Cerita Bupati Anas, Membangun Banyuwangi dengan Pariwisata Hijau

Kompas.com - 02/07/2019, 10:39 WIB
Bupati Banyuwangi, Abdulah Azwar Anas, usai membahas pengembangan wisata cokelat di Banyuwangi, Minggu (21/4/2019). Dok KemenparBupati Banyuwangi, Abdulah Azwar Anas, usai membahas pengembangan wisata cokelat di Banyuwangi, Minggu (21/4/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pihaknya mendongkrak perekonomian daerahnya dengan mendorong sektor pariwisata.

Berkat pembangunan pariwisata, Anas berhasil menekan angka kemiskinan di Banyuwangi yang sebelumnya di atas 15 persen, kini tinggal 7 persen.  Selain itu peningkatan pendapatan daerah juga melonjak 134 persen.  Sementara produk domestik bruto juga mengalami kenaikan dari Rp 32 triliun, menjadi Rp 78 triliun.

Kemudian pendapatan perkapita rakyat Banyuwangi naik dari Rp 20,8 juta  menjadi Rp 48,7 juta.

Meski mengedepankan pariwisata, Azwar tetap menjaga keselarasan alam dan kepentingan masyarakat.

Baca juga: Pemerintah Bedah Dampak Mahalnya Tiket Pesawat ke Pariwisata

Misalnya, dia tidak mengizinkan pembangunan hotel di sekitar pantai- pantai yang indah.

“Kenapa? Kalau semua pantai yang indah dibangun hotel, ke depan rakyat tidak punya akses ke pantai yang indah. Dan rakyat akan teraleanasi dari keindahan pantai,” tutur Anas dalam sebuah acara yang dihelat Bank Dunia di Jakarta, Senin (1/7/2019).

Sebagai gantinya, dia mengizinkan pembangunan home stay di beberapa pantai. Home stay tersebut juga dimiliki oleh para petani dan nelayan di sekitar pantai.

Homestay kami bekerja sama dengan Traveloka, dengan beberapa sistem transaksi online, dan sudah bisa di booking online. Dan dimiliki oleh petani dan nelayan di sekitar garis pantai,” ucap Anas.

Ia pun melakukan menggarap pantai Bangsring sebagai tempat wisata underwater andalan sekaligus menjadi salah satu tempat konservasi.

“Dulu, terumbu karang disana banyak yang hancur, sekarang para turis berdatangan sambil menanam terumbu karang di sana. Tempat itu menjadi bersih, ribuan orang dagang, dulu orang mengambil ikan untuk beli roti, skarang orang bawa roti untuk memberi makan ikan, karena ikannya tumbuh sangat banyak ditempat itu. Sehingga tempat ini sekarang menjadi konservasi,” ujarnya.

Abdullah mengatakan, pendekatan berbasis rakyat ini membawa hasil yang cukup besar. Hal ini merupakan bagian penting yang akan terus mereka kerjakan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X