Teknologi Digital dan Kecerdasan Buatan Hanya Ancaman buat Pekerjaan Manusia?

Kompas.com - 20/09/2019, 18:15 WIB
Forum Advance Intelligence Huawei Connect 2019, Shanghai, China, Rabu (18/9/2019) KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANIForum Advance Intelligence Huawei Connect 2019, Shanghai, China, Rabu (18/9/2019)

 

Untuk aplikasi, Huawei akan mengembangkan ekosistem dan membantu para pengembang aplikasi untuk membuat lebih banyak berkarya bagi beragam komunitas dan industri.

Soal kemampuan menggunakan teknologi (skill), Huawei berjanji terus menggandeng pemerintahan, komunitas, dan berbagai sektor lain untuk meningkatkan skill digital masyarakat.

“Kita harus punya tujuan yang jelas jika kita ingin menebar yang kita miliki untuk menciptakan nilai,” tegas Ken.

Wujud nyata dari inisiatif tersebut, Huawei telah berkontribusi di bidang kesehatan, dengan memanfaatkan teknologi untuk mempermudah akses bagi lebih banyak orang ke sumber daya kesehatan yang lebih baik.

Di bidang pendidikan, Huawei mendorong dan membantu mewujudkan penggunaan teknologi bagi perempuan dan remaja yang selama ini tidak cukup mendapatkan akses pendidikan apalagi teknologi seperti di Bangladesh.

Adapun terkait pembangunan, inisiatif Tech4All berwujud upaya menghilangkan kesenjangan di beragam sektor, bisnis, wilayah, dan kelompok. Demikian pula soal lingkungan hidup, Huawei memberikan kesempatan kepada lembaga nirlaba untuk lebih efisien dalam melindungan dan melakukan konservasi lingkungan menggunakan bantuan teknologi.

Dalam sesi Tech4All di Huawei Connect 2019, di antara para pelaku yang hadir adalah dokter dan startup yang bisa merancang algoritma pendeteksi kelainan mata pada anak-anak.

Bekerja di Spanyol, DIVE dan IIS Aragon digandeng Huawei untuk membuat aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang dapat mendeteksi sedini mungkin kelainan mata pada anak, baik untuk membantu kualitas hidup anak-anak ini maupun untuk menyelamatkan nyawa mereka akibat kelainan yang dibawa sejak lahir tersebut.

“Aplikas ini disebut Track AI, bekerja di ponsel Huawei P30. Orangtua yang terlatih pun dapat memakai aplikasi ini untuk mendeteksi kelainan mata pada anaknya laiknya dokter ahli. Pendekatan ini lebih cepat, sederhana, dan efisien, dengan benefit yang diperkirakan dapat menyelamatkan 19 juta kasus kelainan mata pada anak,” ungkap Ken.

Lalu, ada juga aktivis lingkungan yang merakit ponsel dan catu daya berbasis surya untuk memantau bebunyian di hutan untuk mendeteksi illegal logging. Organisasi yang digandeng adalah Rainfores Connection (RFCx). Pengembangan bersama Huawei membuat aplikasi dan alat rakitan RFCx dapat mengenali bunyi gergaji yang sedang memotong pepohonan dan truk pengangkut batangan kayu ilegal.

“Tahun depan, ada 6.000 kilometer persegi hutan tropis dapat ikut mendapat benefit dari upaya ini,” ungkap Ken.

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X