ia juga diuntungkan dengan bahan baku jahe yang kering.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com