Kompas.com - 04/03/2020, 06:51 WIB
Pengumuman stok masker kosong terpasang di salah satu kios di Pasar Pramuka, Jakarta, Senin (2/3/2020). Harga masker dan hand sanitizer di sentra alat kesehatan tersebut mengalami lonjakan dari 600 persen hingga 1.400 persen akibat permintaan konsumen yang meningkat drastis setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga Kota Depok positif terinfeksi virus corona. ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRAPengumuman stok masker kosong terpasang di salah satu kios di Pasar Pramuka, Jakarta, Senin (2/3/2020). Harga masker dan hand sanitizer di sentra alat kesehatan tersebut mengalami lonjakan dari 600 persen hingga 1.400 persen akibat permintaan konsumen yang meningkat drastis setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga Kota Depok positif terinfeksi virus corona.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Adanya dua kasus corona di Indonesia membuat masker banyak diburu orang sehingga harganya melambung.

Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Guntur Saragih mengimbau masyarakat tidak usah panik. Sebab salah satu yang mempengaruhi tingginya harga masker adalah kepanikan warga.

"Kami mengimbau tidak panik. Tingginya permintaan semata-mata tidak hanya karena meningkatnya kebutuhan. Bisa jadi ada faktor panik sehingga terjadi pembelian melebihi konsumsi," kata Guntur di Jakarta, Selasa (3/3/2020).

Baca juga: KPPU Sudah Meneliti Lonjakan Harga Masker, Ini Hasilnya

Dia berharap konsumen bertindak cerdas dalam menghadapi wabah virus corona yang mulai masuk ke Indonesia. Karena suplai maupun produksi masker tidak bisa meningkat dalam waktu singkat.

"Pastinya suplai tidak bisa meningkat dalam waktu singkat, sehingga kami berharap masyarakat tidak melakukan kepanikan dalam hal bertransaksi," ucap dia.

Sementara itu, Direktur Ekonomi KPPU Zulfirmansyah menjelaskan melambungnya harga masker selama beberapa hari ini masih disebabkan karena adanya peningkatan permintaan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: KPPU: Pengusaha Naikkan Harga Masker, Bisa Denda hingga Rp 25 Miliar

Sedangkan dalam level pemasok utama, seperti produsen, distributor, dan importir, KPPU hingga saat ini tidak menemukan adanya pelanggaran baik kartel maupun penimbunan.

"Kami undang importir dan beberapa produsen. Kami lakukan penelitaan di seluruh Kanwil dan di Jabodetabek. Hasil datanya memang memperlihatkan stok yang berkurang dan tingginya demand," ucap Zulfirmansyah.

Sementara bila ditemukan pelaku usaha yang menaikkan harga masker, pelaku usaha tersebut bisa didenda hingga sebesar Rp 25 miliar karena melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli.

Baca juga: Luhut: Pemerintah Tidak Pernah Menutupi Kasus Corona

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.