Salin Artikel

TikTok Jadi Sasaran Boikot di India

KOMPAS.com - Konflik perbatasan yang menewaskan 20 tentara India memicu kemarahan publik di negara itu. Seruan boikot produk China semakin nyaring di seantero negeri.

Salah satu yang disasar yakni aplikasi jejaring sosial video sharing milik konglomerat asal China Zhang Yiming dan perusahaannya, ByteDance.

Menteri Persatuan India, Ramdas Athwale, telah meminta pelarangan aplikasi TikTok sebagai bagian dari sanksi ekonomi yang menyasar perusahaan-perusahaan asal Negeri Tirai Bambu.

"Orang-orang di India menggunakan TikTok yang hanya memberikan untung untuk China. Hentikan TikTok untuk memberikan dampak ekonomi pada China. Saya dengan rendah hati meminta semua warga India untuk memboikot TikTok," tegas Athwale dikutip dari India TV, Senin (22/6/2020).

Pasca-bentrokan berdarah yang menewaskan 20 tentara India, publik India menyerukan boikot pada produk buatan China. Wacana memulai perang dagang dengan China juga mulai dibahas.

Kemarahan terhadap China di berbagai kota dilakukan dengan membakar bendera dan barang buatan China di jalanan.

Di lini masa, tagar #BoycottChineseProducts juga jadi trending di India. Sebagian besar warganet India mendesak aksi boikot barang made in China.

Athwale sebelumnya juga meminta masyarakat tak pergi ke restoran yang menjual makanan China tanpa pengecualian, meski pemiliknya maupun kokinya adalah seorang warga negara India. Seruan boikot juga menggema untuk mencegah warga India membeli barang elektronik dari pabrikan China.

Kendati demikian, memboikot produk China di India dianggap banyak kalangan malah akan merugikan ekonomi nasional negara itu. Ini karena India begitu bergantung pada barang impor dari Tiongkok.

Sepanjang tahun 2019-2020, perdagangan dengan China berkontribusi sebesar 10,6 persen dari seluruh neraca perdagangan India, atau yang terbesar kedua setelah perdagangan dengan Amerika Serikat (AS). Sebaliknya bagi China, perdagangan dengan India hanya menyumbang 2,1 persen, sehingga tak terlalu siginifikan pengaruhnya bagi China.

Selama bertahun-tahun India juga memandang, China sebagai patner dagang vital. Sebaliknya bagi China, India tak memegang peran terlalu siginifikan dan komoditas impor dari India masih bisa digantikan negara lain.

Menurut data United National Conference on Trade and Development (UNCTAD) di tahun 2018, sebesar 15,3 persen barang impor yang ada di India berasal dari China. Sementara barang impor di China yang didatangkan dari India hanya sebesar 5,1 persen.

Dilansir dari Timesoft India, menabuh genderang perang dagang dengan China malah akan jadi bencana pada ekonomi India. Apalagi, negara ini sangat bergantung pada China untuk rantai pasok global, salah satunya pasokan bahan kimia untuk bahan baku industri obat yang harus dibeli dari China.

India selama ini dikenal sebagai salah satu produsen farmasi terbesar dunia. Kekurangan bahan baku dari China bisa membuat ekspor obat India anjlok.

Selain itu, New Delhi ini juga tak bisa lepas dari investasi China. Perang dagang dengan Beijing, tentu bisa membuat investasi luar negeri di India merosot.

Total ada lebih dari 225 perusahaan besar China yang berinvestasi langsung di India sepanjang tahun 2003 hingga 2020. Investor terbesar asal China yakni perusahaan telekomunikasi seperti Huawei dan Xiaomi.

Beberapa perusahaan raksasa lainnya dari China juga tengah menjajaki penambahan nilai investasi di India, termasuk membangun basis produksi. Mereka adalah ZTE, Benling, Dezan Shira, Wafangdian, dan Vivo.

Di luar itu, India sebelum pandemi virus corona, juga mendapatkan keuntungan sangat besar dari lonjakan turis asing dari China.

India juga sulit melepaskan dari ketergantungan pada barang-barang murah dari China. Perang dagang dengan China bisa memicu kalangan menengah ke bawah dalam kondisi sulit.

Selama ini, warga miskin di India banyak menggunakan produk-produk China yang lebih terjangkau. Mereka juga sangat sensitif dengan harga.

Contoh saja produk pendingin ruangan, warga menengah dan menengah bawah di India bakal kesulitan jika harus mengganti AC buatan China dengan pabrikan Jepang dan Barat yang harganya jauh lebih mahal.

"Kita harus bisa mandiri sebisa mungkin, tetapi kita tidak bisa memisahkan dari dunia. India harus terus mempertahankan diri menjadi bagian dari rantai pasokan global dan tidak memboikot barang-barang dari China," kata pemimpin Kongres India, Chidambaram dikutip dari Livemint.

https://money.kompas.com/read/2020/06/22/175614326/tiktok-jadi-sasaran-boikot-di-india

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.