Salin Artikel

Indonesia dan Kedirgantaraan

Bom atom yang untuk pertamakalinya digunakan dalam perang telah membunuh dengan seketika lebih dari 350.000 orang yang sebagian besar warga sipil. Ribuan bahkan mungkin ratusan ribu lainnya terdampak radiasi nuklir dari senjata pemusnah masal itu.

Bulan Agustus itu juga Jepang “menyerah” dan perang dunia kedua berhenti. Selanjutnya, momentum itu telah memberikan peluang bagi Indonesia untuk menjadi negara yang merdeka. Republik Indonesia memproklamirkan Kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Bulan Januari tahun 1962 terjadi pertempuran Laut Aru dalam kerangka operasi pembebasan Irian Barat. Konvoi armada laut Indonesia dihadang kekuatan udara Belanda. Korban pun berjatuhan antara lain Komodor Yos Sudarso.

Pelajaran mahal dari sebuah operasi laut yang tidak menyertakan kekuatan udara sebagai pelindung atau air cover. Tiga kapal Angkatan Laut masing masing KRI Harimau, KRI Matjan Tutul, dan KRI Matjan Kumbang yang sedang bergerak di seputaran Laut Aru diserang Belanda menggunakan pesawat terbang jenis Neptune.

Kekuatan laut tanpa kekuatan udara sebagai pelindung tidak dapat menghindar dari sasaran kekuatan udara musuh, bahkan telah menjadi sasaran empuk pesawat Belanda. Operasi senyap dari satuan Angkatan Laut tersebut ternyata sama sekali tidak diketahui sejak perencanaan hingga pelaksanaannya oleh Angkatan Udara Republik Indonesia.

Pada tanggal 3 Juli tahun 2003 telah terjadi penerbangan tanpa izin Angkatan Laut Amerika Serikat di Kawasan Bawean. Tidak seperti peristiwa sejenis lainnya yang kerap terjadi, peristiwa Bawean di publikasikan media, dalam hal ini Harian Kompas pada keesokan hari setelah kejadian. Berikut ini kutipannya:

Lima Pesawat F-18 AS Bermanuver di Bawean .
Lima pesawat tempur F-18 Hornet Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dipergoki oleh sebuah pesawat penumpang di atas utara pulau Bawean, Jawa Timur, Kamis (3/7/2003) sore. Pilot pesawat penumpang kemudian melaporkan temuannya itu kepada menara Surabaya dan Jakarta. Radar Bandar Udara Juanda maupun Soekarno Hatta secara bersamaan juga menangkap adanya kelima pesawat tempur tersebut di lokasi yang sama. Sumber Kompas semalam mengungkapkan, kelima jet tempur AS yang berasal dari salah satu kapal induk yang sedang konvoi dengan sejumlah kapal perang di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) itu ketika berpapasan dengan pesawat penumpang tersebut sedang melakukan manuver dengan bebas di atas wilayah udara Republik Indonesia.

Menurut sumber tadi papasan dadakan itu terjadi sekitar pukul 15.00. Laporan yang diberikan pilot pesawat penumpang tersebut kemudian langsung disampaikan kepada Komandan Pertahanan Udara Nasional. Ditambahkan, pihak TNI Angkatan Udara (AU) juga menangkap pergerakan pesawat-pesawat AL AS tersebut. Namun, belum jelas apakah ada pesawat yang dikirim oleh TNI AU ke Lokasi Bawean. Sumber juga menyebutkan bahwa manuver jet-jet tempur F-18 itu berlangsung sekitar dua jam.

Namun, dia tidak bisa memberi keterangan macam apa manuver-manuver yang dilakukan oleh kelima Hornet yang sedang mengawal konvoi kapal perang AS tersebut. Juga belum jelas ke wilayah mana konvoi itu sedang menuju. Namun kuat dugaan, kapal -kapal tersebut sedang menuju ke Timur Tengah menuju perairan Irak (ds).

Selanjutnya yang terjadi adalah 2 pesawat F-16 Angkatan Udara melakukan intersepsi sebagai langkah peringatan kepada pesawat terbang Angkatan Laut Amerika Serikat itu sesuai prosedur yang berlaku. Wilayah Udara Nasional memang membutuhkan sebuah kekuatan udara yang mengawal kedaulatan negara di udara.

Berikutnya, belakangan ini tersiar kabar tentang hiruk pikuk Maskapai Penerbangan Garuda. Amat disayangkan maskapai penerbangan kebanggaan bangsa ini kerap menghadapi kesulitan keuangan. Juga amat disayangkan pada setiap kali mengalami kesulitan keuangan tidak pernah terdengar dilakukan investigasi tentang mengapa sampai bisa terjadi kesulitan keuangan.

Sebuah masalah yang agak sulit masuk akal, karena Garuda selama ini selalu melayani rute rute gemuk di dalam negeri dan juga menguasai rute penerbangan haji dan umroh setiap tahun.

Sejatinya, Garuda tidak hanya berperan sebagai jejaring penerbangan pemersatu bangsa akan tetapi juga pemasok pendapatan negara bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.

Maskapai penerbangan Garuda harus dilihat pula sebagai bagian utuh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengingat perjalanan sejarah saat di awal awal tahun kemerdekaan Indonesia.

Demikian pula ketika menghadapi operasi Trikora, Dwikora, dan Timor Timur, peranan Garuda sebagai Bala Cadangan kekuatan udara nasional terukir dalam sejarah perjalanan perjuangan bangsa. Garuda berperan sebagai sub sistem dari sistem pertahanan keamanan rakyat semesta.

Itulah beberapa catatan kedirgantaraan yang melekat pada perjalanan bangsa Indonesia sejak kemerdekaan di tahun 1945. Mulai dari momentum proklamasi kemerdekaan setelah Jepang menyerah, pengalaman mahal dan berharga saat mengelola kekuatan udara pada peristiwa Aru dan Bawean sampai dengan peran maskapai penerbangan pembawa Bendera Merah Putih.

Kedirgantaraan yang bersinggungan tidak hanya pada masalah masalah kesejahteraan akan tetapi mencakup juga mengenai keamanan nasional.

https://money.kompas.com/read/2021/11/16/060900126/indonesia-dan-kedirgantaraan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cek Daftar Pinjol Legal 2022 Terbaru, Jumlahnya Jadi 102

Cek Daftar Pinjol Legal 2022 Terbaru, Jumlahnya Jadi 102

Whats New
Tekan Harga Minyak Goreng Jadi Rp 14.000, Bulog Diminta Cadangkan Pasokan

Tekan Harga Minyak Goreng Jadi Rp 14.000, Bulog Diminta Cadangkan Pasokan

Whats New
Dilema Negara Hadapi Ketidakpastian Global, Kendalikan Inflasi atau Jaga Momentum Pemulihan Ekonomi

Dilema Negara Hadapi Ketidakpastian Global, Kendalikan Inflasi atau Jaga Momentum Pemulihan Ekonomi

Whats New
BPJT: MLFF Diterapkan Bertahap di Beberapa Ruas Tol Akhir 2022

BPJT: MLFF Diterapkan Bertahap di Beberapa Ruas Tol Akhir 2022

Whats New
Video Viral Denda Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan Rp 30 Juta, Ini Solusi dan Syarat untuk Meringankan Peserta

Video Viral Denda Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan Rp 30 Juta, Ini Solusi dan Syarat untuk Meringankan Peserta

Whats New
Sektor Teknologi Masih Tertekan, Bagaimana Prospek Saham GOTO dan BUKA?

Sektor Teknologi Masih Tertekan, Bagaimana Prospek Saham GOTO dan BUKA?

Earn Smart
Alasan Ekspor Minyak Goreng Dicabut: Harganya Sudah Turun Jadi Rp 17.200

Alasan Ekspor Minyak Goreng Dicabut: Harganya Sudah Turun Jadi Rp 17.200

Whats New
Rupiah dan IHSG Menguat pada Penutupan Sesi I Perdagangan

Rupiah dan IHSG Menguat pada Penutupan Sesi I Perdagangan

Whats New
Lanjutkan Skema Pembayaran Prioritas, Nasabah Wanaartha Life Belum Puas

Lanjutkan Skema Pembayaran Prioritas, Nasabah Wanaartha Life Belum Puas

Whats New
Sri Mulyani Sebut RI Waspada Potensi Stagflasi, Apa Dampaknya ke Ekonomi?

Sri Mulyani Sebut RI Waspada Potensi Stagflasi, Apa Dampaknya ke Ekonomi?

Whats New
Dukung Net Zero Emission, PT SMI Gunakan Mobil Listrik

Dukung Net Zero Emission, PT SMI Gunakan Mobil Listrik

Rilis
Pemerintah Sebaiknya Pastikan Waktu Pembayaran Kompensasi ke Pertamina

Pemerintah Sebaiknya Pastikan Waktu Pembayaran Kompensasi ke Pertamina

Whats New
3.463 Unit Rumah Telah Selesai Dibangun dan Dihuni Korban Bencana di Sulawesi Tengah

3.463 Unit Rumah Telah Selesai Dibangun dan Dihuni Korban Bencana di Sulawesi Tengah

Rilis
Larangan Ekspor CPO Dicabut, Pemerintah Kembali Berlakukan Aturan DMO dan DPO

Larangan Ekspor CPO Dicabut, Pemerintah Kembali Berlakukan Aturan DMO dan DPO

Whats New
NIK Bakal Jadi NPWP Mulai Tahun Depan

NIK Bakal Jadi NPWP Mulai Tahun Depan

Whats New
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.