IMF: Kerugian Akibat Virus Corona Akan Capai 9 Triliun Dollar AS

Kompas.com - 15/04/2020, 13:02 WIB
IMF shutterstock.comIMF
Penulis Mutia Fauzia
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan kerugian akibat pandemi virus corona (covid-19) akan mencapai 9 triliun dollar AS pada 2020-2021, atau setara Rp 144.000 triliun (kurs Rp 16.000 per dollar AS).

Angka tersebut, jauh lebih besar dari gabungan Produk Domestik Bruto (PDB) Jerman dan Jepang.

Di dalam keterangan tertulisnya, Ekonom dan Direktur Riset IMF Gita Gopinath mengatakan, tidak ada satupun negara yang selamat dari krisis yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Baca juga: KSPI: Pemberian Izin Operasi Perusahaan Besar Berlawanan dengan Kebijakan PSBB

Negara-negara yang perekonomiannya sangat bergantung pada layanan pariwisata hingga hiburan bakal mengalami disrupsi yang hebat.

Adapun negara berkembang bakal mengalami tekanan terhadap perekonomian mereka akibat arus keluar modal asing akibat meningkatnya risiko perekonomian global, selain itu juga mengalami tekanan mata uang.

"Negara-negara berkembang dalam waktu yang bersamaan juga harus menghadapi sistem kesehatan yang lemah, serta ruang fiskal yang terbatas untuk meningkatkan dukungan terhadap layanan kesehatan," ujar Gopinath dalam keterangannya yang dikutip Kompas.com, Rabu (15/4/2020).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: MTI: Jangan Ojol Terus yang Jadi Anak Emas

Beberapa negara dengan kondisi perekonomian yang sudah lemah pun akan tertekan oleh tingkat utang yang tinggi.

IMF menyebut krisis yang terjadi tahun ini sebagai Great Lockdown lantaran banyak negara yang menerapkan karantina besar-besaran untuk menanggulangi penyebaran virus.

Hal tersebut mengakibatkan aktivitas ekonomi kolaps dan belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah dunia.

Baca juga: Skenario Terberat Corona, Ini Dampaknya ke Angka Kemiskinan dan Pengangguran

IMF pun memproyeksi perekonomian global tahun ini akan mengalami kontraksi hingga -3 persen, lebih rendah 6,3 persen poin dari proyeksi yang dilakukan IMF pada Januari 2020 lalu.

"Ini membuat Great Lockdown merupakan resesi terburuk sejak Depresi Besar (1930-an), dan jauh lebih parah dari Krisis Keuangan Global (2009)," ujar Gopinath.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak Depresi Besar, baik negara berkembang maupun negara maju bakal jatuh ke dalam jurang resesi.

Baca juga: Kapan Hasil Kelulusan Seleksi Kartu Prakerja Gelombang I Diumumkan?

Untuk negara-negara dengan perekonomian maju, pertumbuhan ekonomi diproyeksi bakal mengalami kontraksi hingga 6,1 persen.

Sementara pasar negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang umumnya lebih tinggi dari negara maju juga diproyeksi bakal tumbuh negatif di kisaran -1 persen di 2020, atau bahkan hingga -2,2 persen jika tidak memasukkan China ke dalam hitungan.

"Pendapatan per kapita akan merosot di 170 negara. Baik negara maju dan berkembang baru akan mengalami masa pemulihan pada 2021," jelas IMF.

Baca juga: Luhut: Soal Said Didu, Itu Urusan Anak Buah Saya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.