BI Sebut Ada Lebih dari 20.000 Jenis Aset Kripto di Dunia

Kompas.com - 12/07/2022, 17:05 WIB

BADUNG, KOMPAS.com - Deputi Gubenrnur Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan jenis aset kripto semakin bertambah selama pandemi Covid-19. Saat ini, ada lebih dari 20.000 jenis aset kripto di dunia.

Ia mengatakan jumlah aset kripto tersebut masih akan bertambah dari tahun ke tahun, demikian juga dengan dana yang mengalir ke aset kripto.

"Mata uang digital pribadi telah merekam pertumbuhan yang luar biasa selama beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi Covid-19. Saat ini, ada lebih dari 20.000 jenis kripto di seluruh dunia," ujarnya dalam acara Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (Fekdi) di Bali, Selasa (12/7/2022).

Baca juga: IMF Nilai Penerbitan Uang Digital oleh Bank Sentral Merugikan Masyarakat dan Perbankan

Seiring dengan bertambahnya nilai kapitalisasi pasar kripto, kekhawatiran akan implikasi risiko keuangan juga semakin besar. Untuk itu berbagai bank sentral di dunia berupaya untuk menerbitkan uang digital (CBDC), termasuk BI.

Menurut Juda, CBDC berpotensi cocok untuk digunakan sebagai alat tukar yang sah dalam ekosistem terdesentralisasi dibandingkan uang kertas tradisional.

Selain itu, CBDC juga harus mampu tampil sebagai instrumen untuk mempengaruhi insentif pasar, serta untuk mengelola risiko keuangan yang muncul dari ekosistem yang terdesentralisasi.

"Dalam konteks ini, CBDC dapat memainkan peran penting bagi sistem keuangan masa depan," kata dia.

Hal ini yang menjadi motivasi kuat bank sentral menerbitkan CBDC. Berdasarkan survei BIS tahun 2021, 86 persen dari pusat responden bank secara aktif meneliti kasus potensial untuk CBDC, 60 persen di antaranya sedang dalam tahap eksperimen dan 14 persen telah menerapkan proyek percontohan.

Baca juga: IMF: Uang Digital Bank Sentral Bisa Sebabkan Krisis Keuangan

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Doni Primanto Joewono mengatakan, akhir tahun ini BI akan memasuki tahap mengeluarkan white paper (panduan) pengembangan CBDC Rupiah.

"Sekarang BI akan menerbitkan white paper dengan melakukan consultated. Saya pikir paper ini adalah langkah besar, sebelum memasuki bukti konsep dan memulai langkah (menerbitkan rupiah digital)," ujarnya dalam acara Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (Fekdi) di Bali, Selasa.

Dia menyebut, penerbitan panduan CBDC ini diperlukan karena BI melihat terdapat beberapa risiko yang harus diantisipasi sehingga dibutuhkan kerangka dan regulasi untuk mengatasinya. Selain itu, keberadaan aset kripto juga melatarbelakngi BI dalam menjajaki desain dan penerbitan CBDC.

Baca juga: Akhir Tahun, BI Terbitkan Panduan Mata Uang Digital Bank Sentral

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.