Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bos BPJS Kesehatan Tepis Fasilitas JKN Banyak Dinikmati Orang Kaya

Kompas.com - 14/12/2022, 15:09 WIB
Ade Miranti Karunia,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Gufron Mukti menepis kabar bahwa program BPJS Kesehatan banyak dimanfaatkan oleh golongan masyarakat mampu atau orang kaya.

Dalam acara Peluncuran Buku Statistik JKN 2016-2021, Ghufron memaparkan data terbaru yang belum dipublikasikan serta biaya yang dikucurkan untuk pemanfaatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Data ini belum pernah di-publish, kami sampaikan. Karena orang banyak yang tidak tahu. Dikira, BPJS (Kesehatan) ini salah alamat. Padahal, data ini menunjukkan, kami analisis 95 juta data, pemakaian BPJS (Kesehatan) terbesar itu adalah PBI. Jadi kalau ada diskusi-diskusi bahwa pihak lain bukan PBI pihak pemakai terbanyak (BPJS Kesehatan), itu salah," ungkapnya di Jakarta, Rabu (14/12/2022).

Baca juga: Iuran BPJS Kesehatan Tak Naik hingga 2024, Ini Rincian Tarifnya

Gufron menyebutkan, pengguna terbanyak fasilitas BPJS Kesehatan dari peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) sebanyak 31,93 juta. "Karena data 95 juta terbaru, yaitu 31,93 juta untuk PBI kasusnya. Ini satu tahun ya, (periode) 2021 akhir sampai dengan 2022," lanjutnya.

Soal penyerapan penggunaan BPJS Kesehatan, untuk kelompok PBI sebesar Rp 27 triliun lebih, Pekerja Penerima Upah (PPU) Rp 24 triliun dengan total kasus 28,36 juta, Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri sebesar Rp 20 triliun lebih dengan total kasus 26,24 juta pengguna, serta bukan pekerja dengan biaya penyerapan Rp 5 triliun dan jumlah kasus 8 juta lebih.

"Biaya penyerapan untuk kelompok PBI Rp 27 triliun lebih, PPU 28,36 juta kasus dengan total biaya Rp 24 triliun, PBPU atau peserta bukan penerima upah atau mandiri kasusnya 26,24 juta dengan biaya Rp 20 triliun lebih, bukan pekerja kasusnya 8,092 juta dengan biaya Rp 5 triliun," papar Gufron.

Lebih lanjut kata Gufron, BPJS Kesehatan sering dimanfaatkan oleh peserta PBI untuk mengobati penyakit jantung.

"Demikian juga siapa dan apa kasus terbanyak? Ada tentunya 10 penyakit katastropik yang terbesar adalah penyakit jantung. Siapa penyakit jantung paling terbanyak? Ini kita bacakan. Ternyata adalah PBI," ucapnya.

Baca juga: Cek Daftar 21 Penyakit yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan

Gufron kembali merinci biaya yang dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk seluruh peserta yang memanfaatkan pengobatan penyakit jantung.

"Untuk penyakit jantung, kategori PBI kasus penderitanya mencapai 4.285.518 dengan biaya Rp 3,2 triliun. PBPU sektor informal 4.098.000 dengan biaya Rp 2,9 triliun, untuk PPU BU kasusnya 1 juta lebih dengan biaya Rp 981 miliar. Untuk pegawai negeri atau PPU PN khusus penyakit jantung 1.893.620 dengan biaya Rp 1,5 triliun," paparnya lagi.

Dari realisasi tersebut, pemerintah menurutnya sudah di jalur yang tepat karena telah dinikmati golongan peserta tidak mampu. Namun demikian, dirinya akui bahw BPJS Kesehatan masih perlu ada pembenahan.

"Jadi, pemerintah, negara sudah on the right track. Jadi BPJS (Kesehatan) yang sudah bisa dirasakan tidak perlu diubah secara fundamental tetapi perlu diperbaiki," pungkas Gufron.

Baca juga: BPJS Orang Kaya Tidak Dibedakan, Begini Penjelasan Menkes

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Menperin Bantah Investasi Apple di Indonesia Batal

Menperin Bantah Investasi Apple di Indonesia Batal

Whats New
Jago Syariah Jajaki Kerja Sama dengan Fintech Lending

Jago Syariah Jajaki Kerja Sama dengan Fintech Lending

Whats New
Kolaborasi Es Krim Aice dan Teguk, Total Investasi Rp 700 Miliar

Kolaborasi Es Krim Aice dan Teguk, Total Investasi Rp 700 Miliar

Whats New
OJK: Pendapatan Premi di Sektor Asuransi Capai Rp 87,53 Triliun Per Maret 2024

OJK: Pendapatan Premi di Sektor Asuransi Capai Rp 87,53 Triliun Per Maret 2024

Whats New
Sudah Dibuka, Ini Cara Daftar Kartu Prakerja Gelombang 67

Sudah Dibuka, Ini Cara Daftar Kartu Prakerja Gelombang 67

Whats New
Barang Bawaan dari Luar Negeri Tak Lagi Dibatasi, Mendag Minta Jastiper Patuhi Aturan

Barang Bawaan dari Luar Negeri Tak Lagi Dibatasi, Mendag Minta Jastiper Patuhi Aturan

Whats New
Pasca-Lebaran, Kereta Cepat Whoosh Jadi 48 Perjalanan dengan Tarif mulai Rp 150.000

Pasca-Lebaran, Kereta Cepat Whoosh Jadi 48 Perjalanan dengan Tarif mulai Rp 150.000

Whats New
Bagaimana Aturan Perlintasan Kereta Api di Indonesia? Ini Penjelasan KAI

Bagaimana Aturan Perlintasan Kereta Api di Indonesia? Ini Penjelasan KAI

Whats New
Penempatan di IKN, Pemerintah Buka Formasi 14.114 CPNS dan 57.529 PPPK

Penempatan di IKN, Pemerintah Buka Formasi 14.114 CPNS dan 57.529 PPPK

Whats New
Daftar 8 Instansi yang Buka Lowongan CPNS 2024 Lewat Sekolah Kedinasan

Daftar 8 Instansi yang Buka Lowongan CPNS 2024 Lewat Sekolah Kedinasan

Whats New
Harga Emas Terbaru 4 Mei 2024 di Pegadaian

Harga Emas Terbaru 4 Mei 2024 di Pegadaian

Spend Smart
Mendag Sebut Rumah Potong Hewan Wajib Punya Sertifikat Halal Oktober 2024

Mendag Sebut Rumah Potong Hewan Wajib Punya Sertifikat Halal Oktober 2024

Whats New
Keluar di Gerbang Tol Ini, Bekasi-Yogyakarta Hanya 8 Jam 8 Menit

Keluar di Gerbang Tol Ini, Bekasi-Yogyakarta Hanya 8 Jam 8 Menit

Spend Smart
Harga Emas Antam: Detail Harga Terbaru pada Sabtu 4 Mei 2024

Harga Emas Antam: Detail Harga Terbaru pada Sabtu 4 Mei 2024

Spend Smart
Antisipasi Darurat Pangan, Kementan Bagikan Pompa Irigasi Gratis di Jawa Timur

Antisipasi Darurat Pangan, Kementan Bagikan Pompa Irigasi Gratis di Jawa Timur

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com