Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Hasanuddin Wahid
Sekjen PKB

Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Anggota Komisi X DPR-RI.

“Memadamkan Api” Perburuan Rente di Indonesia

Kompas.com - 26/11/2023, 15:02 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SALAH satu ciri perekonomian Indonesia dari dulu hingga sekarang adalah kuatnya aktivitas perburuan rente. Banyaknya wilayah abu-abu dalam regulasi dan pengelolaan perizinan bisnis telah menimbulkan ancaman bagi dunia usaha.

Kondisi seperti ini merupakan habitat yang sangat cocok bagi menjamurnya para pencari rente di segala sektor perekonomian Republik.

Sejatinya, perburuan rente adalah konsep dalam ilmu ekonomi yang menyatakan bahwa seseorang atau suatu entitas berusaha untuk meningkatkan kekayaannya sendiri tanpa menghasilkan manfaat atau kekayaan apa pun bagi masyarakat luas.

Kegiatan perburuan rente bertujuan memperoleh keuntungan finansial dan keuntungan lainnya melalui manipulasi distribusi sumber daya ekonomi.

Para ekonom memandang kegiatan-kegiatan seperti itu merugikan perekonomian dan masyarakat. Praktik ini mengurangi efisiensi ekonomi melalui alokasi sumber daya yang tidak efisien.

Selain itu, hal ini seringkali menimbulkan dampak negatif lainnya, seperti meningkatnya ketimpangan pendapatan, hilangnya pendapatan pemerintah, dan berkurangnya persaingan.

Perburuan rente cenderung tidak meningkatkan produktivitas kinerja. Di sisi lain, hal ini dapat menjadi alternatif produksi yang lebih mudah untuk tujuan memperoleh keuntungan finansial.

Praktik ini sangat berguna pada saat perekonomian mengalami perlambatan atau resesi ketika perusahaan tidak dapat dengan mudah meningkatkan produksi.

Selain itu, aktivitas perburuan rente juga dinilai menghambat inovasi. Daripada mengembangkan metode inovatif baru untuk menghasilkan pendapatan, perusahaan mungkin mengandalkan praktik tersebut untuk meningkatkan kekayaan mereka.

Konsep perburuan rente dikembangkan oleh ekonom Amerika Serikat, Gordon Tullock pada tahun 1967. Namun, sebetulnya istilah tersebut ditawarkan oleh Anne Osborn Krueger.

Anne Osborn Krueger adalah seorang ekonom Amerika Serikat yang pernah menjabat sebagai Kepala Ekonom Bank Dunia dari 1982 hingga 1986, dan wakil direktur pelaksana pertama Dana Moneter Internasional dari 2001 hingga 2006.

Sejatinya, istilah “rente” mengacu pada salah satu sumber pendapatan yang dikonsep oleh Adam Smith.

Menurut John Adam Smith, rente adalah aktivitas meminjamkan sumber daya miliknya sendiri dengan imbalan keuntungan tertentu dalam jumlah yang jauh lebih besar dengan risiko dan biaya yang minimal.

Perburuan rente ekonomi dan politik

Banyak orang mengira perilaku perburuan rente terjadi dalam konteks ekonomi saja.
Piotr Kozarzewski, ilmuwan politik dan guru besar pada Maria Curie-Sk?odowska University di Lublin, Rusia mengemukakan pandangan yang berbeda.

Dalam bukunya State corporate control in transition: Poland in a comparative perspective (2019: 295) ia mengatakan bahwa selain sebagai fenomena ekonomi, ada pula perilaku perburuan rente yang lebih bernuansa politis. Ia menyebutnya sebagai ‘perburuan rente politik’.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Tidak Ada 'Black Box', KNKT Investigasi Badan Pesawat yang Jatuh di BSD

Tidak Ada "Black Box", KNKT Investigasi Badan Pesawat yang Jatuh di BSD

Whats New
Investasi Rp 10 Miliar, Emiten Perhotelan KDTN Siap Ekspansi Bisnis Hotel Rest Area

Investasi Rp 10 Miliar, Emiten Perhotelan KDTN Siap Ekspansi Bisnis Hotel Rest Area

Whats New
Gandeng Binawan, RSUP dr Kariadi Tingkatkan Keterampilan Kerja Tenaga Kesehatan

Gandeng Binawan, RSUP dr Kariadi Tingkatkan Keterampilan Kerja Tenaga Kesehatan

Whats New
Stok Beras Pemerintah Capai 1,85 Juta Ton

Stok Beras Pemerintah Capai 1,85 Juta Ton

Whats New
Luncurkan Starlink di Indonesia, Elon Musk Sebut Ada Kemungkinan Investasi Lainnya

Luncurkan Starlink di Indonesia, Elon Musk Sebut Ada Kemungkinan Investasi Lainnya

Whats New
Lahan Kering di RI Besar, Berpotensi Jadi Hutan Tanaman Energi Penghasil Biomassa

Lahan Kering di RI Besar, Berpotensi Jadi Hutan Tanaman Energi Penghasil Biomassa

Whats New
Riset IOH dan Twimbit Soroti Potensi Pertumbuhan Ekonomi RI Lewat Teknologi AI

Riset IOH dan Twimbit Soroti Potensi Pertumbuhan Ekonomi RI Lewat Teknologi AI

Whats New
Cara Cek Penerima Bansos 2024 di DTKS Kemensos

Cara Cek Penerima Bansos 2024 di DTKS Kemensos

Whats New
IHSG Melemah 50,5 Poin, Rupiah Turun ke Level Rp 15.978

IHSG Melemah 50,5 Poin, Rupiah Turun ke Level Rp 15.978

Whats New
Dari Hulu ke Hilir, Begini Upaya HM Sampoerna Kembangkan SDM di Indonesia

Dari Hulu ke Hilir, Begini Upaya HM Sampoerna Kembangkan SDM di Indonesia

Whats New
Disebut Jadi Penyebab Kontainer Tertahan di Pelabuhan, Ini Penjelasan Kemenperin

Disebut Jadi Penyebab Kontainer Tertahan di Pelabuhan, Ini Penjelasan Kemenperin

Whats New
Perbankan Antisipasi Kenaikan Kredit Macet Imbas Pencabutan Relaksasi Restrukturisasi Covid-19

Perbankan Antisipasi Kenaikan Kredit Macet Imbas Pencabutan Relaksasi Restrukturisasi Covid-19

Whats New
KKP Tangkap Kapal Ikan Berbendera Rusia di Laut Arafura

KKP Tangkap Kapal Ikan Berbendera Rusia di Laut Arafura

Whats New
Defisit APBN Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran Dipatok 2,45 Persen-2,58 Persen

Defisit APBN Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran Dipatok 2,45 Persen-2,58 Persen

Whats New
Bos Bulog Sebut Hanya Sedikit Petani yang Manfaatkan Jemput Gabah Beras, Ini Sebabnya

Bos Bulog Sebut Hanya Sedikit Petani yang Manfaatkan Jemput Gabah Beras, Ini Sebabnya

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com