Asosiasi: Jumlah Pabrik Rokok Turun dalam 6 Tahun Terakhir

Kompas.com - 17/09/2019, 18:02 WIB
Ilustrasi rokok ShutterstockIlustrasi rokok

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah akan menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen pada tahun 2020. Tak hanya itu, harga jual eceran (HJE) rokok juga akan dinaikkan sebesar 35 persen.

Ketua Gabungan Pengusaha Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) Muhaimin Moeftie menjelaskan, terkait penerapan cukai rokok tersebut, industri rokok mengalami tren yang stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, kata dia, trennya cenderung menurun.

"Pertumbuhan produksi sejak 2016 adalah negatif setiap tahunnya dengan kisaran -1 hingga -2 persen. Tahun 2018 hanya tersisa 456 pabrikan dari 1.000 pabrik rokok yang ada di tahun 2012," jelas Moeftie dalam keterangannya, Selasa (17/9/2019).

Di samping itu, Moeftie menyebut pihaknya melihat kecenderungan pasar yang kian sensitif terhadap harga, di mana mayoritas konsumen lebih memilih rokok-rokok value for money dengan kisaran harga Rp 15.000 – Rp 20.000.

Baca juga: Cukai Rokok Naik 23 Persen, Ini 3 Alasannya...

"Kenaikan drastis sebesar 23 persen dan HJE 35 persen di tahun 2020 akan kian menghimpit kondisi industri. Kami tidak akan memiliki ruang bergerak yang cukup untuk menciptakan inovasi produk yang diperlukan untuk menghidupkan industri ini," ujarnya.

Adapun soal rencana kenaikan cukai rokok, Moefti mengaku pihaknya ingin pemerintah membuka pintu diskusi dan bersikap transparan kepada pelaku industri.

Sebelumnya diberitakan, pemerintah memutuskan menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen mulai 1 Januari 2020. Ini berdasarkan rapat yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, ada tiga hal mengapa pemerintah akhirnya memutuskan untuk menaikkan cukai rokok.

"Satu, tahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar," ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Baca juga: Industri Keberatan Cukai Rokok Naik 23 Persen, Ini Kata Menko Darmin

"Kemudian yang kedua cukai itu kan (alasan) objektifnya ada beberapa. Satu adalah urusan menurunkan konsumsi, kenapa, ya karena alasan kesehatan," sambungnya.

Alasan ketiga yakni karena urusan penerimaan negara. Pemerintah meyakini kenaikan cukai akan mengdongkrak penerimaan negara.

Hal ini dinilai penting karena pemerintah membutuhkan banyak dana untuk pembiayaan anggaran di APBN 2020.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X