10 Persen Perdagangan Indonesia Telah Gunakan Mata Uang Yuan China

Kompas.com - 25/07/2019, 14:33 WIB
Ilustrasi. ThinkstockIlustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengatakan, saat ini 10 persen perdagangan Indonesia telah menggunakan mata uang yuan atau renminbi China. Bahkan, perkiraan ini akan terus meningkat di tahun-tahun berikutnya.

"Konon sekitar 10 persen perdagangan Indonesia telah menggunakan renminbi. Memang belum ada angka atau data pasti, tapi ke depannya diperkirakan penggunaan yuan akan terus meningkat di RI," kata Dino di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Terlebih, kata Dino, saat ini China telah menjadi mitra dagang RI terbesar, 2 kali lipat lebih besar dari total perdagangan dengan AS. Saat ini, besaran perdagangan Indonesia-China sudah menyentuh angka 72 miliar dollar AS.

 

Baca juga: China Bakal Terapkan Bea Masuk Anti-Dumping untuk Produk Baja RI

Dalam 2-3 tahun ke depan, diperkirakan angkanya menyentuh 109 miliar dollar AS.

"Makanya Tiongkok menawarkan menggunakan yuan dibanding dollar AS, karena risikonya memang lebih kecil, sementara kalau dollar risikonya ditambah. Fluktuasi dollar juga cukup tinggi," ujar Dino.

"Yang jelas, pengaruh renminbi makin besar. Contohnya mata uang euro misalnya, sekarang sudah tergantung dan terpengaruh pada pertukaran dollar renminbi. Jadi kalau renminbi naik, dollar naik," ucapnya.

Baca juga: Apindo Sarankan Transaksi Perdagangan Gunakan Yuan China

Namun, Dino tak memungkiri penggunaan dollar AS akan tergantikan dengan renminbi dalam jangka pendek. Pasalnya, sebagian perdagangan internasional memang menggunakan dollar. Terlebih dollar lebih bebas dan terbuka ketimbang renminbi yang terkontrol oleh China.

"Tapi terkait manfaatnya akan lebih banyak atau tidak dibanding kerugian, itu volatilitasnya reminbi lebih stabil dibanding dollar. Jadi, dari segi cost transaksi memang lebih aman," ungkap dia.

Adapun penggunaan yuan memang telah dipromosikan selama 10 tahun terakhir oleh Bank of China. Di Indonesia sendiri, pertumbuhannya begitu pesat terutama pada nilai kliring.

Pada tahun 2018, nilai kliring yuan telah mencapai 201,2 miliar yuan atau sekitar 63 persen dari seluruh pasar Indonesia. Besarnya nilai kliring membawa Bank of China mempertahankan pangsa pasar nomor 1 di Indonesia dalam nilai kliring.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X