Ternyata, UKM Lebih Suka Jualan di Medsos Ketimbang E-commerce

Kompas.com - 02/10/2019, 13:18 WIB
Ilustrasi artisteerIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Di era digital seperti saat ini, rupanya ada yang unik dalam perilaku Usaha Kecil dan Menengah ( UKM) dalam memilih platform jualan online.

Berdasarkan survei terbaru perusahaan rintisan logistik Paxel tahun 2019, UKM di Indonesia yang berjualan online rupanya lebih banyak mengandalkan media sosial seperti Whatsapp dan Instagram ketimbang e-commerce atau marketplace.

COO Paxel Zaldy Ilham Masita mengatakan, hasil survei yang diikuti oleh lebih dari 535 penjual online ini merupakan pandangan baru dan perubahan perilaku dalam bisnis di era digital, yang belum pernah disurvei oleh pemerintah RI.

"Ada perubahan behavior dari UKM-UKM kita. Data Bank Indonesia menyebut ada kenaikan bisnis online 150 persen, tapi hanya e-commerce. Tapi yang di medsos belum pernah disurvei. Makanya hasil survei ini adalah suatu fenomena baru," kata Zaldy Ilham Masita di Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Baca juga: E-commerce Apa yang Pimpin Pasar Indonesia?

Survey tersebut mencatat, 33 persen dari 535 responden berbisnis kurang dari 1 tahun (beginner seller), 33 persen responden sudah berbisnis lebih dari 1 hingga 2 tahun (experienced seller), dan 34 persen responden sudah berbisnis lebih dari 2 tahun (veteran seller).

Dari kategori tersebut , 87 persen responden menggunakan lebih dari satu platform, umumnya mengombinasikan media sosial dan situs e-commerce.

Kendati menggunakan lebih dari 1 platform, Whatsapp dan Instagram merajai penjualan online.

COO Paxel Zaldi Ilham Masita dan UKM Penjual online Gabriella Citra dalam pemaparan survei terbaru Paxel di Jakarta, Rabu (2/10/2019)KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA COO Paxel Zaldi Ilham Masita dan UKM Penjual online Gabriella Citra dalam pemaparan survei terbaru Paxel di Jakarta, Rabu (2/10/2019)

Media sosial yang paling banyak digunakan adalah Whatsapp dengan persentasi 84 persen, diikuti Instagram 81 persen, e-commerce Shopee 53 persen, Facebook 36 persen, Tokopedia 29 persen, dan Bukalapak 18 persen.

Dari hasil survei tersebut, Zaldi mengatakan UKM memilih media sosial karena berbagai alasan, salah satunya media sosial lebih akrab di kehidupan sehari-hari.

Baca juga: KKP Dorong UKM Go Digital agar Mampu Bersaing dan Hadapi Tantangan

Pun lebih mudah digunakan bagi penjual online yang baru memulai bisnis, yang mungkin belum memiliki kapasitas setingkat pengusaha veteran.

"Mereka pertama mulai itu melalui media sosial. dan setelah mulai berjalan dan demand-nya besar, mereka baru scale up dengan membuka (toko) di e-commerce. Biasanya yang menggunakan e-commerce adalah yang sudah lebih siap order dengan kapasitas yang lebih besar. Mungkin juga secara infrastruktur (e-commerce) jauh lebih rumit," ucapnya.

Pernyataan Zaldy diamini oleh salah satu UKM penjual makanan online asal Bandung, Gabriella Citra.

Dalam kesempatan yang sama, Gabriella mengatakan berjualan di Instagram adalah yang paling mudah.

"Apalagi, kalau pakai e-commerce uangnya enggak langsung masuk ke (rekening) aku. Setelah si pembeli menerima barang dan memberi report, baru ditransfer. Kalau lewat Instagram dan order by WA uangnya langsung masuk. Jadi lebih cepat perputarannya," kata Gabriella.

Alasan lainnya, kebanyakan sistem endorse untuk menarik pembeli berada di Instagram sehingga dia menganggap Instagram lebih mudah menarik pembeli.

"Aku pakai sistem endorse yang biasanya memang lewat Instagram," tuturnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X