Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Krisis Pangan Global, Ancaman Lebih Besar dari Invasi Rusia ke Ukraina

INVASI Rusia ke Ukraina diketahui berdampak langsung ke pasokan energi terutama di kawasan Uni Eropa. Namun, ada ancaman global lebih fundamental yang kini mengintip pula, yaitu krisis pangan. 

Ancaman terhadap keamanan pasokan pangan global ini pun tak semata dari komoditas dan produk pangan yang sebelumnya sudah kerap disebut mengandalkan pasokan dari Rusia dan Ukraina, seperti gandum. 

Justru, ancaman lebih besar datang dari komponen pupuk yang dipakai petani di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. 

Fakta dasar

Harga pupuk adalah salah satu yang langsung melejit begitu Rusia menginvasi Ukraina. Menurut Ken Seitz, bos di perusahaan pupuk Nutrien Ltd, invasi ini mengganggu pasokan global untuk kalium dan nitrogen. 

"Situasi ini juga meninggalkan ketidakpastian tentang kemampuan Rusia untuk melakukan ekspor," kata Seitz, seperti dikutip Wall Street Journal, Selasa (29/3/2022). 

Rusia dan Belarus adalah negara penghasil kalium terbesar kedua dan ketiga di dunia. Lalu, Rusia adalah pengekspor terbesar nitrogen dunia pada 2019, dengan cakupan 17 persen pasar global. Belum lagi, Rusia juga adalah pengekspor terbesar ketiga fosfat. 

Bahan-bahan tersebut merupakan bahan baku pupuk, untuk banyak tanaman pangan, apalagi padi. Harian Kompas edisi 15 November 1974, misalnya, dalam tulisan berjudul Kamus Pupuk merinci bahwa padi butuh nitrogen, fosfor,  dan kalium sebagai unsur hara utama. 

Untuk memenuhi kebutuhan unsur hara, padi jenis unggul butuh pemupukan. Sebagai ilustrasi, padi unggul menghasilkan satu ton beras tiap hektare bila tidak ada pemupukan, sementara pemupukan akan membantu memberikan hasil 4,5 ton per beras per hektare.

Kapasitas produksi tanaman pangan dan proporsinya atas luas lahan bisa jadi berubah seiring perkembangan teknologi bibit, pertanian, dan pupuk. Namun, kurang lebih fakta bahwa pupuk secara umum membantu peningkatan kapasitas produksi tidaklah berubah dan menjadikannya krusial.

Ekonom senior Cobank—bank koperasi pemberi pinjaman sektor pertanian—memperkirakan bahwa harga pupuk bisa makin meroket ketika perusahaan dan penjual ritel mulai memborong pupuk menjelang musim tanam di sejumlah negara karena ketakutan soal pasokan.

Ini belum lagi memperhitungkan bahwa harga gas alam yang sudah melonjak—sebagai dampak awal yang langsung terpantau dari invasi Rusia ke Ukraina—turut mempengaruhi lonjakan biaya produksi pupuk.

Nutrien, perusahaan berbasis di Kanada, mengatakan pada Februari 2022 bahwa penjualan kalium mereka pada tahun ini diperkirakan mencapai 13,7-14,3 juta metrik ton, naik dari 13,6 juta metrik ton penjualan mereka pada 2021. 

Harga saham produsen pupuk seperti Nutrien, Mosaic Co, dan CF Industries Holdings Inc, terpantau naik lebih dari 10 persen dalam sepekan terakhir. 

“Antara konflik Ukraina-Rusia dan sanksi Belarus, banyak pasokan pupuk yang terancam," kata juru bicara Mosaic, seperti dikutip Wall Street Journal, Selasa, sekalipun mengakui situasinya tetap akan dinamis seturut perkembangan situasi invasi itu sendiri.

Proyeksi UNCTAD

Proyeksi imbas invasi Rusia ke Ukraina terhadap rantai pasokan pupuk dunia ini menambah panjang daftar dampak konflik tersebut ke urusan hajat hidup orang banyak. 

Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (United Nations Conference on Trade and Development atau UNCTAD), misalnya, dalam laporan yang dirilis pada 16 Maret 2022 sudah menyebut bahwa invasi Rusia ke Ukraina berdampak atas duo F, yaitu food alias pangan dan fuel atau bahan bakar.

Khusus untuk pangan dan produk turunan pangan, UNCTAD menyebut Rusia dan Ukraina memasok 53 persen pasokan dunia untuk minyak dan benih bunga matahari, serta 27 persen pangsa pasar gandum.

Meski tidak merinci lebih jauh, UNCTAD sudah menyinggung pula bahwa Rusia adalah pemasok utama produk kimia termasuk untuk pupuk, sebagaimana posisinya juga sebagai pemasok utama produk logam dan kayu.

Dampaknya, Indonesia juga terimbas walaupun relatif tak sebesar yang dirasakan banyak negara lain. Bila berkelanjutan, invasi Rusia ke Ukraina dikhawatirkan memicu bola salju krisis pangan, meski tidak seketika dari transaksi dagang komoditas dan atau produk jadi.

Muncul juga di Dewan Keamanan PBB

Ancaman krisis pangan sudah pula mencuat di Dewan Keamanan PBB, Selasa (29/3/2022). Tak hanya itu, krisis pangan ini pun ditengarai bakal memicu kelaparan di banyak negara.

Presiden Rusia Vladimir Putin memulai perang ini. Vladimir Putin menciptakan krisis pangan global ini. Dan dialah yang dapat menghentikannya," kata Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman, seperti dikutip AFP, Selasa.

Menurut Wendy, Rusia dan Putin yang harus dituding bertanggung jawab atas perang di Ukraina dan efeknya terhadap keamanan pangan global. 

Duta Besar Perancis untuk PBB, Nicolas de Riviere, di forum yang sama menambahkan bahwa risiko kelaparan di seluruh dunia akibat invasi Rusia ini akan menempatkan negara berkembang sebagai yang pertama terkena dampaknya. 

"(Namun), Rusia tidak diragukan lagi akan mencoba membuat kami percaya bahwa sanksi yang diterapkan terhadapnyalah yang menciptakan ketidakseimbangan dalam situasi keamanan pangan dunia," ujar de Riviere.

Duta Besar Moskwa untuk PBB Vassily Nebenzia memang membantah tudingan bahwa Rusia memicu ancaman pangan global dan kelaparan ini. Menurut dia, gejolak di pasar pangan global merupakan histeria atas sanksi yang dijatuhkan ke negaranya.

Merespons situasi ini, Uni Eropa pada Jumat (25/3/2022) mengumumkan inisiatif untuk meminimalisasi kekurangan pangan akibat perang Rusia-Ukraina. Bersama Amerika Serikat, Uni Eropa menginginkan ada komitmen internasional untuk pembatasan ekspor bahan mentah pertanian.

Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan Joyce Msuya mengatakan konflik di Ukraina memunculkan ancaman krisis kemanusiaan seperti di Afghanistan, Yaman, dan di Afrika akan memburuk, di kondisi yang sekarang sudah berhadapan dengan kerawanan pangan. 

Internal Rusia pun khawatir

Bahkan pengusaha terkaya di Rusia, Senin (28/3/2022), khawatir perang di Ukraina ini bila berkepanjangan akan menghadirkan krisis pangan global. Karenanya mereka meminta perang ini segera dihentikan.

Krisis pangan, kata mereka, bisa terjadi karena saat ini harga pupuk sudah terlalu tinggi bagi kebanyak petani.

Salah satu orang kaya Rusia yang menyuarakan ini adalah Andrei Melnichenko, pengusaha batu bara dan pupuk. Bersamanya ada juga Mikhail Fridman, Pyotr Aven, dan Oleg Deripaska.

“Peristiwa di Ukraina benar-benar tragis. Kami sangat membutuhkan perdamaian,” kata Melnichenko, warga negara Rusia kelahiran Belarus dan beribu orang Ukraina, seperti dikutip Reuters.

“Sebagai orang Rusia berdasarkan kebangsaan, Belarusia sejak lahir, dan Ukraina karena darah, saya merasa sangat sakit dan tidak percaya menyaksikan saudara-saudara berjuang dan sekarat.”

Pupuk yang terancam

Produsen pupuk berbasis di Norwegia, Yara International (YAR.OL), Selasa (1/3/2022), dalam pernyataannya mengatakan bahwa situasi di Ukraina menempatkan dunia di posisi terancam krisis pangan tanpa alternatif pengganti dalam jangka pendek. 

Tak hanya dari rantai distribusi bahan kimianya, pupuk juga terancam oleh lonjakan harga gas alam. Pupuk berbasis nitrogen butuh gas alam dalam proses pembuatannya.

Sebagai gambaran awal, Yara menyebut bahwa 25 persen pasokan bahan pupuk bagi Eropa berasal dari Rusia. Meski lagi-lagi tidak seketika berdampak bagi Indonesia, kekosongan pasokan dengan persentase itu bisa diyakini bakal berdampak ke harga dan akan sampai juga ke Indonesia.

"Dengan kondisi geopolitik yang tidak seimbang, sumber bahan baku terbesar untuk (keperluan) produksi pangan Eropa dibatasi, dan tidak ada alternatif jangka pendek," kata Yara dalam sebuah pernyataan.

Perusahaan Norwegia ini, yang merupakan salah satu produsen pupuk terbesar di dunia, memasok sektor pertanian Ukraina dan merupakan pembeli besar bahan mentah seperti fosfat dan kalium dari Rusia.

David Beasley, Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP), beberapa waktu lalu menyatakan pula bahwa invasi Rusia ke Ukraina akan berdampak dramatis bagi organisasi yang menjangkau 120 juta orang terkait pemenuhan kecukupan pangan.

Beasley mengatakan, biaya makanan, bahakan bakar, dan ongkos kirim akan melonjak, yang ini menurut unggahan dia di Twitter merupakan sebuah bencana mutlak. 

"Salah satu potensi konsekuensi (dari situasi di Ukraina) adalah bahwa hanya yang paling istimewa dari populasi dunia yang bakal mendapatkan akses ke makanan yang cukup," kata Yara, sebagaimana dikutip Reuters.

Dalam jangka pendek, kenaikan harga pangan bisa saja berdampak positif, terutama dilihat dari sisi pendapatan keuntungan. Namun, tren tersebut juga memperlihatkan sistem pangan tidak berkelanjutan, yang itu akan mengarah kepada kelaparan dan konflik jangka panjang. 

"Oleh karena itu, penting bagi komunitas internasional untuk bersatu dan bekerja untuk mengamankan produksi pangan dunia dan mengurangi ketergantungan pada Rusia, meskipun jumlah alternatif saat ini terbatas," kata Yara.

Harga pupuk naik tajam di bulan-bulan terakhir 2021, mengikuti melonjaknya biaya gas alam. Hal ini pada gilirannya menyebabkan harga pangan yang lebih tinggi, yang dapat menyebabkan kelaparan bagi populasi yang paling rentan, seperti yang dalam pernyataan Yara sempat terjadi pada Oktober 2021. 

Bos Yara, Svein Tore Holsether, kepada BBC menyebut situasi masih berpeluang menjadi makin sulit. Dia menyebutkan bahwa setengah populasi dunia mendapatkan makanan dari (bantuan) pupuk.

Artinya, bila pasokan pupuk terganggu oleh situasi di Ukraina, maka hasil tanaman pangan pun diperkirakan bakal susut 50 persen. 

"Bagi saya, ini bukan soal apakah kita sedang bergerak ke dalam krisis pangan global, melainkan soal seberapa besar krisis itu nantinya," tegas Holsether seperti dikutip BBC pada 7 Maret 2022.

Tanpa ada invasi Rusia ke Ukrania saja, perubahan iklim dan pertumbuhan penduduk sudah menjadi tantangan bagi sistem pangan global, bahkan sebelum pandemi Covid-19. Situasi di Ukraina menambah tingkat kerawanan pangan terutama di negara-negara paling miskin.

"Kita harus ingat bahwa dalam dua tahun terakhir, ada peningkatan 100 juta lebih banyak orang yang pergi tidur dalam keadaan lapar," ujar dia. 

Naskah: KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI

Catatan: Konten harian Kompas yang dicuplik dalam tulisan ini dapat diakses publik melalui layanan Kompas Data. 

https://money.kompas.com/read/2022/03/30/193228426/krisis-pangan-global-ancaman-lebih-besar-dari-invasi-rusia-ke-ukraina

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke