Mandiri Syariah akan IPO Tahun 2020, Ini Alasannya

Kompas.com - 12/03/2019, 08:11 WIB
Petugas Bank Mandiri Syariah melayani calon jemaah haji melakukan pelunasan Biaya Penyelenggaran Ibadah Haji (BPIH) di Kantor Cabang Mandiri Syariah Area Bekasi, di Bekasi, Jawa Barat, Senin (16/4/2018). ANTARA/Risky AndriantoPetugas Bank Mandiri Syariah melayani calon jemaah haji melakukan pelunasan Biaya Penyelenggaran Ibadah Haji (BPIH) di Kantor Cabang Mandiri Syariah Area Bekasi, di Bekasi, Jawa Barat, Senin (16/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Syariah Mandiri atau Mandiri Syariah berencana melakukan initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana di lantai bursa pada 2020. Direktur Finance and Strategy Ade Cahyo Nugroho mengatakan, penawaran saham secara terbuka dilakukan untuk menambah suntikan modal mereka.

"Salah satunya itu memperkuat permodalan BSM supaya punya CAR yang cukup buat permodalan ke depan," ujar Cahyo di Jakarta, Senin (11/3/2019).

Per Desember 2018, CAR Mandiri Syariah mencapai 16,26 persen atau tumbuh 0,37 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut Cahyo, nilai CAR tersebut masih di bawah rata-rata perbankan lainnya.

Saat ini Mandiri Syariah masih mempersiapkan diri dari segi permodalan hingga kinerja perusahaan.

Baca juga: Tahun Ini, Mandiri Syariah Fokus Pengembangan Digital Banking

Untuk kinerja sendiri, capaian sepanjang 2018 cukup menggembirakan. Laba bersih tumbuh 65,7 persen menjadi Rp 605 miliar. Diikuti dengan peningkatan Fee Based Income sebesar 19,4 persen menjadi Rp 1,13 triliun pada 2018.

Sumber laba perusahaan yang juga tumbuh cukup besar yakni dari pertumbuhan pendapatan margin bagi hasil bersih yang tumbuh 5,52 persen menjadi Rp 7,69 triliun.

Pertumbuhan margin bagi hasil bersih tersebut didorong oleh pertumbuhan dan perbaikan kualitas pembiayaan. Selain itu, pengendalian biaya overhead naik 7,6 persen dan laba operasional tumbuh 9,53 persen.

"Secara umum 2018 sudah bagus, 2019 insya Allah bisa lebih bagus," kata Cahyo.

Ke depannya, Mandiri Syariah juga akan mendongkrak return on equity (ROE) menjadi double digit. Saat ini, angka ROE mash di bawah 10 persen, sekitar 8,2 persen.

"2019 targetnya di atas 10 persen. Didrive sama laba, kualitasnya juga harus membaik," kata Cahyo.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X